Selasa, 08 April 2014

Kesehatan Mental : Tugas II

I. STRES
A.     Arti Penting Stres
·         Pengertian Stres :
Stres merupakan suatu kondisi yang dinamis saat seorang individu dihadapkan pada peluang, tuntutan atau sumber daya yang terkait dengan apa yang diinginkan individu tersebut dan yang hasilnya dipandang tidak pasti dan penting.
J.P. Chaplin dalam Kamus Lengkap Psikologi mendefinisikan stres sebagai suatu keadaan tertekan, baik secara fisik maupun psikologis. Menurut Atkinson (1983), stress terjadi ketika orang dihadapkan dengan peristiwa yang mereka rasakan sebagai ancaman bagi kesehatan fisik maupun psikologisnya. Keadaan sosial, lingkungan dan fisikal yang menyebabkan stres dinamakan stresor. Sementara reaksi orang terhadap peristiwa tersebut dinamakan respon stres atau stres.
Menurut Lazarus 1999, stres adalah rasa cemas atau terancam yang timbul ketika kita menginterpretasikan atau menilai suatu situasi sebagai melampaui kemampuan psikologis kita untuk bisa menanganinya secara memadai.
·         Efek-efek dari stres dapat berupa :
Kondisi fisik maupun mentalnya memburuk, mudah lelah, otot-otot tegang, pola tidur terganggu, sulit membuat keputusan, tidak tenang secara emosional, tidak memiliki tenaga untuk melakukan hal-hal bahkan hal yang ringan sekalipun, tidak bisa santai, tekanan darah tinggi,  dan lain-lain.
·         General Adaptation Syndrom menurut Hans Selye, terdiri dari tiga tahap:
Tahap pertama dinamakan alarm (tanda bahaya). Organisme berorientasi terhadap tuntutan yang diberikan oleh lingkungannya dan mulai menghayatinya sebagai sebuah ancaman. Tahap ini tidak dapat bertahan lama. Setelah itu organisme memasuki tahap kedua yaitu resistance (tahap perlawanan). Organisme memobilisasi sumber-sumbernya agar mampu menghadapi tuntutan. Jika tuntutan berlangsung terlalu lama maka sumber-sumber penyesuaian mulai habis dan organisme mencapai tahap yang terakhir yaitu exhaustion (tahap kehabisan tenaga).
·         Faktor-faktor yang menjadi penyebab stres :
-          Faktor Individual, berupa karakteristik kepribadian individu itu sendiri, aktifitas fisik dan intelektual individu yang berat yang melampaui kemampuan yang dimilikinya, masalah ekonomi pribadi dan lain-lain.
-          Faktor Sosial, berupa lingkungan fisik, situasi yang dihadapi, dan lain-lain.

B.      Tipe-Tipe Stres Psikologis
·         Tipe-tipe stres psikologis :
a.      Tekanan
Tekanan merupakan suatu beban yang dirasakan oleh seseorang. Tekanan yang timbul dari tuntutan kehidupan sehari-hari dapat berasal dari dalam diri individu itu sendiri, misalnya apa yang kita inginkan atau harapan ternyata tidak sesuai dengan hasilnya. Tekanan yang berasal dari luar diri individu, misalnya paksaan saat ingin menempuh jalur pendidikan.
b.      Frustasi
Frustasi dapat muncul akibat adanya suatu kegagalan ketika seseorang ingin mencapai suatu hal atau tujuan yang diinginkannya.
c.       Konflik
Konflik dapat terjadi apabila seorang individu harus memilih antara dua tujuan atau dua tindakan yang tidak sejalan.
d.      Kecemasan
Kecemasan adalah emosi tidak menyenangkan yang ditandai oleh perasaan seperti khawatir, prihatin, tegang, dan takut yang dialami oleh semua manusia tetapi dengan kadar dan tingkatan yang berbeda-beda.

·         Tipe-tipe stres menurut Schafer (2000) :
a.      Neustres (Stres yang Netral)
Stres akan menjadi netral apabila seseorang dapat merespon tuntutan atau stresor dari dalam maupun luar dirinya dengan netral. Apabila pikiran dan tubuh dipacu, tetapi dampak yang dirasakan pada pikiran dan tubuh hanya sedikit maka seseorang mampu untuk menjalani kehidupannya seperti biasa.
b.      Distres (Stres yang Bersifat Negatif)
Seseorang menganggap pengalaman atau peristiwa yang dialaminya membahayakan atau tidak, tergantung pada derajat apakah seseorang tersebut menerima stresor dari dalam maupun luar dirinya sebagai sesuatu yang melebihi kemampuan yang dimilikinya untuk ditangani dan apakah itu mengancam kesejahteraannya atau tidak (Lazarus & Folkman, 1984). Gejala-gejala distres berupa : konsentrasi yang rendah, mudah marah, tangan sering berkeringat, pundak terasa kaku, cemas, depresi, dan berbicara dengan cepat. Penyebab stress negatif dapat berupa rasa kehilangan, kelemahan dan ketidakmampuan menyelesaikan masalah. Stres negatif ini dapat mengganggu keadaan jasmani maupun rohani seseorang.
c.       Positive Stress
Stres yang dapat memberikan manfaat ketika stres itu muncul, antara lain : membantu merespon dengan cepat dan segenap tenaga dalam keadaan darurat, membantu menyadari potensi diri yang sesungguhnya, berguna untuk tampil dengan baik ketika berada dibawah tekanan dan membantu mendorong seseorang ke titik batas. Stres yang positif biasanya merupakan hasil dari pengalaman yang mengesankan, menggembirakan dan tak terlupakan.

C.      Symptom-Reducing Respons Terhadap Stres
·     Mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) merupakan stratregi yang tidak disadari yang digunakan untuk mengatasi emosi negatif. Strategi ini tidak mengubah situasi stress melainkan bertujuan untuk mengubah cara menghayati atau memikirkan situasi. Jenis-jenis defense mechanism :
a.      Represi
Dalam represi, impuls dan memori yang menimbulkan rasa malu, rasa bersalah atau sikap mencela diri sendiri ditekan atau direpres masuk ke bawah sadar.
b.      Rasionalisasi
Rasionalisasi dalam mekanisme pertahanan diri adalah bertindak dengan menggunakan motif yang dapat diterima secara logis atau sosial, sedemikian rupa sehingga tampaknya bertindak secara rasional. Rasionalisasi memiliki dua fungsi, yaitu menghilangkan kekecewaan pada saat kita gagal mencapai tujuan dan merasionalisasikan apa yang telah kita lakukan untuk menempatkan perilaku kita dalam pandangan yang lebih menguntungkan.
c.       Pembentukan Reaksi
Pembentukan reaksi terjadi ketika orang melakukan perbuatan yang sebaliknya dari motif yang sesungguhnya.
d.      Proyeksi
Proyeksi adalah perilaku seseorang yang menutupi perilakunya yang tidak layak atau kurang baik, kemudian memproyeksikan kualitas atau sifat yang tidak baik tersebut pada orang lain.
e.      Penyangkalan
Penyangkalan adalah upaya untuk menolak kenyataan negatif yang ada pada diri kita atau keluarga kita.
f.        Intelektualisasi
Intelektualisasi adalah upaya melepaskan diri dari situasi stres dan menghadapinya dengan menggunakan istilah-istilah yang abstrak dan intelektual.
g.      Pengalihan
Mekanisme pertahanan yang dianggap dapat memenuhi fungsinya adalah mekanisme yang dapat menurunkan kecemasan dan memuaskan motif yang tidak dapat dibenarkan dengan cara melakukan pengalihan ke aktivitas lain.
·      Strategi coping untuk mengatasi stres minor merupakan respon stres ringan yang sangat dipengaruhi oleh belajar individu. Berlaku otomatis, tetapi lebih disadari oleh individu. Dipengaruhi oleh situasi, kekuatan, dan pola kebiasaan individu dalam menghadapi stress. Jenisnya : kontak fisik, makan, minum, tertawa, menangis dan lain-lain. Akan tetapi sifatnya tidak menghilangkan sumber stresnya, hanya mengurangi ketagangan akibat stresnya. Coping memiliki dua bentuk utama, yaitu :
a.   Strategi Terfokus Bermasalah (Problem Coping Focus), merupakan usaha seseorang untuk memfokuskan perhatian pada masalah atau situasi spesifik yang telah terjadi, lalu mencoba menemukan cara untuk mengubah atau menghindarinya. Strategi yang dapat ditempuh untuk memecahkan masalah, yaitu : menentukan masalahnya, mencari pemecahan alternatif, menimbang-nimbang alternatif tersebut dan memilih salah satunya dan mengimplementasikannya. Strategi ini juga dapat diarahkan ke dalam diri sendiri, dengan cara individu dapat mengubah dirinya sendiri dan mengubah lingkungan. Mengubah tingkat aspirasi, menemukan sumber pemuas alternatif dan mempelajari kecakapan baru. Kecakapan untuk menerapkan strategi tersebut tergantung pada pengalamannya dan kapasitasnya untuk mengendalikan diri. Strategi ini dapat mempersingkat waktu berlangsungnya depresi.
b.    Strategi Terfokus Emosi (Emotional Focus Coping), merupakan upaya untuk mencegah emosi negative menguasai diri seseorang atau mencegah terjadinya masalah yang tidak dapat dikendalikan. Cara-cara untuk mengatasi emosi negatif adalah :
o       Strategi Perilaku, misalnya latihan fisik untuk mengalihkan diri dari masalah yang di alami.
o       Strategi Kognitif, dilakukan dengan menyingkirkan pikiran tentang masalah yang di alami untuk sementara waktu misalnya memutuskan untuk tidak menguatirkan masalah tersebut.
o  Strategi Perenungan, dilakukan dengan cara mengisolasi diri untuk merenungkan betapa buruknya perasaan kita, menguatirkan konsekuensi peristiwa stres atau keadaan emosional kita, membicarakan berulang kali betapa buruknya segala sesuatu tanpa mengambil tindakan untuk mengubahnya.
o      Strategi Pengalihan, dilakukan dengan cara melibatkan diri dalam aktivitas yang menyenangkan dan meningkatkan kendali perasaan kita. Tujuannya adalah untuk menjauhkan diri dari pikiran negative dan mendapatkan kembali rasa mampu untuk menguasai masalah.
o Strategi Penghindaran Negatif, merupakan aktivitas yang dapat mengalihkan kita dari mood tetapi berbeda dengan strategi pengalihan. Bedanya adalah strategi penghindaran negatif ini merupakan aktivitas beresiko yang mungkin akan memperberat mood.

D.     Pendekatan Problem Solving Terhadap Stres
Merupakan jenis penyesuaian terhadap stress yang disadari. Untuk menghilangkan stres, kita harus menyadari apa yang menjadi penyebab dari stres yang kita derita, kemudian menghilangkan penyebabnya.
·         Meningkatkan toleransi stres :
a.      Toleransi terhadap tekanan
b.      Toleransi terhadap frustasi
c.       Toleransi terhadap konflik
d.      Toleransi terhadap kecemasan
·         Pendekatan yang berorientasi pada tugas :
a.  Pendekatan Asertif, yaitu pendekatan yang menekankan pada usaha-usaha dari individu itu sendiri untuk mengekspresikanb hak dan keinginannya tanpa merebut hak orang lain.
b.     Berkompromi, yaitu dapat dilakukan apabila agen sumber stresnya memiliki otoritas lebih tinggi dari kita atau seimbang dengan kita. Tipe-tipe kompromi adalah Comformity, Negotiation, Substitution.
c.  Pendekatan Menarik Diri, yaitu pendekatan ini dapat dilakukan apabila sumber stresnya tidak dapat dihilangkan dengan pendekatan asertif dan kompromi. Yang merupakan strategi sementara untuk mengatasi stres yang berakibat memperburuk kesehatan individu.

II. Hubungan Interpersonal
A.     Model-Model Hubungan Interpersonal
·         Model Pertukaran Sosial
Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu transaksi dagang. Orang berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu agar dapat memenuhi kebutuhannya. Hubungan interpersonal yang berlangsung mengikuti kaidah transaksional yaitu dalam sebuah transaksi apakah memperoleh keuntungan atau memperoleh kerugian. Thibault dan Kelley menyimpulkan bahwa model pertukaran sosial adalah bahwa setiap individu secara sukarela memasuki dan tinggal dalam hubungan sosial hanya selama hubungan tersebut cukup memuaskan yang ditinjau dari segi ganjaran dan biaya. Pada model ini, terdapat empat konsep pokok, yaitu :
a.    Ganjaran, yaitu sebagai akibat yang diperoleh seseorang dari suatu hubungan yang dinilai positif, berupa uang, penerimaan sosial dan lain-lain.
b.    Biaya, yaitu akibat yang diperoleh dari suatu hubungan yang dinilai negatif, berupa waktu, usaha, konflik, kecemasan dan kondisi lain yang dapat menimbulkan efek tidak menyenangkan.
c.     Hasil/Laba, yaitu ganjaran dikurangi biaya. Saat seorang individu merasa dalam suatu hubungan interpersonal, jika ia merasa tidak memperoleh laba maka ia akan mencari hubungan lain yang dapat mendatangkan laba baginya.
d.    Tingkat perbandingan, yaitu menunjukkan dtandar yang dipakai sebagai kriteria dalam menilai hubungan individu pada waktu sekarang.
·         Analisis Transaksional
Berne (1961) mendefinisikan analisis transaksional sebagai sistematika analisis struktur transaksi yang mencakup aspek-aspek kepribadian dan dinamika sosial yang disusun berdasarkan pengalaman klinis serta merupakan bentuk terapi rasional yang mudah dipahami dan mampu menyesuaikan dengan latar budaya klien. Analisis transaksional merupakan metode yang menyelidiki peristiwa dalam interaksi orang per orang, cara mereka adalah dengan memberikan umpan balik serta pola permainan status ego masing-masing. Analisis transaksional berpijak pada asumsi-asumsi bahwa setiap orang sanggup memahami putusan-putusan masa lampaunya dan mampu memilih untuk memutuskan kembali setiap keputusan yang telah dibuat sebelumnya (Covey, 2005). Konsep utama merupakan unsur-unsur penting yang melengkapi model analisis transaksional secara keseluruhan. Konsep utama tersebut adalah : Status Ego, menurut Berne (1961) setiap gambaran tingkah laku yang diperlihatkan oleh individu merupakan manifestasi dari proses psikologis dalam dirinya yang terbentuk atas proses hasil timbal balik setelah individu menafsir dan mengolah setiap informasi yang diterima dari dunia luar dirinya. Terdapat tiga macam status ego, yaitu status ego orang tua (parent), status ego dewasa (adult), status ego anak (child).

B.      Pembentukan Kesan dan Ketertarikan Interpersonal
·         Pembentukan Kesan
Menurut Sears dkk (1992) individu cenderung membentuk kesan panjang lebar mengenai orang lain berdasarkan informasi yang terbatas. Hanya dengan melihat dari potret atau secara langsung selama beberapa saat saja, seseorang sudah cenderung menilai sebagian besar karakter orang yang diamatinya. Beberapa orang tidak percaya dengan pendapat ini, karena umumnya individu menilai orang lain bukan hanya mengamatinya tetapi dilihat juga dari segi intelegensi, usia, latar belakang, ras, agama, pendidikan, kejujuran dan sebagainya.
a.      Evaluasi : Kesan pertama, menurut Sears dkk (1992), aspek pertama yang paling penting dan kuat adalah evaluasi. Apakah kita akan menyukai atau tidak menyukai seseorang? Kesan awal ini dapat dilihat dari beberapa indikasi.
b.   Kesan menyeluruh, untuk menjelaskan bagaimana orang mengevaluasi terhadap orang lain dapat dilakukan dari kesan yang diterima secara keseluruhan. Sears dkk (1992) membagi kesan menyeluruh menjadi dua, yaitu model penyamarataan dan model menambahkan. Model penyamarataan, yaitu menyatakan bahwa individu dapat menyusun potongan-potongan informasi yang terpisah-pisah menjadi suatu kesan yang menyeluruh dan sederhana. Model menambahkan, yaitu menyatakan bahwa individu mempersatukan potongan-potongan informasi yang terpisah-pisah dengan jalan menambahkan nilai ukuran dan bukannya dengan membuat rata-rata.
c.   Konsistensi. Individu cenderung membentuk karakteristik yang konsisten secara evaluatif terhadap individu lainnya meski hanya memiliki sedikit informasi. Karena evaluasi merupakan dimensi paling penting di dalam persepsi manusia sehingga kita cenderung akan menilai baik atau buruk dan bukan keduanya (Sears dkk, 1992). Kecenderungan terhadap konsistensi disebut hallo effect. Didalam hallo effect orang yang telah dilabel baik selalu dikelilingi oleh suasana positif sedangkan pada orang yang telah dilabel buruk selalu dipandang memiliki kualitas yang buruk.
d.      Prasangka Positif, menurut Sears dkk (1992) adalah kecenderungan menilai orang lain secara positif sehingga mengalahkan evaluasi negatif.
·         Ketertarikan Interpersonal
Ketertarikan interpersonal adalah sikap seseorang mengenai orang lain dimana ketertarikan itu meliputi penilaian terhadap orang lain sepanjang suatu dimensi yang berkisar dari sangat suka hingga sangat tidak suka atau membencinya. Seseorang mulai tertarik terhadap orang lain karena beberapa faktor, yaitu :
a.      Karakter pribadi, berupa ketulusan, kehangatan personal, kompetensi, daya tarik fisik atau ketertarikan fisik
b.      Kesamaan diri
c.       Keakraban
d.      Kedekatan
e.      Saling menyukai dan kesukaan

C.      Intimasi dan Hubungan Pribadi
Sternberg (1993) berpendapat bahwa intimasi adalah sebuah ikatan emosional antara dua individu yang didasari oleh kesejahteraan satu sama lain, keinginan untuk memperlihatkan pribadi masing-masing yang terkadang lebih bersifat sensitif serta saling berbagi kegemaran dan aktivitas yang sama.
Levinger & Snoek (Brernstein dkk, 1998) berpendapat bahwa intimasi merupakan suatu bentuk hubungan yang berkembang dari suatu hubungan yang bersifat timbal balik antara dua individu. Keduanya saling berbagi pengalaman dan informasi bukan saja tentang hal-hal yang berkaitan dengan kejadian yang terjadi di sekitar mereka, tetapi lebih bersifat pribadi seperti pengalaman hidup, keyakinan-keyakinan, pilihan-pilihan, tujuan hidup dan filosofi hidup.
Jadi dapat dikatakan bahwa, intimasi adalah suatu kedekatan perasaan antara dua orang dan kekuatan yang mengikat mereka untuk bersama. Sebuah hubungan akan mencapai keintiman dan harmonis jika kedua pihak saling mengerti, percaya, terbuka, dan saling mendukung

Sumber :

Kesehatan Mental : Tulisan II

I. Pengalaman Tentang Stres
Setiap orang pasti pernah mengalami yang namanya stres baik stres yang ringan ataupun yang berat. Saya sendiri juga pernah mengalaminya. Kejadian ini terjadi saat saya berada di kelas 12 SMA. Seperti orang kebanyakan, saat menghadapi Ujian Nasional saya pun merasa stres. Stres karena memikirkan apakah nanti jawaban yang saya isi di lembar jawaban benar atau salah, sampai memikirkan bagaimana jika saya tidak lulus ujian saat itu. Nah, tepat di saat Ujian Nasional berlangsung di hari pertama, saya jatuh sakit. Tubuh saya benar-benar merasa drop. Mau melakukan apapun sulit. Akibat kejadian itu, tingkat stres saya pun bertambah.
Cara saya untuk menanggulangi stres yang saya alami adalah dengan berdoa kepada Allah agar diberi kemudahan untuk menjalankan semuanya dan mencoba untuk tawakal. Saya juga mencoba untuk menenangkan diri dan berpikir positif bahwa sakit yang saya alami merupakan cobaan yang pasti saya bisa lewati dengan baik. Dan Alhamdulillah, saya dapat menjalankan Ujian Nasional tersebut dengan lancar walaupun saya benar-benar dalam keadaan sakit satu minggu full dan saya pun dapat lulus dengan hasil yang lumayan.

II. Contoh Kasus Tentang Stres
Istri Kabur, Rumah pun Dibakar
Liputan6.com, Tasikmalaya: Memed, warga Kampung Rancabungur, Tasikmalaya, Jawa Barat, belum lama ini, nekat membakar rumahnya. Bangunan yang sehari-hari dihuni pelaku ini rata dengan tanah. Perbuatan nekat ini diduga karena tersangka stres berat. Beberapa bulan silam, sang istri meninggalkan rumah karena dituduh berselingkuh.
Berita tentang terbakarnya rumah Memed cepat menyebar ke pelosok kampung. Dalam waktu singkat, warga berkumpul di lokasi kejadian. Pemadam kebakaran dibantu warga sekitar yang berusaha memadamkan api tak dapat berbuat banyak. Sebagian kerabat tersangka tak kuasa menahan tangis melihat rumah mereka hangus dilalap si jago merah.
Belakangan diketahui, sebelum membakar rumahnya, Memed sempat melukai dua kerabatnya dengan linggis, golok, dan senapan angin. Tangan Memed yang selalu menenteng senapan angin pun membuat aparat Kepolisian Sektor Indihiang, Tasikmalaya, kesulitan untuk membekuknya. "Terpaksa kami semprot dengan air," ungkap Kepala Polsek Indihiang Ajun Komisaris Polisi Yono. (JUM/Wendy Surya)
Sumber :

Pendapat Saya :

Menurut saya, dalam menghadapi masalahnya memed harus terlebih dahulu berfikir jernih. Jangan melakukan suatu hal tanpa berfikir terlebih dahulu. Perbuatan yang ia lakukan termasuk perbuatan yang merugikan orang lain, karena dampak dari perbuatan yang ia lakukan bukan hanya rumahnya yang hancur melainkan rumah kerabatnya pun ikut terbakar. Selain itu, seharusnya memed bercerita terlebih dahulu kepada kerabatnya tentang masalah yang ia derita agar sama-sama dicari jalan keluar yang tepat untuk pemecahan masalahnya. 

Minggu, 23 Maret 2014

Kesehatan Mental : Tulisan

I. Konsep Diri
Nama saya Rheza Putri Pertiwi. Saya lahir di Bekasi, 10 November 1994. Saya merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara. Menurut saya, saya itu orangnya manja, mungkin karena faktor saya anak terakhir ditambah saya merupakan wanita satu-satunya dirumah setelah ibu saya tentunya. Jadi karena sifat manja itu saya jadi kurang mandiri, masih bergantung dengan orang lain, apabila melakukan suatu hal sendiri maka dipastikan sulit untuk berhasil dengan cepat dibandingkan jika dibantu dengan orang lain. Selain itu, saya juga mudah menangkap pelajaran yang diberikan dengan mudah namun mudah juga untuk lupa dengan pelajaran tersebut apabila sebelumnya tidak diulang/dipelajari kembali. Saya juga mudah bergaul, tetapi jika mengenai kedekatan saya lebih mudah dekat dengan orang yang menurut saya sepaham dengan saya. Apabila tidak sepaham mungkin saya hanya bergaul saja dengan dia tidak menjadi teman dekat.
Saya itu sangat malas makannya saya sangat gemar untuk menunda pekerjaan atau tugas-tugas yang ada tetapi jika sedang rajin maka saya akan menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan segera. Bukan hanya malas dalam menyelesaikan tugas, tapi masih banyak kemalasan-kemalasan saya yang lainnya. Selain itu saya juga orangnya rendah hati, mudah simpati, tekun, dan lain-lain. Saya juga orangnya tidak suka menunggu dan tidak sabaran. Menurut saya, kekurangan saya lebih banyak dibanding kelebihan yang saya miliki. Tetapi semoga orang lain yang dekat dengan saya nyaman dengan keadaan saya dan semoga saya bisa mengurangi kekurangan yang saya miliki menjadi suatu kelebihan.
·         Kelebihan        : 1. Suka Menolong
  2. Rendah Hati
  3. Tekun
·         Kekurangan     :  1. Malas
   2. Tidak sabaran
   3. Mood nya mudah naik turun

II. Contoh Kasus Ketidaksehatan Mental

Terungkapnya Kematian Ayah Leeteuk “Super Junior”

Akhirnya penyebab kematian ayah Leeteuk `Super Junior` beserta kakek dan neneknya terungkap. Polisi distrik Dongjak di Seoul, Korea Selatan, mengumumkan hasil penyelidikannya terhadap kasus ini.
Sebelumnya, kabar beredar jika ayah dan kakek-nenek Leeteuk meninggal dunia akibat kecelakaan tragis. Namun fakta di lapangan berkata lain.
Ayah Leeteuk ditemukan tergantung di langit-langit kamarnya. Sementara kakek dan nenek Leeteuk meninggal dunia di atas tempat tidur dengan posisi berdampingan.
Ayah Leeteuk meninggal dunia akibat bunuh diri. Ia sempat menghabisi nyawa kedua orangtuanya (kakek-nenek Leeteuk) terlebih dahulu, dilansir dari laman Ttwigo, Selasa (7/1/2014).
"Kami telah mendapatkan hasil penyelidikan jika Park Yong (nama ayah Leeteuk) telah membuhuh kedua orangtunya terlebih dahulu sebelum bunuh diri. Keluarganya sempat mengungkapkan jika Park Yong memang mengalami depresi," ujar wakil dari Kepolisian di Dongjak.
Bahkan, ayah Leeteuk sempat membuat pesan bunuh diri. "Saya akan membawa orangtua saya ke Surga untuk hidup yang lebih baik. Saya minta maaf kepada anak-anak saya," begitulah isi pesan dari ayah Leeteuk.
Berdasarkan penyelidikan dari polisi, ayah Leeteuk mengalami depresi sejak bercerai dengan istrinya 1998 silam. Ia pun tinggal bersama dengan orangtuanya (kakek dan nenek Leeteuk).
Ternyata kakek Leeteuk mengalami demensia. Sementara, nenek Leeteuk mengalami kanker paru-paru. Selain itu, ayah Leeteuk juga mengalami kebangkrutan hingga meninggalkan banyak hutang.
Polisi tak akan melakukan otopsi terhadap tiga jenazah tersebut. Keluarga Leeteuk telah menandatangani berkas penolakan dalam melakukan proses tersebut.

Sumber :

Pendapat Saya :
Menurut saya, tindakan ayah leeteuk dikarenakan ia sudah terlalu merasa depresi dan stress terhadap kehidupannya. Ia merasa bahwa sudah tidak ada lagi orang lain yang bisa membantunya dan peduli dengan dia, salah satu penyebabnya karena ia sudah bercerai dengan istrinya sementara kedua anaknya sibuk dengan urusan masing-masing, selain itu orang tuanya pun sudah mengalami sakit-sakitan.

Tindakan beliau sangat tidak baik dan sangat salah karena perbuatan bunuh diri serta membunuh orang lain adalah perbuatan yang buruk apapun alasannya. Alangkah lebih baik jika ayah leeteuk berusaha terlebih dahulu mencari solusi atau jalan keluar untuk mengatasi penyebab depresi yang ia alami daripada harus memilih jalan bunuh diri sekaligus membunuh kedua orang tuanya seperti ini agar masalah yang ia alami selesai. Dan seharusnya ia harus lebih mendapatkan perhatian dari orang-orang disekitarnya, agar dia bisa berbagi keluh kesah ke orang lain bukan dipendam sendiri seperti ini.

Kesehatan Mental : Tugas

  1. Pengantar
  1. Orientasi Kesehatan Mental
·         Orientasi Klasik
Menurut orientasi ini, sehat diartikan sebagai kondisi tanpa keluhan baik fisik maupun mental. Orang-orang yang mengalami gangguan jiwa memiliki beberapa gejala yang salah satunya adalah kehilangan kontak dengan realitas, dengan gejala seperti itu mereka tidak merasa adanya keluhan meski hilang kesadaran dan tidak mampu mengurus dirinya dengan layak. Orang yang memiliki kemampuan menyesuaikan diri terhadap lingkungannya dengan baik maka orang tersebut dapat dikatakan sehat mentalnya  sedangkan sebaliknya jika orang yang tidak dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungannya dengan baik maka orang tersebut dapat dikatakan tidak sehat mentalnya.
·         Orientasi Penyesuaian Diri
Tidak ada garis tegas yang dapat membedakan orang sehat mental dengan orang yang tidak sehat mental. Kita tidak dapat begitu saja menilai seseorang sehat mental ataupun tidak sehat mental. Berdasarkan orientasi ini, kesehatan mental perlu dipahami sebagai kondisi kepribadian seseorang secara keseluruhannya bukan hanya berdasarkan jiwanya saja tetapi juga berkaitan dengan proses pertumbuhannya, perkembangannya serta hubungan antara individu lain dan dengan lingkungannya.
·         Orientasi Pengembangan Potensi
Menurut orientasi ini, seseorang dapat dikatakan sehat apabila ia mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan potensinya menuju kedewasaan serta ia dapat menghargai orang lain , menghargai dirinya sendiri dan dihargai oleh orang lain. Pengendali dalam setiap tindakan seseorang bukan hanya akal pikirannya saja melainkan perasaan juga ikut menjadi pengendalinya.

  1. Konsep Sehat
Konsep sehat merupakan bebas dari sakit emosional serta tidak adanya tingkah laku neurotis atau psikotis. Namun, konsep sehat tersebut tidak cukup untuk menilai seseorang sebagai pribadi yang sehat. Tidak adanya sakit emosional hanya merupakan suatu langkah pertama yang diperlukan untuk pertumbuhan dan pemenuhan, individu harus mencapai lebih jauh. Mungkin saja kita memiliki segi kehidupan yang berfungsi untuk memuaskan, namun masih tetap menderita kebosanan yang menyiksa, stagnasi, dan keputusasaan. Bahkan dalam menghadapi kondisi-kondisi yang tampaknya ideal, kita dapat merasakan suatu kehampaan yang menjemukan dalam kehidupan kita. Kita tidak mengetahui pasti apa itu kepribadian yang sehat atau konsep sehat karena terdapat sedikit penyesuaian pendapat di antara kalangan ahli-ahli psikologi yang bekerja dalam bidang ini. Ada cukup banyak definisi tentang kepribadian sehat atau konsep sehat.  Hal yang paling baik yang dapat dicapai pada tingkat pengetahuan kita adalah meneliti konsepsi-konsepsi tentang kesehatan psikologi yang positif.
Pengertian sehat menurut WHO adalah suatu keadaan yang sejahtera baik fisik, mental maupun sosial yang tidak hanya bebas dari penyakit atau kecacatan. Selain itu beberapa pengertian sehat adalah :
a.  Sehat adalah perwujudan individu yang diperoleh melalui kepuasan dalam berhubungan dengan orang lain dengan menerapkan perilaku yang sesuai dengan tujuan, perawatan diri yang kompeten serta menerapkan penyesuaian yang diperlukan untuk mempertahankan stabilitas dan integritas structural (Pender, 1982)
b.  Sehat adalah suatu keadaan sejahtera dari jasmani, rohani dan sosial yang memungkinkan setiap orang dapat hidup produktif secara sosial maupun ekonomis (Menurut UU No. 23/1992 tentang kesehatan)

  1. Sejarah Perkembangan Kesehatan Mental
Sejarah kesehatan mental merupakan suatu cerminan pemahaman masyarakat tentang gangguan mental dan tindakan yang diberikan.
·         Zaman Prasejarah
Pada zaman ini, manusia purba sering mengalami gangguan-gangguan mental maupun fisik. Tetapi penyakit mental pada saat itu ditangani dengan cara merawatnya sama seperti penyakit fisik karena mereka berfikir bahwa penyakit mental dan fisik disebabkan oleh penyebab yang sama yaitu pengaruh dan serangan dari roh-roh jahat, dosa-dosa atau mantera-mantera musuh.
·         Peradaban-Peradaban Awal
Di Mesopotamia, penyakit mental dihubungkan dengan roh atau setan dan perawatannya dilakukan dengan upacara-upacara agama dan magis untuk mengusir roh atau setan dari tubuh di pasien. Sedangkan di Mesir ilmu kedokteran lebih maju dan rasional perawatannya dilakukan dengan menggunakan terapi untuk pasien berupa rekreasi dan pekerjaan serta psikoterapi untuk mengobati penyakit mental. Sedangkan di Yahudi penyakit mental diartikan sebagai suatu hukuman dari Tuhan dan hanya diobati dengan bertaubat. Beberapa pandangan dalam pemikiran Yunani yang sangat penting yaitu dengan dilakukannya penelitian dan terminology psikiatri modern.
·         Abad Pertengahan (Abad Kegelapan)
Pada abad ini, gangguan mental tidak lagi dianggap sebagai penyakit. Demonologi (suatu dokrin yang menyebutkan bahwa perilaku abnormal seseorang disebabkan oleh pengaruh roh jahat atau kekuatan setan) dihidupkan kembali. Para pemuka agama pada saat itu melakukan suatu upacara untuk mengeluarkan pengaruh roh jahat dari tubuh seseorang dengan metode exorcism.
·         Zaman Renaisans
Zaman ini digambarkan sebagai zaman terang dalam kegelapan. Di Switzerland, mengakui penyebab yang rasional dari penyakit mental dan menolak adanya demonologi. Di Perancis, menganggap bahwa penyakit mental tidak berbeda dengan penyakit fisik. Tahun 1742 pendeta Cotton Mather menjelaskan masalah kejiwaan yang menyebabkan gangguan yang terjadi didalam tubuh sekaligus mematahkan demonologi yang berkembang selama ini.
·         Abad XVII – Abad XX
Abad ini merupakan proses peralihan dari pendekatan demonologi ke pendekatan ilmiah terhadap penyakit mental. Tahun 1812 Benjamin Rush menjadi orang pertama yang mencoba menangani penyakit mental secara manusiawi. Di Inggris muncul optimism dalam menangani pasien sakit jiwa dengan perkembangan teori dan teknik untuk menangani orang sakit jiwa tersebut walaupun dalam praktiknya sering mengalami kegagalan sehingga lambat laun muncul masa terapi pesimisme.
·         Psikiatri
Tahun 1990-an gangguan mental dianggap bukan suatu penyakit. Selama abad ke-19 perkembangan dalam kesehatan mental terjadi pada 4 bidang umum yaitu perlakuan terhadap pasien sakit mental yang lebih manusiawi dan rasional oleh masyarakat, langkah-langkah memperbaiki lembaga untuk penyakit mental, perhatian para penulis besar dan filsuf yang berpengaruh terhadap psikologi dan tingkah laku manusia, dan suatu sistem klasifikasi yang komprehensif bagi kekalutan mental. Tahun 1952 obat antipsikotik konvensional pertama, chlorpromazine diperkenalkan untuk pertama kalinya dan digunakan untuk menangani pasien skizofrenia dan gangguan mental utama lainnya. Tahun 1979 NAMH berubah menjadi National Mental Health Association (NAMH)

  1. Teori Kepribadian Sehat
  1. Aliran Psikoanalisa
Sigmund Freud merupakan pendiri psikoanalisa. Menurut Freud, pikiran-pikiran manusia yang direpres atau ditekan merupakan sumber perilaku yang tidak normal atau menyimpang. Freud berpendapat bahwa kehidupan psikis manusia terdiri dari kesadaran, ketidaksadaran dan prasadar. Kesadaran merupakan bagian kecil dari kepribadian. Ketidaksadaran merupakan bagian yang mengandung insting-insting yang mendorong perilaku manusia. Prasadar merupakan stimulus-stimulus yang direpres sehingga dapat dengan mudah ditimbulkan kembali dalam kondisi yang sadar.
Freud mempunyai pandangan bahwa kepribadian manusia terdiri dari Id, Ego dan Superego. Id merupakan sistem kepribadian yang asli yang berisikan segala sesuatu yang secara psikologis diwariskan dan telah ada sejak lahir misalnya insting seksual dan insting agresif. Freud juga sering menyebut Id sebagai prinsip kenikmatan. Ego merupakan sesuatu yang timbul karena adanya kebutuhan-kebutuhan organisme yang memerlukan transaksi-transaksi yang sesuai dengan kenyataan objektif. Freud menyebut Ego sebagai prinsip realitas sehingga Ego harus menyesuaikan diri dengan realitas. Tujuan prinsip realitas adalah mencegah terjadinya tegangan sampai ditemukan suatu objek yang cocok untuk pemuasan kebutuhan. Superego adalah wewenang moral dari kepribadian, ia mencerminkan yang ideal dan bukan yang real dan memperjuangkan kesempurnaan bukan kenikmatan. Freud menyebut Superego sebagai prinsip moral yaitu mengontrol perilaku dari segi moralnya. Perhatian utama dari superego adalah memutuskan apakah sesuatu itu benar atau salah dengan demikian ia dapat bertindak sesuai dengan norma-norma moral yang diakui oelh wakil-wakil masyarakat.

  1. Aliran Humanistik
Abraham Maslow dapat dipandang sebagai bapak dari psikologi humanistik. Aliran ini muncul akibat adanya ketidakpuasan dengan aliran behavioristik dan psikoanalisa dan memfokuskan penelitiannya pada manusia serta ciri-ciri eksistensinya. Psikologi humanistic mengarahkan perhatiannya pada humanisasi psikologi yang menekankan pada keunikan manusia. Menurut aliran ini manusia adalah makhluk kreatif yang dikendalikan oleh nilai-nilai dan pilihan-pilihannya sendiri atau dalam keadaan sadar bukan oleh kekuatan-kekuatan ketidaksadarannya.
Menurut Maslow psikologi harus lebih manusiawi yaitu lebih memusatkan perhatiannya pada masalah-masalah kemanusiaan. Dalam pandangan Maslow, semua manusia memiliki perjuangan atau kecenderungan yang dibawa sejak lahir untuk mengaktualisasikan diri. Syarat untuk mencapai aktualisasi diri ialah memuaskan empat kebutuhan yang berada dalam tingkat yang lebih rendah yaitu kebutuhan-kebutuhan fisiologis, kebutuhan-kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan-kebutuhan akan rasa cinta dan memiliki, kebutuhan-kebutuhan akan penghargaan. Kebutuhan-kebutuhan ini harus dipuaskan sebagiannya dalam urutan ini sebelum timbul kebutuhan akan aktualisasi diri.

  1. Pendapat Fromm
Orang yang demikian mencintai sepenuhnya, kreatif, memiliki kemampuan-kemampuan pikiran yang sangat berkembang, mengamati dunia dan diri secara objektif memiliki suatu perasaan identitas yang kuat, berhubungan dengan dan berakar di dunia, subjek atau pelaku dari diri dan nasib, serta bebas dari ikatan-ikatan sumbang merupakan suatu gambaran jelas tentang kepribadian yang sehat yang digambarkan oleh Fromm. Fromm menyebut kepribadian yang sehat sebagai orientasi produktif yaitu konsep yang menggambarkan penggunaan yang sangat penuh atau realisasi dari potensi manusia. Empat segi tambahan dalam kepribadian yang sehat adalah :
a).  Cinta yang produktif adalah suatu hubungan manusia yang bebas dan sederajat dimana partner-partner dapat mempertahankan individualitas mereka. Cinta yang produktif merupakan suatu kegiatan dan bukan suatu nafsu.
b).  Pikiran yang produktif meliputi kecerdasan, pertimbangan dan objektivitas. Pikiran yang produktif berfokus pada seluruh gejala dengan mempelajarinya dan bukan pada kepingan-kepingan dan potongan-potongan gejala yang terpisah.
c).    Kebahagiaan merupakan suatu bagian integral dab hasil kehidupan yang berkenaan dengan orientasi produktif, kebahagiaan itu menyertai seluruh kegiatan produktif. Kebahagiaan bukan hanya suatu perasaan atau keadaan yang menyenangkan tetapi juga suatu keadaan yang meningkatkan seluruh organisme, menghasilkan penambahan gaya hidup, kesehatan fisik dan pemenuhan potensi-potensi seseorang.
d).  Suara hati Fromm membedakan dua jenis suara hati, yaitu suara hati otoriter dan suara hati humanistis. Suara hati otoriter adalah penguasa dari luar yang diinternalisasikan yang memimpin tingkah laku orang itu. Suara hati otoriter merupakan antithesis terhadap kehidupan produktif. Sedangkan suara hati humanistis adalah suara dari diri dan bukan dari suatu perantara yang berasal dari luar.

  1. Penyesuaian Diri
  1. Konsep Penyesuaian Diri
Penyesuaian diri merupakan suatu proses yang bertujuan untuk mengubah perilaku seseorang agar terjadi hubungan yang sesuai antara seseorang tersebut dengan lingkungannya. Penyesuaian diri merupakan salah satu persyaratan penting bagi terciptanya kesehatan jiwa maupun mental individu. Menurut Schneider (dalam Partosuwido, 18993) penyesuaian diri merupakan kemampuan untuk mengatasi tekanan kebutuhan, frustasi dan kemampuan untuk mengembangkan mekanisme psikologis yang tepat. Aspek-aspek penyesuaian diri adalah :
a). Penyesuaian pribadi yaitu kemampuan individu untuk menerima diri sendiri sehingga tercapai hubungan yang harmonis antara diri dan lingkungannya sehingga ia mampu mengatasi konflik dan tekanan yang terjadi. Indikator dari penyesuaian pribadi adalah penerimaan individu terhadap diri sendiri, mampu menerima kenyataan, mampu mengontrol diri sendiri dan mampu mengarahkan diri sendiri.
b).  Penyesuaian sosial yaitu kemampuan individu untuk mematuhi norma dan peraturan sosial yang ada. Penyesuaian sosial terjadi dalam ruang lingkup hubungan sosial tempat individu hidup dan berinteraksi dengan orang lain. Hubungan tersebut mencakup hubungan dengan masyarakat di sekitar tempat tinggalnya, keluarga, sekolah, teman serta masyarakat luas secara umum. Indikator dari penyesuaian sosial adalah memiliki hubungan interpersonal yang baik, memiliki simpati pada orang lain, mampu menghargai orang lain, ikut berpartisipasi dalam kelompok dan mampu bersosialisasi dengan baik sesuatu peraturan dan norma yang ada.

Sumber :