Rabu, 06 Mei 2015

Psikoterapi Tugas II

TERAPI KELOMPOK

  1. Pengertian Terapi Kelompok
Terapi Kelompok adalah terapi yang mengobati pasien psikoneurotik dalam kelompok kecil (biasanya 6 sampai 8 orang). Terapi kelompok dilakukan untuk membentuk perubahan terhadap klien, khususnya perubahan perilaku di dalam kelompok. Perubahan diarahkan kepada segala bentuk perilaku atau kebiasaan dari klien yang dianggap tidak bisa diterima atau tidak diharapkan oleh kelompoknya. Orang-orang yang terlibat di dalamnya adalah orang-orang yang memiliki kemampuan untuk memberikan pengaruh terhadap klien. Mereka adalah orang yang terlatih dan terbiasa dengan kebiasaan-kebiasaan yang diharapkan oleh kelompoknya. Proses yang dilakukan dalam memberikan pengaruh adalah melalui interaksi yang dibangun di dalam kelompok. Partisipan (anggota yang sudah dilatih) mampu memberikan pengaruh yang kuat mengenai perilaku-perilaku yang diharapkan, sehingga klien mendapatkan pemahaman mengapa perilaku yang sudah menjadi kebiasaannya dianggap tidak diharapkan kelompok. Terapi ini lebih ekonomis dibandingkan dengan psikoterapi individual dan mempunyai keuntungan bagi pasien dengan kesulitan interpersonal dan sosial yang jelas.

  1. Cara Melakukan Terapi Kelompok
Tahap-tahap dalam melakukan terapi kelompok adalah:
a.       Tahap Intake
Tahap ini ditandai oleh adanya pengakuan mengenai masalah spesifik yang mungkin tepat dipecahkan melalui terapi kelompok. Kesadaran ini mungkin dihasilkan dari pengungkapan masalah oleh klien sendiri atau berdasarkan hasil dari menelaah situasi yang dialami klien oleh terapis. Tahap intake disebut juga sebagai tahap kontrak antara terapis dengan klien, karena pada tahap ini terdapat persetujuan dan komitmen antara terapis dan klien untuk melakukan kegiatan-kegiatan perubahan tingkah laku melalui terapi kelompok.
b.      Tahap Assesmen dan Perencanaan Intervensi
Pemimpin kelompok bersama dengan anggota kelompok mengidentifikasi permasalahan, tujuan-tujuan kelompok serta merancang rencana tindakan pemecahan masalah. Tahap ini tidaklah definitif, karena hakekat kelompok senantiasa berjalan secara dinamis sehingga memerlukan penyesuaian tujuan-tujuan dan rencana intervensi.
c.       Tahap Penyeleksian Anggota
Penyeleksian anggota harus dilakukan terhadap orang-orang yang paling mungkin mendapatkan manfaat dari keterlibatannya dalam kelompok. Faktor-faktor seperti usia, jenis kelamin, dan stasus sosial perlu dipertimbangkan dalam tahap ini. Minat dan ketertarikan individu terhadap kelompok juga penting diperhatikan, karena anggota yang memiliki perasaan positif terhadap kelompok akan terlibat dalam berbagai kegiatan kelompok secara teratur.
d.      Tahap Pengembangan Kelompok
Norma-norma, harapan-harapan, nilai-nilai dan tujuan-tujuan kelompok akan muncul dalam tahap ini sehingga dapat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh aktivitas serta relasi yang berkembang dalam kelompok. Oleh karena itu, pada tahap ini terapis memegang peranan penting untuk dapat membantu kelompok mencapai tujuan.
e.       Tahap Evaluasi dan Terminasi
Evaluasi merupakan proses yang dinamis dan berkelanjutan, karenanya evaluasi tidak selalu dilakukan pada tahap akhir suatu kegiatan. Evaluasi merupakan pengidentifikasian atau pengukuran terhadap proses dan hasil kegiatan kelompok secara menyeluruh bukan hanya keberhasilan kelompok yang dilakukan pada setiap phase. Berdasarkan hasil evaluasi, maka dilakukanlah terminasi atau pengakhiran kelompok. Terminasi dilakukan berdasakan pertimbangan dan alasan mengenai tujuan individu maupun kelompok tercapai, waktu yang ditetapkan telah berakhir, kelompok gagal mencapai tujuan-tujuannya, serta keberlanjutan kelompok dapat membahayakan satu atau lebih anggota kelompok.
                                                       
  1. Manfaat Terapi Kelompok
a.       Dapat meningkatkan identitas diri, kemampuan ekspresi diri, kepercayaan diri, kemampuan empati, dan keterampilan hubungan sosial yang dapat diterapkan untuk kehidupan sehari-hari.
b.      Dapat meningkatkan kesadaran tentang hubungan antara reaksi emosional diri sendiri dengan perilaku defensive dan adaptasi serta mampu membentuk sosialisasi.

Selain itu, terdapat faktor atau aspek yang berperan terhadap perubahan yang dialami individu dalam terapi kelompok (keuntungan terapi kelompok):
a.       Instilling hope (membangkitkan harapan) sebagian diperantarai dengan menemui yang lain yang dapat maju dengan masalahnya, dan dengan dukungan emosional yang dapat diberikan oleh kelompok.
b.      Universalitas merujuk pada pasien yang mulai menyadari bahwa bukan ia sendiri yang mempunyai masalah, dan bahwa perjuangannya adalah dengan membagi atau sedikitnya dapat dimengerti oleh orang lain.
c.       Imparting information (memberi informasi) dapat berkisar dari memberikan informasi tentang gangguan seseorang terhadap umpan balik langsung tentang perilaku orang dan pengaruhnya terhadap anggota kelompok lainnya.
d.      Altruisme dapat dialami karena anggota memberikan dukungan satu sama lain dan menyumbangkan ide mereka, bukan hanya menerima ide dari yang lainnya.
e.       Terdapat Corrective recapitulation of the primary family (rekapitulasi korektif dari keluarga primer) yang untuk kebanyakan pasien merupakan problematik. Baik terapis maupun anggota lainnya dapat menjadi resipien reaksi transferensi yang kemudian dapat dilakukan.
f.       Pengembangan keterampilan sosial lebih jauh dan kemampuan untuk menghubungkan dengan yang lainnya merupakan kemungkinan. Pasien dapat memperoleh umpan balik dan mempunyai kesempatan untuk belajar dan melatih cara baru berinteraksi.
g.      Identifikasi, Imitative Behavior (perilaku imitatif), dan modeling dapat dihasilkan dari terapis atau anggota lainnya memberikan model peran yang baik.

  1. Kasus-kasus yang Diselesaikan dalam Terapi Kelompok
-          Siswa yang mengalami kesulitan belajar.
-          Pecandu alkohol, obat-obatan terlarang dan rokok.
-          Kecemasan.
-          Frustasi, depresi dan halusinasi.
-          Untuk permasalahan emosional dan phobia.
-          Permasalahan isolasi sosial atau menarik diri.

  1. Cari dan Rangkum Satu Contoh yang Menggambarkan Terapi Kelompok
Dalam penelitian yang telah dilakukan oleh Hasriana, Nur, dan Angraini (2013) pada pasien di rumah sakit khusus daerah provinsi Sulawesi Selatan yang mengalami isolasi sosial atau menarik diri, dimana isolasi sosial adalah gangguan hubungan interpersonal yang terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel, sehingga menimbulkan perilaku maladaptif dan mengganggu fungsi seseorang dalam berhubungan yang bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh terapi aktivitas kelompok sosialisasi terhadap kemampuan pasien berinteraksi sosial.
Sebelum dilakukan terapi kelompok, semua responden kurang mampu berinteraksi sosial hal ini disebabkan karena tidak adanya tindakan atau stimulus yang dilakukan yang dapat mengubah pola perilaku yang maladaptive serta lingkungan yang kurang terapeutik seperti pasien yang terlalu banyak berada didalam ruang perawatan dan terkadang mendapatkan tekanan-tekanan dari sesama pasien.
Dari hasil penelitian yang ada, terdapat pengaruh terapi kelompok sosialisasi terhadap kemampuan pasien dalam berinteraksi sosial dan pasien yang sudah dilakukan terapi kelompok sebagian besar telah mampu bersosialisasi. Hal ini dikarenakan dalam proses terapi kelompok, pasien mendapatkan kesempatan untuk belajar cara berinteraksi sosial, yaitu memperkenalkan diri pada anggota kelompok, cara berkenalan dengan orang lain, bercakap-cakap dengan orang lain, dan melakukan kegiatan sehari-hari. Dengan melakukan kegiatan tersebut, pasien dilatih untuk tidak menarik diri dan pasien akan mampu melakukan interaksi dengan orang lain. Selain itu, dengan  bercakap-cakap maka akan terjadi distraksi yaitu fokus perhatian pasien akan beralih untuk dapat beraktivitas karena dengan beraktivitas klien tidak akan mengalami banyak waktu luang yang biasanya digunakan untuk menyendiri yang berakibat pasien menarik diri.



Daftar Pustaka:
Guze, B., Richeimer, S., & Siegel, D. J. (1997). Buku saku psikiatri. Jakarta: EGC.
Handout Psikoterapi oleh Erik S. Hutahaean.
Handout Psikoterapi oleh Rini Indryawati.
Hasriana., Nur M., & Angraini, S. (2013). Pengaruh terapi aktivitas kelompok sosialisasi terhadap kemampuan bersosialisasi pada klien isolasi sosial menarik diri di rumah sakit khusus daerah provinsi Sulawesi Selatan. Jurnal. 2, (6), 74-79.
Ingram, I. M., Timbury, G. C., & Mowbray, R. M. (1993). Catatan kuliah psikiatri. Jakarta: EGC.
Sarlito, S. W. (2009). Pengantar psikologi umum. Jakarta: Rajagrafindo Persada.

Suharto, E. (2007). Pekerjaan sosial di dunia industry: Memperkuat CSR (corporate social responsibility. Bandung: ALFABETA.