Minggu, 23 Maret 2014

Kesehatan Mental : Tulisan

I. Konsep Diri
Nama saya Rheza Putri Pertiwi. Saya lahir di Bekasi, 10 November 1994. Saya merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara. Menurut saya, saya itu orangnya manja, mungkin karena faktor saya anak terakhir ditambah saya merupakan wanita satu-satunya dirumah setelah ibu saya tentunya. Jadi karena sifat manja itu saya jadi kurang mandiri, masih bergantung dengan orang lain, apabila melakukan suatu hal sendiri maka dipastikan sulit untuk berhasil dengan cepat dibandingkan jika dibantu dengan orang lain. Selain itu, saya juga mudah menangkap pelajaran yang diberikan dengan mudah namun mudah juga untuk lupa dengan pelajaran tersebut apabila sebelumnya tidak diulang/dipelajari kembali. Saya juga mudah bergaul, tetapi jika mengenai kedekatan saya lebih mudah dekat dengan orang yang menurut saya sepaham dengan saya. Apabila tidak sepaham mungkin saya hanya bergaul saja dengan dia tidak menjadi teman dekat.
Saya itu sangat malas makannya saya sangat gemar untuk menunda pekerjaan atau tugas-tugas yang ada tetapi jika sedang rajin maka saya akan menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan segera. Bukan hanya malas dalam menyelesaikan tugas, tapi masih banyak kemalasan-kemalasan saya yang lainnya. Selain itu saya juga orangnya rendah hati, mudah simpati, tekun, dan lain-lain. Saya juga orangnya tidak suka menunggu dan tidak sabaran. Menurut saya, kekurangan saya lebih banyak dibanding kelebihan yang saya miliki. Tetapi semoga orang lain yang dekat dengan saya nyaman dengan keadaan saya dan semoga saya bisa mengurangi kekurangan yang saya miliki menjadi suatu kelebihan.
·         Kelebihan        : 1. Suka Menolong
  2. Rendah Hati
  3. Tekun
·         Kekurangan     :  1. Malas
   2. Tidak sabaran
   3. Mood nya mudah naik turun

II. Contoh Kasus Ketidaksehatan Mental

Terungkapnya Kematian Ayah Leeteuk “Super Junior”

Akhirnya penyebab kematian ayah Leeteuk `Super Junior` beserta kakek dan neneknya terungkap. Polisi distrik Dongjak di Seoul, Korea Selatan, mengumumkan hasil penyelidikannya terhadap kasus ini.
Sebelumnya, kabar beredar jika ayah dan kakek-nenek Leeteuk meninggal dunia akibat kecelakaan tragis. Namun fakta di lapangan berkata lain.
Ayah Leeteuk ditemukan tergantung di langit-langit kamarnya. Sementara kakek dan nenek Leeteuk meninggal dunia di atas tempat tidur dengan posisi berdampingan.
Ayah Leeteuk meninggal dunia akibat bunuh diri. Ia sempat menghabisi nyawa kedua orangtuanya (kakek-nenek Leeteuk) terlebih dahulu, dilansir dari laman Ttwigo, Selasa (7/1/2014).
"Kami telah mendapatkan hasil penyelidikan jika Park Yong (nama ayah Leeteuk) telah membuhuh kedua orangtunya terlebih dahulu sebelum bunuh diri. Keluarganya sempat mengungkapkan jika Park Yong memang mengalami depresi," ujar wakil dari Kepolisian di Dongjak.
Bahkan, ayah Leeteuk sempat membuat pesan bunuh diri. "Saya akan membawa orangtua saya ke Surga untuk hidup yang lebih baik. Saya minta maaf kepada anak-anak saya," begitulah isi pesan dari ayah Leeteuk.
Berdasarkan penyelidikan dari polisi, ayah Leeteuk mengalami depresi sejak bercerai dengan istrinya 1998 silam. Ia pun tinggal bersama dengan orangtuanya (kakek dan nenek Leeteuk).
Ternyata kakek Leeteuk mengalami demensia. Sementara, nenek Leeteuk mengalami kanker paru-paru. Selain itu, ayah Leeteuk juga mengalami kebangkrutan hingga meninggalkan banyak hutang.
Polisi tak akan melakukan otopsi terhadap tiga jenazah tersebut. Keluarga Leeteuk telah menandatangani berkas penolakan dalam melakukan proses tersebut.

Sumber :

Pendapat Saya :
Menurut saya, tindakan ayah leeteuk dikarenakan ia sudah terlalu merasa depresi dan stress terhadap kehidupannya. Ia merasa bahwa sudah tidak ada lagi orang lain yang bisa membantunya dan peduli dengan dia, salah satu penyebabnya karena ia sudah bercerai dengan istrinya sementara kedua anaknya sibuk dengan urusan masing-masing, selain itu orang tuanya pun sudah mengalami sakit-sakitan.

Tindakan beliau sangat tidak baik dan sangat salah karena perbuatan bunuh diri serta membunuh orang lain adalah perbuatan yang buruk apapun alasannya. Alangkah lebih baik jika ayah leeteuk berusaha terlebih dahulu mencari solusi atau jalan keluar untuk mengatasi penyebab depresi yang ia alami daripada harus memilih jalan bunuh diri sekaligus membunuh kedua orang tuanya seperti ini agar masalah yang ia alami selesai. Dan seharusnya ia harus lebih mendapatkan perhatian dari orang-orang disekitarnya, agar dia bisa berbagi keluh kesah ke orang lain bukan dipendam sendiri seperti ini.

Kesehatan Mental : Tugas

  1. Pengantar
  1. Orientasi Kesehatan Mental
·         Orientasi Klasik
Menurut orientasi ini, sehat diartikan sebagai kondisi tanpa keluhan baik fisik maupun mental. Orang-orang yang mengalami gangguan jiwa memiliki beberapa gejala yang salah satunya adalah kehilangan kontak dengan realitas, dengan gejala seperti itu mereka tidak merasa adanya keluhan meski hilang kesadaran dan tidak mampu mengurus dirinya dengan layak. Orang yang memiliki kemampuan menyesuaikan diri terhadap lingkungannya dengan baik maka orang tersebut dapat dikatakan sehat mentalnya  sedangkan sebaliknya jika orang yang tidak dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungannya dengan baik maka orang tersebut dapat dikatakan tidak sehat mentalnya.
·         Orientasi Penyesuaian Diri
Tidak ada garis tegas yang dapat membedakan orang sehat mental dengan orang yang tidak sehat mental. Kita tidak dapat begitu saja menilai seseorang sehat mental ataupun tidak sehat mental. Berdasarkan orientasi ini, kesehatan mental perlu dipahami sebagai kondisi kepribadian seseorang secara keseluruhannya bukan hanya berdasarkan jiwanya saja tetapi juga berkaitan dengan proses pertumbuhannya, perkembangannya serta hubungan antara individu lain dan dengan lingkungannya.
·         Orientasi Pengembangan Potensi
Menurut orientasi ini, seseorang dapat dikatakan sehat apabila ia mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan potensinya menuju kedewasaan serta ia dapat menghargai orang lain , menghargai dirinya sendiri dan dihargai oleh orang lain. Pengendali dalam setiap tindakan seseorang bukan hanya akal pikirannya saja melainkan perasaan juga ikut menjadi pengendalinya.

  1. Konsep Sehat
Konsep sehat merupakan bebas dari sakit emosional serta tidak adanya tingkah laku neurotis atau psikotis. Namun, konsep sehat tersebut tidak cukup untuk menilai seseorang sebagai pribadi yang sehat. Tidak adanya sakit emosional hanya merupakan suatu langkah pertama yang diperlukan untuk pertumbuhan dan pemenuhan, individu harus mencapai lebih jauh. Mungkin saja kita memiliki segi kehidupan yang berfungsi untuk memuaskan, namun masih tetap menderita kebosanan yang menyiksa, stagnasi, dan keputusasaan. Bahkan dalam menghadapi kondisi-kondisi yang tampaknya ideal, kita dapat merasakan suatu kehampaan yang menjemukan dalam kehidupan kita. Kita tidak mengetahui pasti apa itu kepribadian yang sehat atau konsep sehat karena terdapat sedikit penyesuaian pendapat di antara kalangan ahli-ahli psikologi yang bekerja dalam bidang ini. Ada cukup banyak definisi tentang kepribadian sehat atau konsep sehat.  Hal yang paling baik yang dapat dicapai pada tingkat pengetahuan kita adalah meneliti konsepsi-konsepsi tentang kesehatan psikologi yang positif.
Pengertian sehat menurut WHO adalah suatu keadaan yang sejahtera baik fisik, mental maupun sosial yang tidak hanya bebas dari penyakit atau kecacatan. Selain itu beberapa pengertian sehat adalah :
a.  Sehat adalah perwujudan individu yang diperoleh melalui kepuasan dalam berhubungan dengan orang lain dengan menerapkan perilaku yang sesuai dengan tujuan, perawatan diri yang kompeten serta menerapkan penyesuaian yang diperlukan untuk mempertahankan stabilitas dan integritas structural (Pender, 1982)
b.  Sehat adalah suatu keadaan sejahtera dari jasmani, rohani dan sosial yang memungkinkan setiap orang dapat hidup produktif secara sosial maupun ekonomis (Menurut UU No. 23/1992 tentang kesehatan)

  1. Sejarah Perkembangan Kesehatan Mental
Sejarah kesehatan mental merupakan suatu cerminan pemahaman masyarakat tentang gangguan mental dan tindakan yang diberikan.
·         Zaman Prasejarah
Pada zaman ini, manusia purba sering mengalami gangguan-gangguan mental maupun fisik. Tetapi penyakit mental pada saat itu ditangani dengan cara merawatnya sama seperti penyakit fisik karena mereka berfikir bahwa penyakit mental dan fisik disebabkan oleh penyebab yang sama yaitu pengaruh dan serangan dari roh-roh jahat, dosa-dosa atau mantera-mantera musuh.
·         Peradaban-Peradaban Awal
Di Mesopotamia, penyakit mental dihubungkan dengan roh atau setan dan perawatannya dilakukan dengan upacara-upacara agama dan magis untuk mengusir roh atau setan dari tubuh di pasien. Sedangkan di Mesir ilmu kedokteran lebih maju dan rasional perawatannya dilakukan dengan menggunakan terapi untuk pasien berupa rekreasi dan pekerjaan serta psikoterapi untuk mengobati penyakit mental. Sedangkan di Yahudi penyakit mental diartikan sebagai suatu hukuman dari Tuhan dan hanya diobati dengan bertaubat. Beberapa pandangan dalam pemikiran Yunani yang sangat penting yaitu dengan dilakukannya penelitian dan terminology psikiatri modern.
·         Abad Pertengahan (Abad Kegelapan)
Pada abad ini, gangguan mental tidak lagi dianggap sebagai penyakit. Demonologi (suatu dokrin yang menyebutkan bahwa perilaku abnormal seseorang disebabkan oleh pengaruh roh jahat atau kekuatan setan) dihidupkan kembali. Para pemuka agama pada saat itu melakukan suatu upacara untuk mengeluarkan pengaruh roh jahat dari tubuh seseorang dengan metode exorcism.
·         Zaman Renaisans
Zaman ini digambarkan sebagai zaman terang dalam kegelapan. Di Switzerland, mengakui penyebab yang rasional dari penyakit mental dan menolak adanya demonologi. Di Perancis, menganggap bahwa penyakit mental tidak berbeda dengan penyakit fisik. Tahun 1742 pendeta Cotton Mather menjelaskan masalah kejiwaan yang menyebabkan gangguan yang terjadi didalam tubuh sekaligus mematahkan demonologi yang berkembang selama ini.
·         Abad XVII – Abad XX
Abad ini merupakan proses peralihan dari pendekatan demonologi ke pendekatan ilmiah terhadap penyakit mental. Tahun 1812 Benjamin Rush menjadi orang pertama yang mencoba menangani penyakit mental secara manusiawi. Di Inggris muncul optimism dalam menangani pasien sakit jiwa dengan perkembangan teori dan teknik untuk menangani orang sakit jiwa tersebut walaupun dalam praktiknya sering mengalami kegagalan sehingga lambat laun muncul masa terapi pesimisme.
·         Psikiatri
Tahun 1990-an gangguan mental dianggap bukan suatu penyakit. Selama abad ke-19 perkembangan dalam kesehatan mental terjadi pada 4 bidang umum yaitu perlakuan terhadap pasien sakit mental yang lebih manusiawi dan rasional oleh masyarakat, langkah-langkah memperbaiki lembaga untuk penyakit mental, perhatian para penulis besar dan filsuf yang berpengaruh terhadap psikologi dan tingkah laku manusia, dan suatu sistem klasifikasi yang komprehensif bagi kekalutan mental. Tahun 1952 obat antipsikotik konvensional pertama, chlorpromazine diperkenalkan untuk pertama kalinya dan digunakan untuk menangani pasien skizofrenia dan gangguan mental utama lainnya. Tahun 1979 NAMH berubah menjadi National Mental Health Association (NAMH)

  1. Teori Kepribadian Sehat
  1. Aliran Psikoanalisa
Sigmund Freud merupakan pendiri psikoanalisa. Menurut Freud, pikiran-pikiran manusia yang direpres atau ditekan merupakan sumber perilaku yang tidak normal atau menyimpang. Freud berpendapat bahwa kehidupan psikis manusia terdiri dari kesadaran, ketidaksadaran dan prasadar. Kesadaran merupakan bagian kecil dari kepribadian. Ketidaksadaran merupakan bagian yang mengandung insting-insting yang mendorong perilaku manusia. Prasadar merupakan stimulus-stimulus yang direpres sehingga dapat dengan mudah ditimbulkan kembali dalam kondisi yang sadar.
Freud mempunyai pandangan bahwa kepribadian manusia terdiri dari Id, Ego dan Superego. Id merupakan sistem kepribadian yang asli yang berisikan segala sesuatu yang secara psikologis diwariskan dan telah ada sejak lahir misalnya insting seksual dan insting agresif. Freud juga sering menyebut Id sebagai prinsip kenikmatan. Ego merupakan sesuatu yang timbul karena adanya kebutuhan-kebutuhan organisme yang memerlukan transaksi-transaksi yang sesuai dengan kenyataan objektif. Freud menyebut Ego sebagai prinsip realitas sehingga Ego harus menyesuaikan diri dengan realitas. Tujuan prinsip realitas adalah mencegah terjadinya tegangan sampai ditemukan suatu objek yang cocok untuk pemuasan kebutuhan. Superego adalah wewenang moral dari kepribadian, ia mencerminkan yang ideal dan bukan yang real dan memperjuangkan kesempurnaan bukan kenikmatan. Freud menyebut Superego sebagai prinsip moral yaitu mengontrol perilaku dari segi moralnya. Perhatian utama dari superego adalah memutuskan apakah sesuatu itu benar atau salah dengan demikian ia dapat bertindak sesuai dengan norma-norma moral yang diakui oelh wakil-wakil masyarakat.

  1. Aliran Humanistik
Abraham Maslow dapat dipandang sebagai bapak dari psikologi humanistik. Aliran ini muncul akibat adanya ketidakpuasan dengan aliran behavioristik dan psikoanalisa dan memfokuskan penelitiannya pada manusia serta ciri-ciri eksistensinya. Psikologi humanistic mengarahkan perhatiannya pada humanisasi psikologi yang menekankan pada keunikan manusia. Menurut aliran ini manusia adalah makhluk kreatif yang dikendalikan oleh nilai-nilai dan pilihan-pilihannya sendiri atau dalam keadaan sadar bukan oleh kekuatan-kekuatan ketidaksadarannya.
Menurut Maslow psikologi harus lebih manusiawi yaitu lebih memusatkan perhatiannya pada masalah-masalah kemanusiaan. Dalam pandangan Maslow, semua manusia memiliki perjuangan atau kecenderungan yang dibawa sejak lahir untuk mengaktualisasikan diri. Syarat untuk mencapai aktualisasi diri ialah memuaskan empat kebutuhan yang berada dalam tingkat yang lebih rendah yaitu kebutuhan-kebutuhan fisiologis, kebutuhan-kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan-kebutuhan akan rasa cinta dan memiliki, kebutuhan-kebutuhan akan penghargaan. Kebutuhan-kebutuhan ini harus dipuaskan sebagiannya dalam urutan ini sebelum timbul kebutuhan akan aktualisasi diri.

  1. Pendapat Fromm
Orang yang demikian mencintai sepenuhnya, kreatif, memiliki kemampuan-kemampuan pikiran yang sangat berkembang, mengamati dunia dan diri secara objektif memiliki suatu perasaan identitas yang kuat, berhubungan dengan dan berakar di dunia, subjek atau pelaku dari diri dan nasib, serta bebas dari ikatan-ikatan sumbang merupakan suatu gambaran jelas tentang kepribadian yang sehat yang digambarkan oleh Fromm. Fromm menyebut kepribadian yang sehat sebagai orientasi produktif yaitu konsep yang menggambarkan penggunaan yang sangat penuh atau realisasi dari potensi manusia. Empat segi tambahan dalam kepribadian yang sehat adalah :
a).  Cinta yang produktif adalah suatu hubungan manusia yang bebas dan sederajat dimana partner-partner dapat mempertahankan individualitas mereka. Cinta yang produktif merupakan suatu kegiatan dan bukan suatu nafsu.
b).  Pikiran yang produktif meliputi kecerdasan, pertimbangan dan objektivitas. Pikiran yang produktif berfokus pada seluruh gejala dengan mempelajarinya dan bukan pada kepingan-kepingan dan potongan-potongan gejala yang terpisah.
c).    Kebahagiaan merupakan suatu bagian integral dab hasil kehidupan yang berkenaan dengan orientasi produktif, kebahagiaan itu menyertai seluruh kegiatan produktif. Kebahagiaan bukan hanya suatu perasaan atau keadaan yang menyenangkan tetapi juga suatu keadaan yang meningkatkan seluruh organisme, menghasilkan penambahan gaya hidup, kesehatan fisik dan pemenuhan potensi-potensi seseorang.
d).  Suara hati Fromm membedakan dua jenis suara hati, yaitu suara hati otoriter dan suara hati humanistis. Suara hati otoriter adalah penguasa dari luar yang diinternalisasikan yang memimpin tingkah laku orang itu. Suara hati otoriter merupakan antithesis terhadap kehidupan produktif. Sedangkan suara hati humanistis adalah suara dari diri dan bukan dari suatu perantara yang berasal dari luar.

  1. Penyesuaian Diri
  1. Konsep Penyesuaian Diri
Penyesuaian diri merupakan suatu proses yang bertujuan untuk mengubah perilaku seseorang agar terjadi hubungan yang sesuai antara seseorang tersebut dengan lingkungannya. Penyesuaian diri merupakan salah satu persyaratan penting bagi terciptanya kesehatan jiwa maupun mental individu. Menurut Schneider (dalam Partosuwido, 18993) penyesuaian diri merupakan kemampuan untuk mengatasi tekanan kebutuhan, frustasi dan kemampuan untuk mengembangkan mekanisme psikologis yang tepat. Aspek-aspek penyesuaian diri adalah :
a). Penyesuaian pribadi yaitu kemampuan individu untuk menerima diri sendiri sehingga tercapai hubungan yang harmonis antara diri dan lingkungannya sehingga ia mampu mengatasi konflik dan tekanan yang terjadi. Indikator dari penyesuaian pribadi adalah penerimaan individu terhadap diri sendiri, mampu menerima kenyataan, mampu mengontrol diri sendiri dan mampu mengarahkan diri sendiri.
b).  Penyesuaian sosial yaitu kemampuan individu untuk mematuhi norma dan peraturan sosial yang ada. Penyesuaian sosial terjadi dalam ruang lingkup hubungan sosial tempat individu hidup dan berinteraksi dengan orang lain. Hubungan tersebut mencakup hubungan dengan masyarakat di sekitar tempat tinggalnya, keluarga, sekolah, teman serta masyarakat luas secara umum. Indikator dari penyesuaian sosial adalah memiliki hubungan interpersonal yang baik, memiliki simpati pada orang lain, mampu menghargai orang lain, ikut berpartisipasi dalam kelompok dan mampu bersosialisasi dengan baik sesuatu peraturan dan norma yang ada.

Sumber :