- Pengantar
- Orientasi
Kesehatan Mental
·
Orientasi
Klasik
Menurut orientasi ini, sehat diartikan sebagai kondisi tanpa
keluhan baik fisik maupun mental. Orang-orang yang mengalami gangguan jiwa memiliki
beberapa gejala yang salah satunya adalah kehilangan kontak dengan realitas,
dengan gejala seperti itu mereka tidak merasa adanya keluhan meski hilang
kesadaran dan tidak mampu mengurus dirinya dengan layak. Orang yang memiliki
kemampuan menyesuaikan diri terhadap lingkungannya dengan baik maka orang
tersebut dapat dikatakan sehat mentalnya
sedangkan sebaliknya jika orang yang tidak dapat menyesuaikan diri
terhadap lingkungannya dengan baik maka orang tersebut dapat dikatakan tidak
sehat mentalnya.
·
Orientasi Penyesuaian
Diri
Tidak ada garis tegas yang dapat membedakan orang sehat
mental dengan orang yang tidak sehat mental. Kita tidak dapat begitu saja
menilai seseorang sehat mental ataupun tidak sehat mental. Berdasarkan
orientasi ini, kesehatan mental perlu dipahami sebagai kondisi kepribadian
seseorang secara keseluruhannya bukan hanya berdasarkan jiwanya saja tetapi
juga berkaitan dengan proses pertumbuhannya, perkembangannya serta hubungan
antara individu lain dan dengan lingkungannya.
·
Orientasi
Pengembangan Potensi
Menurut orientasi ini, seseorang dapat dikatakan sehat
apabila ia mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan potensinya menuju
kedewasaan serta ia dapat menghargai orang lain , menghargai dirinya sendiri
dan dihargai oleh orang lain. Pengendali dalam setiap tindakan seseorang bukan
hanya akal pikirannya saja melainkan perasaan juga ikut menjadi pengendalinya.
- Konsep
Sehat
Konsep sehat merupakan bebas dari sakit emosional serta tidak
adanya tingkah laku neurotis atau psikotis. Namun, konsep sehat tersebut tidak
cukup untuk menilai seseorang sebagai pribadi yang sehat. Tidak adanya sakit
emosional hanya merupakan suatu langkah pertama yang diperlukan untuk
pertumbuhan dan pemenuhan, individu harus mencapai lebih jauh. Mungkin saja kita
memiliki segi kehidupan yang berfungsi untuk memuaskan, namun masih tetap
menderita kebosanan yang menyiksa, stagnasi, dan keputusasaan. Bahkan dalam
menghadapi kondisi-kondisi yang tampaknya ideal, kita dapat merasakan suatu
kehampaan yang menjemukan dalam kehidupan kita. Kita tidak mengetahui pasti apa
itu kepribadian yang sehat atau konsep sehat karena terdapat sedikit
penyesuaian pendapat di antara kalangan ahli-ahli psikologi yang bekerja dalam
bidang ini. Ada cukup banyak definisi tentang kepribadian sehat atau konsep
sehat. Hal yang paling baik yang dapat
dicapai pada tingkat pengetahuan kita adalah meneliti konsepsi-konsepsi tentang
kesehatan psikologi yang positif.
Pengertian sehat menurut WHO adalah suatu keadaan yang
sejahtera baik fisik, mental maupun sosial yang tidak hanya bebas dari penyakit
atau kecacatan. Selain itu beberapa pengertian sehat adalah :
a. Sehat adalah perwujudan individu yang diperoleh
melalui kepuasan dalam berhubungan dengan orang lain dengan menerapkan perilaku
yang sesuai dengan tujuan, perawatan diri yang kompeten serta menerapkan
penyesuaian yang diperlukan untuk mempertahankan stabilitas dan integritas
structural (Pender, 1982)
b. Sehat adalah suatu keadaan sejahtera dari jasmani,
rohani dan sosial yang memungkinkan setiap orang dapat hidup produktif secara
sosial maupun ekonomis (Menurut UU No. 23/1992 tentang kesehatan)
- Sejarah
Perkembangan Kesehatan Mental
Sejarah kesehatan mental merupakan suatu cerminan pemahaman
masyarakat tentang gangguan mental dan tindakan yang diberikan.
·
Zaman
Prasejarah
Pada zaman ini, manusia purba sering mengalami
gangguan-gangguan mental maupun fisik. Tetapi penyakit mental pada saat itu
ditangani dengan cara merawatnya sama seperti penyakit fisik karena mereka
berfikir bahwa penyakit mental dan fisik disebabkan oleh penyebab yang sama
yaitu pengaruh dan serangan dari roh-roh jahat, dosa-dosa atau mantera-mantera
musuh.
·
Peradaban-Peradaban
Awal
Di Mesopotamia, penyakit mental dihubungkan dengan roh atau
setan dan perawatannya dilakukan dengan upacara-upacara agama dan magis untuk
mengusir roh atau setan dari tubuh di pasien. Sedangkan di Mesir ilmu
kedokteran lebih maju dan rasional perawatannya dilakukan dengan menggunakan
terapi untuk pasien berupa rekreasi dan pekerjaan serta psikoterapi untuk
mengobati penyakit mental. Sedangkan di Yahudi penyakit mental diartikan
sebagai suatu hukuman dari Tuhan dan hanya diobati dengan bertaubat. Beberapa
pandangan dalam pemikiran Yunani yang sangat penting yaitu dengan dilakukannya
penelitian dan terminology psikiatri modern.
·
Abad
Pertengahan (Abad Kegelapan)
Pada abad ini, gangguan mental tidak lagi dianggap sebagai
penyakit. Demonologi (suatu dokrin yang menyebutkan bahwa perilaku abnormal
seseorang disebabkan oleh pengaruh roh jahat atau kekuatan setan) dihidupkan
kembali. Para pemuka agama pada saat itu melakukan suatu upacara untuk
mengeluarkan pengaruh roh jahat dari tubuh seseorang dengan metode exorcism.
·
Zaman
Renaisans
Zaman ini digambarkan sebagai zaman terang dalam kegelapan.
Di Switzerland, mengakui penyebab yang rasional dari penyakit mental dan
menolak adanya demonologi. Di Perancis, menganggap bahwa penyakit mental tidak
berbeda dengan penyakit fisik. Tahun 1742 pendeta Cotton Mather menjelaskan
masalah kejiwaan yang menyebabkan gangguan yang terjadi didalam tubuh sekaligus
mematahkan demonologi yang berkembang selama ini.
·
Abad XVII –
Abad XX
Abad ini merupakan proses peralihan dari pendekatan
demonologi ke pendekatan ilmiah terhadap penyakit mental. Tahun 1812 Benjamin
Rush menjadi orang pertama yang mencoba menangani penyakit mental secara
manusiawi. Di Inggris muncul optimism dalam menangani pasien sakit jiwa dengan
perkembangan teori dan teknik untuk menangani orang sakit jiwa tersebut
walaupun dalam praktiknya sering mengalami kegagalan sehingga lambat laun
muncul masa terapi pesimisme.
·
Psikiatri
Tahun 1990-an gangguan mental dianggap bukan suatu penyakit.
Selama abad ke-19 perkembangan dalam kesehatan mental terjadi pada 4 bidang
umum yaitu perlakuan terhadap pasien sakit mental yang lebih manusiawi dan
rasional oleh masyarakat, langkah-langkah memperbaiki lembaga untuk penyakit
mental, perhatian para penulis besar dan filsuf yang berpengaruh terhadap
psikologi dan tingkah laku manusia, dan suatu sistem klasifikasi yang
komprehensif bagi kekalutan mental. Tahun 1952 obat antipsikotik konvensional
pertama, chlorpromazine diperkenalkan
untuk pertama kalinya dan digunakan untuk menangani pasien skizofrenia dan
gangguan mental utama lainnya. Tahun 1979 NAMH berubah menjadi National Mental
Health Association (NAMH)
- Teori
Kepribadian Sehat
- Aliran
Psikoanalisa
Sigmund Freud merupakan pendiri psikoanalisa. Menurut Freud,
pikiran-pikiran manusia yang direpres atau ditekan merupakan sumber perilaku
yang tidak normal atau menyimpang. Freud berpendapat bahwa kehidupan psikis
manusia terdiri dari kesadaran, ketidaksadaran dan prasadar. Kesadaran
merupakan bagian kecil dari kepribadian. Ketidaksadaran merupakan bagian yang
mengandung insting-insting yang mendorong perilaku manusia. Prasadar merupakan
stimulus-stimulus yang direpres sehingga dapat dengan mudah ditimbulkan kembali
dalam kondisi yang sadar.
Freud mempunyai pandangan bahwa kepribadian manusia terdiri
dari Id, Ego dan Superego. Id merupakan sistem kepribadian yang asli yang
berisikan segala sesuatu yang secara psikologis diwariskan dan telah ada sejak
lahir misalnya insting seksual dan insting agresif. Freud juga sering menyebut
Id sebagai prinsip kenikmatan. Ego merupakan sesuatu yang timbul karena adanya
kebutuhan-kebutuhan organisme yang memerlukan transaksi-transaksi yang sesuai
dengan kenyataan objektif. Freud menyebut Ego sebagai prinsip realitas sehingga
Ego harus menyesuaikan diri dengan realitas. Tujuan prinsip realitas adalah
mencegah terjadinya tegangan sampai ditemukan suatu objek yang cocok untuk
pemuasan kebutuhan. Superego adalah wewenang moral dari kepribadian, ia
mencerminkan yang ideal dan bukan yang real dan memperjuangkan kesempurnaan
bukan kenikmatan. Freud menyebut Superego sebagai prinsip moral yaitu
mengontrol perilaku dari segi moralnya. Perhatian utama dari superego adalah
memutuskan apakah sesuatu itu benar atau salah dengan demikian ia dapat
bertindak sesuai dengan norma-norma moral yang diakui oelh wakil-wakil
masyarakat.
- Aliran
Humanistik
Abraham Maslow dapat dipandang sebagai bapak dari psikologi
humanistik. Aliran ini muncul akibat adanya ketidakpuasan dengan aliran
behavioristik dan psikoanalisa dan memfokuskan penelitiannya pada manusia serta
ciri-ciri eksistensinya. Psikologi humanistic mengarahkan perhatiannya pada
humanisasi psikologi yang menekankan pada keunikan manusia. Menurut aliran ini
manusia adalah makhluk kreatif yang dikendalikan oleh nilai-nilai dan
pilihan-pilihannya sendiri atau dalam keadaan sadar bukan oleh
kekuatan-kekuatan ketidaksadarannya.
Menurut Maslow psikologi harus lebih manusiawi yaitu lebih
memusatkan perhatiannya pada masalah-masalah kemanusiaan. Dalam pandangan
Maslow, semua manusia memiliki perjuangan atau kecenderungan yang dibawa sejak
lahir untuk mengaktualisasikan diri. Syarat untuk mencapai aktualisasi diri
ialah memuaskan empat kebutuhan yang berada dalam tingkat yang lebih rendah
yaitu kebutuhan-kebutuhan fisiologis, kebutuhan-kebutuhan akan rasa aman,
kebutuhan-kebutuhan akan rasa cinta dan memiliki, kebutuhan-kebutuhan akan
penghargaan. Kebutuhan-kebutuhan ini harus dipuaskan sebagiannya dalam urutan
ini sebelum timbul kebutuhan akan aktualisasi diri.
- Pendapat
Fromm
Orang yang demikian mencintai sepenuhnya, kreatif, memiliki
kemampuan-kemampuan pikiran yang sangat berkembang, mengamati dunia dan diri
secara objektif memiliki suatu perasaan identitas yang kuat, berhubungan dengan
dan berakar di dunia, subjek atau pelaku dari diri dan nasib, serta bebas dari
ikatan-ikatan sumbang merupakan suatu gambaran jelas tentang kepribadian yang
sehat yang digambarkan oleh Fromm. Fromm menyebut kepribadian yang sehat
sebagai orientasi produktif yaitu konsep yang menggambarkan penggunaan yang
sangat penuh atau realisasi dari potensi manusia. Empat segi tambahan dalam
kepribadian yang sehat adalah :
a). Cinta yang produktif adalah
suatu hubungan manusia yang bebas dan sederajat dimana partner-partner dapat
mempertahankan individualitas mereka. Cinta yang produktif merupakan suatu
kegiatan dan bukan suatu nafsu.
b). Pikiran
yang produktif meliputi
kecerdasan, pertimbangan dan objektivitas. Pikiran yang produktif berfokus pada
seluruh gejala dengan mempelajarinya dan bukan pada kepingan-kepingan dan
potongan-potongan gejala yang terpisah.
c). Kebahagiaan
merupakan suatu bagian integral dab hasil kehidupan yang
berkenaan dengan orientasi produktif, kebahagiaan itu menyertai seluruh
kegiatan produktif. Kebahagiaan bukan hanya suatu perasaan atau keadaan yang
menyenangkan tetapi juga suatu keadaan yang meningkatkan seluruh organisme,
menghasilkan penambahan gaya hidup, kesehatan fisik dan pemenuhan
potensi-potensi seseorang.
d). Suara hati Fromm
membedakan dua jenis suara hati, yaitu suara hati otoriter dan suara hati
humanistis. Suara hati otoriter adalah penguasa dari luar yang
diinternalisasikan yang memimpin tingkah laku orang itu. Suara hati otoriter
merupakan antithesis terhadap kehidupan produktif. Sedangkan suara hati
humanistis adalah suara dari diri dan bukan dari suatu perantara yang berasal
dari luar.
- Penyesuaian
Diri
- Konsep
Penyesuaian Diri
Penyesuaian diri merupakan suatu proses yang bertujuan untuk
mengubah perilaku seseorang agar terjadi hubungan yang sesuai antara seseorang
tersebut dengan lingkungannya. Penyesuaian diri merupakan salah satu
persyaratan penting bagi terciptanya kesehatan jiwa maupun mental individu.
Menurut Schneider (dalam Partosuwido, 18993) penyesuaian diri merupakan
kemampuan untuk mengatasi tekanan kebutuhan, frustasi dan kemampuan untuk
mengembangkan mekanisme psikologis yang tepat. Aspek-aspek penyesuaian diri
adalah :
a). Penyesuaian pribadi yaitu kemampuan individu untuk
menerima diri sendiri sehingga tercapai hubungan yang harmonis antara diri dan
lingkungannya sehingga ia mampu mengatasi konflik dan tekanan yang terjadi.
Indikator dari penyesuaian pribadi adalah penerimaan individu terhadap diri
sendiri, mampu menerima kenyataan, mampu mengontrol diri sendiri dan mampu
mengarahkan diri sendiri.
b). Penyesuaian sosial yaitu kemampuan individu untuk
mematuhi norma dan peraturan sosial yang ada. Penyesuaian sosial terjadi dalam
ruang lingkup hubungan sosial tempat individu hidup dan berinteraksi dengan
orang lain. Hubungan tersebut mencakup hubungan dengan masyarakat di sekitar
tempat tinggalnya, keluarga, sekolah, teman serta masyarakat luas secara umum. Indikator
dari penyesuaian sosial adalah memiliki hubungan interpersonal yang baik,
memiliki simpati pada orang lain, mampu menghargai orang lain, ikut
berpartisipasi dalam kelompok dan mampu bersosialisasi dengan baik sesuatu
peraturan dan norma yang ada.
Sumber :