TERAPI KELOMPOK
- Pengertian Terapi
Kelompok
Terapi Kelompok adalah terapi
yang mengobati pasien psikoneurotik dalam kelompok kecil (biasanya 6 sampai 8
orang). Terapi kelompok dilakukan untuk membentuk perubahan terhadap klien,
khususnya perubahan perilaku di dalam kelompok. Perubahan diarahkan kepada
segala bentuk perilaku atau kebiasaan dari klien yang dianggap tidak bisa
diterima atau tidak diharapkan oleh kelompoknya. Orang-orang yang terlibat di
dalamnya adalah orang-orang yang memiliki kemampuan untuk memberikan pengaruh
terhadap klien. Mereka adalah orang yang terlatih dan terbiasa dengan kebiasaan-kebiasaan
yang diharapkan oleh kelompoknya. Proses yang dilakukan dalam memberikan
pengaruh adalah melalui interaksi yang dibangun di dalam kelompok. Partisipan
(anggota yang sudah dilatih) mampu memberikan pengaruh yang kuat mengenai
perilaku-perilaku yang diharapkan, sehingga klien mendapatkan pemahaman mengapa
perilaku yang sudah menjadi kebiasaannya dianggap tidak diharapkan kelompok.
Terapi ini lebih ekonomis dibandingkan dengan psikoterapi individual dan
mempunyai keuntungan bagi pasien dengan kesulitan interpersonal dan sosial yang
jelas.
- Cara Melakukan
Terapi Kelompok
Tahap-tahap dalam melakukan terapi kelompok adalah:
a.
Tahap Intake
Tahap ini ditandai oleh
adanya pengakuan mengenai masalah spesifik yang mungkin tepat dipecahkan
melalui terapi kelompok. Kesadaran ini mungkin dihasilkan dari pengungkapan
masalah oleh klien sendiri atau berdasarkan hasil dari menelaah situasi yang
dialami klien oleh terapis. Tahap intake disebut
juga sebagai tahap kontrak antara terapis dengan klien, karena pada tahap ini
terdapat persetujuan dan komitmen antara terapis dan klien untuk melakukan
kegiatan-kegiatan perubahan tingkah laku melalui terapi kelompok.
b.
Tahap Assesmen
dan Perencanaan Intervensi
Pemimpin kelompok
bersama dengan anggota kelompok mengidentifikasi permasalahan, tujuan-tujuan
kelompok serta merancang rencana tindakan pemecahan masalah. Tahap ini tidaklah
definitif, karena hakekat kelompok senantiasa berjalan secara dinamis sehingga
memerlukan penyesuaian tujuan-tujuan dan rencana intervensi.
c.
Tahap Penyeleksian
Anggota
Penyeleksian anggota
harus dilakukan terhadap orang-orang yang paling mungkin mendapatkan manfaat
dari keterlibatannya dalam kelompok. Faktor-faktor seperti usia, jenis kelamin,
dan stasus sosial perlu dipertimbangkan dalam tahap ini. Minat dan ketertarikan
individu terhadap kelompok juga penting diperhatikan, karena anggota yang
memiliki perasaan positif terhadap kelompok akan terlibat dalam berbagai
kegiatan kelompok secara teratur.
d.
Tahap
Pengembangan Kelompok
Norma-norma,
harapan-harapan, nilai-nilai dan tujuan-tujuan kelompok akan muncul dalam tahap
ini sehingga dapat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh aktivitas serta relasi
yang berkembang dalam kelompok. Oleh karena itu, pada tahap ini terapis
memegang peranan penting untuk dapat membantu kelompok mencapai tujuan.
e.
Tahap Evaluasi
dan Terminasi
Evaluasi merupakan
proses yang dinamis dan berkelanjutan, karenanya evaluasi tidak selalu
dilakukan pada tahap akhir suatu kegiatan. Evaluasi merupakan
pengidentifikasian atau pengukuran terhadap proses dan hasil kegiatan kelompok
secara menyeluruh bukan hanya keberhasilan kelompok yang dilakukan pada setiap
phase. Berdasarkan hasil evaluasi, maka dilakukanlah terminasi atau pengakhiran
kelompok. Terminasi dilakukan berdasakan pertimbangan dan alasan mengenai
tujuan individu maupun kelompok tercapai, waktu yang ditetapkan telah berakhir,
kelompok gagal mencapai tujuan-tujuannya, serta keberlanjutan kelompok dapat
membahayakan satu atau lebih anggota kelompok.
- Manfaat Terapi
Kelompok
a.
Dapat
meningkatkan identitas diri, kemampuan ekspresi diri, kepercayaan diri, kemampuan
empati, dan keterampilan hubungan sosial yang dapat diterapkan untuk kehidupan
sehari-hari.
b.
Dapat
meningkatkan kesadaran tentang hubungan antara reaksi emosional diri sendiri
dengan perilaku defensive dan
adaptasi serta mampu membentuk sosialisasi.
Selain itu, terdapat
faktor atau aspek yang berperan terhadap perubahan yang dialami individu dalam
terapi kelompok (keuntungan terapi kelompok):
a.
Instilling hope (membangkitkan harapan) sebagian diperantarai dengan menemui yang lain yang
dapat maju dengan masalahnya, dan dengan dukungan emosional yang dapat
diberikan oleh kelompok.
b.
Universalitas merujuk
pada pasien yang mulai menyadari bahwa bukan ia sendiri yang mempunyai masalah,
dan bahwa perjuangannya adalah dengan membagi atau sedikitnya dapat dimengerti
oleh orang lain.
c.
Imparting information (memberi informasi) dapat berkisar dari memberikan informasi tentang
gangguan seseorang terhadap umpan balik langsung tentang perilaku orang dan
pengaruhnya terhadap anggota kelompok lainnya.
d.
Altruisme
dapat dialami karena anggota memberikan dukungan satu sama lain dan
menyumbangkan ide mereka, bukan hanya menerima ide dari yang lainnya.
e.
Terdapat Corrective recapitulation of the primary
family (rekapitulasi korektif dari keluarga primer) yang untuk kebanyakan
pasien merupakan problematik. Baik terapis maupun anggota lainnya dapat menjadi
resipien reaksi transferensi yang kemudian dapat dilakukan.
f.
Pengembangan keterampilan sosial lebih jauh dan kemampuan untuk menghubungkan dengan
yang lainnya merupakan kemungkinan. Pasien dapat memperoleh umpan balik dan
mempunyai kesempatan untuk belajar dan melatih cara baru berinteraksi.
g.
Identifikasi, Imitative Behavior (perilaku imitatif),
dan modeling dapat dihasilkan dari
terapis atau anggota lainnya memberikan model peran yang baik.
- Kasus-kasus yang
Diselesaikan dalam Terapi Kelompok
-
Siswa yang
mengalami kesulitan belajar.
-
Pecandu alkohol,
obat-obatan terlarang dan rokok.
-
Kecemasan.
-
Frustasi,
depresi dan halusinasi.
-
Untuk
permasalahan emosional dan phobia.
-
Permasalahan isolasi
sosial atau menarik diri.
- Cari dan Rangkum
Satu Contoh yang Menggambarkan Terapi Kelompok
Dalam penelitian yang
telah dilakukan oleh Hasriana, Nur, dan Angraini (2013) pada pasien di rumah
sakit khusus daerah provinsi Sulawesi Selatan yang mengalami isolasi sosial
atau menarik diri, dimana isolasi sosial adalah gangguan hubungan interpersonal
yang terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel, sehingga
menimbulkan perilaku maladaptif dan mengganggu fungsi seseorang dalam
berhubungan yang bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh terapi aktivitas
kelompok sosialisasi terhadap kemampuan pasien berinteraksi sosial.
Sebelum dilakukan
terapi kelompok, semua responden kurang mampu berinteraksi sosial hal ini
disebabkan karena tidak adanya tindakan atau stimulus yang dilakukan yang dapat
mengubah pola perilaku yang maladaptive serta lingkungan yang kurang terapeutik
seperti pasien yang terlalu banyak berada didalam ruang perawatan dan terkadang
mendapatkan tekanan-tekanan dari sesama pasien.
Dari hasil penelitian
yang ada, terdapat pengaruh terapi kelompok sosialisasi terhadap kemampuan
pasien dalam berinteraksi sosial dan pasien yang sudah dilakukan terapi
kelompok sebagian besar telah mampu bersosialisasi. Hal ini dikarenakan dalam
proses terapi kelompok, pasien mendapatkan kesempatan untuk belajar cara
berinteraksi sosial, yaitu memperkenalkan diri pada anggota kelompok, cara
berkenalan dengan orang lain, bercakap-cakap dengan orang lain, dan melakukan
kegiatan sehari-hari. Dengan melakukan kegiatan tersebut, pasien dilatih untuk
tidak menarik diri dan pasien akan mampu melakukan interaksi dengan orang lain.
Selain itu, dengan bercakap-cakap maka
akan terjadi distraksi yaitu fokus perhatian pasien akan beralih untuk dapat
beraktivitas karena dengan beraktivitas klien tidak akan mengalami banyak waktu
luang yang biasanya digunakan untuk menyendiri yang berakibat pasien menarik
diri.
Daftar Pustaka:
Guze, B.,
Richeimer, S., & Siegel, D. J. (1997). Buku
saku psikiatri. Jakarta: EGC.
Handout
Psikoterapi oleh Erik S. Hutahaean.
Handout
Psikoterapi oleh Rini Indryawati.
Hasriana., Nur M., &
Angraini, S. (2013). Pengaruh terapi aktivitas kelompok sosialisasi terhadap
kemampuan bersosialisasi pada klien isolasi sosial menarik diri di rumah sakit
khusus daerah provinsi Sulawesi Selatan. Jurnal. 2, (6), 74-79.
Ingram, I. M., Timbury,
G. C., & Mowbray, R. M. (1993). Catatan
kuliah psikiatri. Jakarta: EGC.
Sarlito,
S. W. (2009). Pengantar psikologi umum.
Jakarta: Rajagrafindo Persada.
Suharto,
E. (2007). Pekerjaan sosial di dunia industry:
Memperkuat CSR (corporate social responsibility. Bandung: ALFABETA.