Sabtu, 08 November 2014

Tugas 2 Psikologi Manajemen

I.                   BENTUK-BENTUK TEORI MOTIVASI
1.      Teori Tata Tingkat-Kebutuhan
Teori motivasi ini dikemukakan oleh Maslow. Maslow berpendapat bahwa kondisi manusia berada dalam kondisi mengejar yang bersinambungan. Jika satu kebutuhan dipenuhi, langsung kebutuhan tersebut diganti oleh kebutuhan lain. Maslow selanjutnya mengajukan bahwa ada lima kelompok kebutuhan, yaitu kebutuhan faali (fisiologikal), rasa aman, sosial, harga diri, dan aktualisasi diri. Menurut Maslow, individu dimotivasi oleh kebutuhan yang belum dipuaskan, yang paling rendah, paling dasar dalam tata tingkat. Begitu tingkat kebutuhan ini dipuaskan, ia tidak akan lagi memotivasi perilaku. Kebutuhan pada tingkat berikutnya yang lebih tinggi menjadi dominan. Dua tingkat kebutuhan dapat beroperasi pada waktu yang sama, tetapi kebutuhan pada tingkat lebih rendah yang dianggap menjadi motivator yang lebih kuat dari perilaku. Maslow juga menekankan bahwa makin tinggi tingkat kebutuhan, makin tidak penting ia untuk mempertahankan hidup dan makin lama pemenuhannya dapat ditunda.
a.       Kebutuhan Faali (Fisiologikal)
Kebutuhan ini timbul didasarkan kondisi fisiologikal badan kita, seperti kebutuhan untuk makanan dan minuman, kebutuhan akan udara segar. Kebutuhan fisiologikal merupakan kebutuhan primer atau kebutuhan dasar yang harus dipenuhi. Jika kebutuhan ini tidak dipenuhi maka individu berhenti eksistensinya.
b.      Kebutuhan Rasa Aman
Kebutuhan ini masih sangat dekat dengan kebutuhan fisiologi. Kebutuhan ini mencakup kebutuhan untuk dilindungi dari bahaya dan ancaman fisik. Dalam pekerjaan, kita dijumpai kebutuhan ini dalam bentuk rasa asing sewaktu menjadi tenaga kerja baru atau sewaktu pindah ke kota baru.
c.       Kebutuhan Sosial
Kebutuhan ini mencakup memberi dan menerima persahabatan, cinta kasih, rasa memiliki (belonging). Setiap orang ingin menjadi anggota kelompok sosial, ingin mempunyai teman, kekasih. Dalam pekerjaan kita jumpai kelompok informal yang merupakan kegiatan untuk memenuhi kebutuhan sosial seorang tenaga kerja.
d.      Kebutuhan Harga Diri (Esteem Needs)
Kebutuhan harga diri meliputi dua jenis, yaitu:
1)      Yang mencakup faktor-faktor internal, seperti kebutuhan harga diri, kepercayaan diri, otonomi dan kompetensi.
2)      Yang mencakup faktor-faktor eksternal kebutuhan yang menyangkut reputasi, seperti mencakup kebutuhan untuk dikenali dan diakui (recognition) dan status.
Kebutuhan harga diri ini dapat terungkap dalam keinginan untuk dipuji dan keinginan untuk diakui prestasi kerjanya. Keinginan untuk didengar dan dihargai pendapatnya.
e.       Kebutuhan Aktualisasi Diri
Kebutuhan untuk melakukan pekerjaan sesuai dengan kemampuan yang dirasakan dimiliki. Kebutuhan ini mencakup kebutuhan untuk menjadi kreatif, kebutuhan untuk dapat merealisasikan potensinya secara penuh. Kebutuhan ini menekankan kebebasan dalam melaksanakan tugas pekerjaannya.
2.      Teori Eksistensi-Relasi-Pertumbuhan
Teori motivasi ini juga dikenal sebagai teori ERG (Existence, Relatedness, dan Growth Needs) yang dikembangkan oleh Alderfer. Alderfer mengelompokkan kebutuhan ke dalam tiga kelompok, yaitu:
a.       Kebutuhan Eksistensi (Existence Needs)
Kebutuhan eksistensi merupakan kebutuhan akan substansi material seperti keinginan untuk memperoleh makanan, air, perumahan, uang, mebel, dan mobil. Kebutuhan ini mencakup kebutuhan fisiologikal dan kebutuhan rasa aman dari Maslow.
b.      Kebutuhan Hubungan (Relatedness Needs)
Kebutuhan hubungan merupakan kebutuhan untuk membagi pikiran dan perasaan dengan orang lain dan membiarkan mereka menikmati hal-hal yang sama dengan kita. Individu berkeinginan untuk berkomunikasi secara terbuka dengan orang lain yang dianggap penting dalam kehidupan mereka dan mempunyai hubungan yang bermakna dengan keluarga, teman dan rekan kerja. Kebutuhan ini mencakup kebutuhan sosial dan bagian eksternal dari kebutuhan penghargaan (esteem) dari Maslow.
c.       Kebutuhan Pertumbuhan (Growth Needs)
Kebutuhan pertumbuhan merupakan kebutuhan-kebutuhan yang dimiliki seseorang untuk mengembangkan kecakapan mereka secara penuh. Selain kebutuhan aktualisasi diri juga mencakup bagian instrinsik dari kebutuhan harga diri dari Maslow.
Teori ERG menyatakan bahwa kebutuhan-kebutuhan eksistensi, hubungan, dan pertumbuhan terletak pada satu kesinambungan kekonkretan, dengan kebutuhan eksistensi sebagai kebutuhan yang paling konkret dan kebutuhan pertumbuhan sebagai kebutuhan yang paling kurang konkret (abstrak). Beberapa dasar pikiran dari teori ini ialah, bahwa: (1) Makin lengkap satu kebutuhan yang lebih konkret dipuasi, maka semakin besar keinginan atau dorongan untuk memuaskan kebutuhan yang kurang konkret atau abstrak, dan (2) Makin kurang lengkap satu kebutuhan dipuasi, maka semakin besar keinginannya untuk memuaskan.
3.      Teori Dua Faktor
Teori dua fakor juga dinamakan sebagai teori hygiene-motivasi yang dikembangkan oleh Herzberg. Menurut Herzberg berdasarkan dari hasil penelitian yang telah ia lakukan, faktor-faktor yang menimbulkan kepuasan kerja berbeda dengan faktor-faktor yang menimbulkan ketidakpuasan kerja. Faktor-faktor yang menimbulkan kepuasan kerja yang ia namakan faktor motivator mencakup faktor-faktor yang berkaitan dengan isi dari pekerjaan. Yang merupakan faktor instrinsik dari pekerjaan, yaitu:
a.       Tanggung jawab (responsibility), besar kecilnya tanggung jawab yang dirasakan diberikan kepada seorang tenaga kerja.
b.      Kemajuan (advancement), besar kecilnya kemungkinan tenaga kerja dapat maju dalam pekerjaannya.
c.       Pekerjaan itu sendiri, besar kecilnya tantangan yang dirasakan tenaga kerja dari pekerjaannya.
d.      Pencapaian (achievement), besar kecilnya kemungkinan tenaga kerja mencapai prestasi kerja yang tinggi.
e.       Pengakuan (recognition), besar kecilnya pengakuan yang diberikan kepada tenaga kerja atas unjuk kerjanya.
Kelompok faktor lain yang menimbulkan ketidakpuasan mencakup faktor-faktor eksternal yang berkaitan dengan konteks pekerjaan. Yang merupakan faktor eksternal adalah:
a.       Administrasi dan kebijakan perusahaan, derajat kesesuaian yang dirasakan tenaga kerja dari semua kebijakan dan peraturan yang berlaku dalam perusahaan.
b.      Penyeliaan, derajat kewajaran penyeliaan yang dirasakan diterima oleh tenaga kerja.
c.       Gaji, derajat karyawan dari gaji yang diterima sebagai imbalan unjuk-kerjanya.
d.      Hubungan antarpribadi, derajat kesesuaian yang dirasakan dalam berinteraksi dengan tenaga kerja lainnya.
e.       Kondisi kerja, derajat kesesuaian kondisi kerja dengan proses pelaksanaan tugas pekerjaannya.
Faktor-faktor yang termasuk dalam kelompok faktor motivator (faktor instrinsik) cenderung merupakan faktor-faktor yang menimbulkan motivasi kerja yang bercorak proaktif. Sedangkan faktor-faktor yang termasuk dalam kelompok faktor hygiene (faktor ekstrinsik) cenderung menghasilkan motivasi kerja yang reaktif.
4.      Teori Motivasi Berprestasi (Achievement Motivation)
Teori motivasi berprestasi dikembangkan oleh David McClelland. Sebenarnya teori ini lebih tepat disebut sebagai teori kebutuhan dari McClelland, karena ia tidak saja hanya meneliti tentang kebutuhan untuk berprestasi, melainkan juga tentang kebutuhan untuk berkuasa, dan kebutuhan untuk berafiliasi atau berhubungan.
Kebutuhan untuk Berprestasi (Achievement Motivation). Ada sementara orang yang memiliki dorongan yang kuat untuk berhasil. Mereka lebuh mengejar prestasi pribadi dibandingkan imbalan terhadap keberhasilan. Mereka bergairah untuk melakukan sesuatu lebih baik dan lebih efisien dibandingkan hasil sebelumnya. McClelland menemukan bahwa mereka dengan dorongan prestasi yang tinggi berbeda dari orang lain dalam keinginan kuat mereka untuk melakukan hal-hal dengan lebih baik. Mereka mencari kesempatan-kesempatan dimana mereka memiliki tanggung jawab pribadi dalam menemukan jawaban-jawaban terhadap masalah-masalah. Mereka yang memiliki kebutuhan untuk berprestasi yang tinggi lebih menyukai pekerjaan-pekerjaan dimana mereka memiliki tanggung jawab pribadi, akan memperoleh balikan dan tugas pekerjaannya memiliki risiko yang sedang.
Kebutuhan untuk Berkuasa (Need for Power). Kebutuhan untuk berkuasa adalah adanya keinginan yang kuat untuk mengendalikan orang lain, untuk mempengaruhi orang lain dan untuk memiliki dampak terhadap orang lain. Orang dengan kebutuhan untuk berkuasa yang besar menyukai pekerjaan-pekerjaan dimana mereka menjadi pimpinan dan mereka berupaya mempengaruhi orang lain.
Kebutuhan untuk Berafiliasi (Need for Affiliation). Kebutuhan ini yang paling sedikit mendapat perhatian dan paling sedikit diteliti. Orang-orang dengan kebutuhan untuk berafiliasi yang tinggi adalah orang-orang yang berusaha mendapatkan persahabatan. Mereka ingin disukai dan diterima oleh orang lain. Mereka lebih menyukai situasi-situasi kooperatif dari situasi kompetitif, dan sangat menginginkan hubungan-hubungan yang melibatkan saling pengertian dalam derajat yang tinggi. Mereka akan berusaha untuk menghindari konflik.
Orang yang sekaligus memiliki kebutuhan untuk berprestasi, kebutuhan untuk berkuasa dan kebutuhan untuk berafiliasi yang tinggi akan memiliki motivasi kerja yang proaktif. Sedangkan orang yang memiliki ketiga macam kebutuhan tersebut dalam derajat yang rendah akan memiliki corak motivasi kerja yang reaktif.
5.      Teori Penetapan Tujuan (Goal Setting Theory)
Locke mengusulkan model kognitif yang dinamakan teori tujuan yang mencoba menjelaskan hubungan-hubungan antara niat atau tujuan-tujuan dengan perilaku. Teori ini secara relative lempang dan sederhana. Aturan dasarnya ialah penetapan dari tujuan-tujuan secara sadar. Menurut Locke, tujuan-tujuan yang cukup sulit, khusus, dan yang pernyataannya jelas dan dapat diterima oleh tenaga kerja akan menghasilkan unjuk kerja yang lebih tinggi daripada tujuan-tujuan yang taksa, tidak khusus, dan yang mudah dicapai. Teori tujuan, sebagaimana dengan teori keadilan didasarkan pada dasar intuitif yang solid. Penelitian-penelitian yang didasarkan pada teori ini menggambarkan kemanfaatannya bagi organisasi.
Berdasarkan tujuan-tujuan perusahaan, secara berurutan disusun tujuan-tujuan untuk divisi bagian sampai satuan kerja yang terkecil untuk diakhiri penetapan sasaran kerja untuk setiap karyawan dalam kurun waktu tertentu. Proses penetapan tujuan (goal setting) dapat dilakukan berdasarkan prakarsa sendiri, dapat juga diwajibkan oleh organisasi sebagai satu kebijakan perusahaan. Bila didasarkan pada prakarsa sendiri dapat disimpulkan bahwa motivasi kerja individu bercorak proaktif dan ia akan memiliki keikatan besar untuk berusaha mencapai tujuan-tujuan yang telah ia tetapkan. Bila seorang tenaga kerja memiliki motivasi kerja yang lebih bercorak reaktif pada saat ia diberi tugas untuk menetapkan sasaran-sasaran kerjanya untuk kurun waktu tertentu dapat terjadi bahwa keikatan terhadap usaha mencapai tujuan tersebut tidak terlalu besar.

II.                POLA KEPEMIMPINAN
1.      Pola Kepemimpinan Otokratik
Pola kepemimpinan otokratik merupakan suatu pola kepemimpinan dimana seorang pemimpin bertindak sebagai penguasa dan semua kendali berada di tangan pemimpin, seperti pengambilan keputusan. Pemimpin seperti ini menganggap bawahan hanya sebatas melaksanakan pekerjaan dan bukan sebagai rekan sekerja. Pola kepemimpinan otokratik dapat dimanfaatkan untuk situasi yang sangat memerhatikan tugas dan tenaga kerja dengan keterampilan yang sama. Contohnya adalah militer.
a.       Kelebihan dari pola kepemimpinan otokratik adalah:
-          Keputusan diambil secara cepat.
-          Mudah dilakukan pengawasan.
-          Menimbulkan sikap kerja yang tinggi.
b.      Kelemahan dari pola kepemimpinan otokratik adalah:
-          Disiplin yang terwujud selalu dibayang-bayangi dengan ketakutan akan hukuman yang keras bahkan pemecatan.
-          Keberhasilan yang dicapai dikarenakan adanya ketakutan bawahan terhadap atasannya dan bukan atas dasar keyakinan bersama.
-          Setiap langkah kegiatan dengan cara pelaksanaannya untuk setiap saat ditentukan oleh pemimpin sehingga langkah berikutnya tidak pasti.
2.      Pola Kepemimpinan Demokratik
Pola kepemimpinan demokratik merupakan pola kepemimpinan yang memberikan wewenang secara luas pada bawahan. Pemimpin mengakomodasikan pendapat bawahan dalam pengambilan keputusan. Pemimpin memberikan banyak informasi tentang tugas serta tanggung jawab para bawahannya. Pemimpin seperti ini menganggap dirinya dan bawaannya sebagai satu tim, serta pemimpin yang demokratik akan selalu mendengarkan keluhan bawahan. Pola kepemimpinan demokratik dapat dimanfaatkan untuk situasi kerja tim.
a.       Kelebihan dari pola kepemimpinan demokratik adalah:
-          Lebih memperhatikan bawahan untuk mencapai tujuan organisasi.
-          Para anggota bebas bekerja sama dengan siapa saja yang mereka pilih dan pembagian tugas ditentukan oleh kelompok.
-          Pemimpin bersikap objektif dan senantiasa berdasarkan fakta dalam memberikan penghargaan dan kritik.
-          Semua kebijakan dirumuskan melalui musyawarah kelompok keputusan diambil dengan dorongan bantuan dari pemimpin.
b.      Kelemahan dari pola kepemimpinan demokratik adalah:
-          Proses pengambilan keputusan akan memakan waktu yang lebih lama.
-          Sulitnya pencapaian untuk sebuah kesepakatan.
3.      Pola Kepemimpinan Permisif (Laissez-Faire)
Pola kepemimpinan permisif (laissez-faire) merupakan pola kepemimpinan dimana pemimpin berusaha membiarkan bawahannya melakukan tugas pekerjaannya tanpa ada pengawasan dari dirinya. Pemimpin hanya memberikan arahan dan nasihat dalam pengambilan keputusan. Mutu unjuk kerjanya, seluruhnya merupakan tanggung jawab bawahannya. Pola kepemimpinan permisif (laissez-faire) dapat dimanfaatkan untuk situasi saat memimpin para pekerja kreatif (misalnya, copy-writer periklanan, perancang perangkat lunak dan arsitek) yang lebih senang mencari jalan mereka sendiri sesuai dengan kecepatan dan kemampuan kerja mereka.
a.       Kelebihan dari pola kepemimpinan permisif adalah:
-          Ada kemungkinan bawahan dapat mengembangkan kemampuannya dan daya kreativitasnya untuk memikirkan dan memecahkan serta mengembangkan rasa tanggung jawab.
-          Bawahan lebih bebas untuk menunjukkan persoalan yang dianggap penting sehingga proses penyelesaiannya lebih cepat.
-          Kelompok mempunyai kebebasan sepenuhnya untuk mengambil keputusan dengan partisipasi yang minimal dari pemimpin.
b.      Kelemahan dari pola kepemimpinan permisif adalah:
-          Bila bawahan terlalu bebas tanpa pengawasan, maka akan terjadi penyimpangan dari peraturan yang berlaku dari bawahan serta mengakibatkan salah tindak dan memakan banyak waktu bila bawahan kurang pengalaman.
-          Pemimpin tidak pernah berpartisipasi secara penuh.
-          Tidak mampu melakukan koordinasi dan pengawasan yang baik.

Sumber :
Grede, R. (2008). 5 Strategi Ampuh Berbisnis. Yogyakarta: Mizan Media Utama.
Munandar, A. S. (2008). Psikologi Industri dan Organisasi. Jakarta: UI-Press.

Usman, H. (2014). Manajemen: Teori, Praktik dan Riset Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Jumat, 10 Oktober 2014

Tugas 1 Psikologi Manajemen

PSIKOLOGI MANAJEMEN

I.                    Unsur Psikologis dalam Manajemen
Secara umum, unsur psikologis yang dibutuhkan untuk melakukan Planning, Organizing, Actuating dan Controlling adalah unsur kognitif (kemampuan berfikir), unsur sikap kerja (kemampuan menanggapi tuntutan pekerjaan), serta unsur kepribadian (kemampuan mengelola diri pribadi).

Unsur kognitif (kemampuan berfikir) dapat diuraikan kedalam tiga bentuk perilaku kognitif, yaitu daya tangkap kognitif untuk memahami tugas baik melalui informasi kalimat, simbol ataupun angka, daya berpikir yang konseptual dengan cara membangun konsep berpikir yang menyeluruh dan sistematis, dan juga daya analisa berfikir yaitu menciptakan hasil pemikiran yang tepat untuk menyelesaikan masalah.
Unsur sikap kerja (kemampuan menanggapi tuntutan pekerjaan) dapat dilihat di dalam beberapa aspek sikap kerja, yaitu ketahanan terhadap tekanan dari luar maupun dalam atau daya tahan stress, cara kerja yang cepat untuk menyelesaikan pekerjaan, kemauan untuk mencapai prestasi kerja yang memuaskan, dan ketelitian dalam melakukan pekerjaan.
Unsur kepribadian (kemampuan mengelola diri pribadi) dapat berupa daya penyesuaian diri atau adaptasi, kemampuan menjalin interaksi dan hubungan yang baik, kemauan untuk bekerja sama, dan kemampuan untuk memimpin.

II.                  Perilaku yang Muncul dalam Manajemen

a. Planning (Perencanaan)
-   Menetapkan tujuan dan target bisnis
-   Merumuskan strategi untuk mencapai tujuan dan target bisnis tersebut
-   Menentukan sumber-sumber daya yang diperlukan
-   Menetapkan standar atau indikator keberhasilan dalam pencapaian tujuan dan target bisnis
b. Organizing (Pengorganisasian)
-   Mengalokasikan sumber daya, merumuskan dan menetapkan tugas dan menetapkan prosedur yang diperlukan
-   Menetapkan struktur organisasi yang menunjukkan adanya garis kewenangan dan tanggung jawab
-   Melakukan kegiatan perekrutan, penyeleksian, pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia atau tenaga kerja
-   Melakukan kegiatan penempatan sumber daya manusia pada posisi yang paling tepat
c. Actuating (Penggerak)
-   Memberi bimbingan dan motivasi kepada tenaga kerja agar dapat bekerja secara efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan
-   Memberikan tugas dan penjelasan rutin mengenai pekerjaan
-   Menjelaskan kebijakan yang ditetapkan
-   Menangani isu yang terjadi yang berkaitan dengan perilaku tenaga kerja
d. Controlling (Pengendalian)
-   Mengevaluasi keberhasilan dalam pencapaian tujuan dan target bisnis sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan
-   Mengambil langkah klarifikasi dan koreksi atas penyimpangan yang mungkin ditemukan dalam mencapai tujuan
-   Melakukan berbagai alternatif solusi atas berbagai masalah yang terkait dengan pencapaian tujuan dan target bisnis

III.                Sistem Manajemen

a. Manajemen Keuangan
-   Bagaimana cara pencatatan administrasi kas yang baik
-   Laporan laba-rugi dan laporan neraca
-   Laporan arus kas dan perencanaan kas yang baik
b. Manajemen Operasional
-   Pengawasan keluar-masuk barang
-   Pengawasan gudang
-   Pengawasan persediaan barang
-   Cara display barang yang baik dan benar
-   Pengawasan minimarket dan pengawasan pelayanan konsumen
-   Promosi dan pengawasan keamanan lingkungan minimarket
c. Manajemen Pembelian
-   Cara perkiraan order yang baik
-   Cara penentuan margin barang dagangan yang tepat
-   Negosiasi dengan supplier
-   Pengawasan kualitas barang dagangan
-   Pengawasan retur barang (pengembalian barang dari konsumen)
d. Manajemen Sumber Daya Manusia
-   Cara membuat strukur organisasi minimarket
-   Cara membuat job deskripsi
-   Cara rekrutmen dan penempatan karyawan
-   Evaluasi karyawan melalui reward dan punishment
-   Mengadakan training atau pelatihan
-   Peraturan perusahaan
-   Cara pembuatan kontrak kerja karyawan
e. Manajemen Lokasi
Hal-hal yang diperhatikan dalam memilih lokasi untuk membangun minimarket :
-   Membangun lokasi yang dekat dengan pemukiman atau perumahan dengan jumlah minimal 2.500 kepala keluarga atau 5000 jiwa atau dekat dengan pasar tradisional
-   Banyaknya kendaraan bermotor yang berlalu lintas
-   Kondisi sosial ekonomi penduduk sekitar lokasi
-   Sedikit banyak harus ada lahan parkir, minimal untuk sepeda motor
-   Faktor harga sewa bangunan untuk gerai juga harus menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan lokasi, karena harga sewa yang relatif rendah memungkinkan biaya operasional dapat ditekan seminimal mungkin
f. Manajemen Tata Ruang
-   Suasana ruangan yang cukup penerangannya
-   Interior menggunakan warna cat tembok yang cerah (umumnya menggunakan warna putih)
-   Kebersihan dan kerapian
-   Lay out ruangan untuk meja kasir, rak barang show case/cooler, AC, dan perlengkapan lainnya
g. Manajemen Logistik
-   Memeriksa setiap saat jumlah persediaan barang dagangan di gudang
-   Mengajukan permohonan kepada Kepala toko untuk melakukan pemesanan barang dagangan yang jumlahnya sudah dibatas minimal stok
-   Memeriksa tanggal kadaluarsa barang untuk kemudian dilaporkan kepada kepala toko untuk di-retur
-   Melakukan stok opname yang didampingi satu orang pegawai lain (administrasi/keuangan) untuk kemudian dilaporkan hasilnya kepada kepala toko
-   Mengisi kekosongan barang dagangan di rak display atas permintaan pramuniaga
-   Bertanggung jawab atas persediaan barang dagangan di gudang kepada kepala toko
h. Manajemen Keamanan
-   Menempatkan CCTV
-   Menempatkan alarm kebakaran

Rabu, 25 Juni 2014

Kesehatan Mental Tugas Akhir

CARA PENCEGAHAN AGAR TIDAK TERJADI KETIDAKSEHATAN MENTAL

            Saat ini, banyak sekali kasus ketidaksehatan mental yang terjadi di lingkungan sekitar kita. Mulai dari kasus bunuh diri akibat depresi berat, kasus pedofilia yang sedang hangat dibicarakan serta kasus-kasus ketidaksehatan mental yang lainnya mulai dari yang ringan sampai yang berat. Ketidaksehatan mental ini dapat terjadi akibat pengalaman buruk yang terjadi dimasa lalu yang sulit dilupakan, rasa keputus-asaan, stress yang berkepanjangan dan lain-lain. Ketidaksehatan mental bukan hanya dapat merugikan para pelakunya melainkan juga dapat merugikan atau bahkan dapat membahayakan orang lain. Untuk itu dibutuhkan cara pencegahan agar tidak terjadi ketidaksehatan mental tersebut. Beberapa cara pencegahan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :
  • Harus lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan cara mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya agar kita selalu berada dijalannya.
  • Menjalin hubungan yang baik dengan orang lain di lingkungan sekitar dan selalu berpikiran positif terhadap orang lain agar terhindar dari pikiran negative.
  • Selain itu, kita juga jangan mudah terpengaruh dengan orang lain serta jangan mudah terpengaruh dengan apa yang kita lihat, kita harus dapat mengontrol diri kita sendiri agar terhindar dari ketidaksehatan mental tersebut dengan cara memilah milih mana yang baik untuk diikuti atau ditiru dan mana yang tidak boleh diikuti atau ditiru.
  • Harus bisa menjaga kondisi tubuh agar tetap sehat dan fit. Misalnya dengan mengkonsumsi makanan yang berserat dan bervitamin, berolahraga secara teratur, dan lain-lain. Karena apabila kondisi tubuh kita sehat maka kondisi mental maupun hati kita juga akan menjadi tenang dan terbebas dari pikiran yang negative.
  • Jika memiliki masalah alangkah baiknya jika kita dapat menceritakan permasalahan tersebut kepada orang terdekat kita yang kita percayai agar kita tidak perlu memendam permasalahan yang kita alami sendirian dan berlarut-larut. Karena apabila kita memendam masalah yang kita hadapi, kemungkinan besar kita akan mengalami tekanan batin yang pasti akan memicu timbulnya ketidaksehatan mental tersebut.
Itulah beberapa cara pencegahan yang dapat dilakukan. Namun, untuk pencegahan ketidaksehatan mental bukan hanya dapat dilakukan dengan cara-cara yang sudah dituliskan diatas, kesadaran dari diri individu, dukungan dari keluarga, teman-teman, masayarakat sekitar dan lingkungan juga sangat membantu untuk mencegah terjadinya ketidaksehatan mental.

Selasa, 08 April 2014

Kesehatan Mental : Tugas II

I. STRES
A.     Arti Penting Stres
·         Pengertian Stres :
Stres merupakan suatu kondisi yang dinamis saat seorang individu dihadapkan pada peluang, tuntutan atau sumber daya yang terkait dengan apa yang diinginkan individu tersebut dan yang hasilnya dipandang tidak pasti dan penting.
J.P. Chaplin dalam Kamus Lengkap Psikologi mendefinisikan stres sebagai suatu keadaan tertekan, baik secara fisik maupun psikologis. Menurut Atkinson (1983), stress terjadi ketika orang dihadapkan dengan peristiwa yang mereka rasakan sebagai ancaman bagi kesehatan fisik maupun psikologisnya. Keadaan sosial, lingkungan dan fisikal yang menyebabkan stres dinamakan stresor. Sementara reaksi orang terhadap peristiwa tersebut dinamakan respon stres atau stres.
Menurut Lazarus 1999, stres adalah rasa cemas atau terancam yang timbul ketika kita menginterpretasikan atau menilai suatu situasi sebagai melampaui kemampuan psikologis kita untuk bisa menanganinya secara memadai.
·         Efek-efek dari stres dapat berupa :
Kondisi fisik maupun mentalnya memburuk, mudah lelah, otot-otot tegang, pola tidur terganggu, sulit membuat keputusan, tidak tenang secara emosional, tidak memiliki tenaga untuk melakukan hal-hal bahkan hal yang ringan sekalipun, tidak bisa santai, tekanan darah tinggi,  dan lain-lain.
·         General Adaptation Syndrom menurut Hans Selye, terdiri dari tiga tahap:
Tahap pertama dinamakan alarm (tanda bahaya). Organisme berorientasi terhadap tuntutan yang diberikan oleh lingkungannya dan mulai menghayatinya sebagai sebuah ancaman. Tahap ini tidak dapat bertahan lama. Setelah itu organisme memasuki tahap kedua yaitu resistance (tahap perlawanan). Organisme memobilisasi sumber-sumbernya agar mampu menghadapi tuntutan. Jika tuntutan berlangsung terlalu lama maka sumber-sumber penyesuaian mulai habis dan organisme mencapai tahap yang terakhir yaitu exhaustion (tahap kehabisan tenaga).
·         Faktor-faktor yang menjadi penyebab stres :
-          Faktor Individual, berupa karakteristik kepribadian individu itu sendiri, aktifitas fisik dan intelektual individu yang berat yang melampaui kemampuan yang dimilikinya, masalah ekonomi pribadi dan lain-lain.
-          Faktor Sosial, berupa lingkungan fisik, situasi yang dihadapi, dan lain-lain.

B.      Tipe-Tipe Stres Psikologis
·         Tipe-tipe stres psikologis :
a.      Tekanan
Tekanan merupakan suatu beban yang dirasakan oleh seseorang. Tekanan yang timbul dari tuntutan kehidupan sehari-hari dapat berasal dari dalam diri individu itu sendiri, misalnya apa yang kita inginkan atau harapan ternyata tidak sesuai dengan hasilnya. Tekanan yang berasal dari luar diri individu, misalnya paksaan saat ingin menempuh jalur pendidikan.
b.      Frustasi
Frustasi dapat muncul akibat adanya suatu kegagalan ketika seseorang ingin mencapai suatu hal atau tujuan yang diinginkannya.
c.       Konflik
Konflik dapat terjadi apabila seorang individu harus memilih antara dua tujuan atau dua tindakan yang tidak sejalan.
d.      Kecemasan
Kecemasan adalah emosi tidak menyenangkan yang ditandai oleh perasaan seperti khawatir, prihatin, tegang, dan takut yang dialami oleh semua manusia tetapi dengan kadar dan tingkatan yang berbeda-beda.

·         Tipe-tipe stres menurut Schafer (2000) :
a.      Neustres (Stres yang Netral)
Stres akan menjadi netral apabila seseorang dapat merespon tuntutan atau stresor dari dalam maupun luar dirinya dengan netral. Apabila pikiran dan tubuh dipacu, tetapi dampak yang dirasakan pada pikiran dan tubuh hanya sedikit maka seseorang mampu untuk menjalani kehidupannya seperti biasa.
b.      Distres (Stres yang Bersifat Negatif)
Seseorang menganggap pengalaman atau peristiwa yang dialaminya membahayakan atau tidak, tergantung pada derajat apakah seseorang tersebut menerima stresor dari dalam maupun luar dirinya sebagai sesuatu yang melebihi kemampuan yang dimilikinya untuk ditangani dan apakah itu mengancam kesejahteraannya atau tidak (Lazarus & Folkman, 1984). Gejala-gejala distres berupa : konsentrasi yang rendah, mudah marah, tangan sering berkeringat, pundak terasa kaku, cemas, depresi, dan berbicara dengan cepat. Penyebab stress negatif dapat berupa rasa kehilangan, kelemahan dan ketidakmampuan menyelesaikan masalah. Stres negatif ini dapat mengganggu keadaan jasmani maupun rohani seseorang.
c.       Positive Stress
Stres yang dapat memberikan manfaat ketika stres itu muncul, antara lain : membantu merespon dengan cepat dan segenap tenaga dalam keadaan darurat, membantu menyadari potensi diri yang sesungguhnya, berguna untuk tampil dengan baik ketika berada dibawah tekanan dan membantu mendorong seseorang ke titik batas. Stres yang positif biasanya merupakan hasil dari pengalaman yang mengesankan, menggembirakan dan tak terlupakan.

C.      Symptom-Reducing Respons Terhadap Stres
·     Mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) merupakan stratregi yang tidak disadari yang digunakan untuk mengatasi emosi negatif. Strategi ini tidak mengubah situasi stress melainkan bertujuan untuk mengubah cara menghayati atau memikirkan situasi. Jenis-jenis defense mechanism :
a.      Represi
Dalam represi, impuls dan memori yang menimbulkan rasa malu, rasa bersalah atau sikap mencela diri sendiri ditekan atau direpres masuk ke bawah sadar.
b.      Rasionalisasi
Rasionalisasi dalam mekanisme pertahanan diri adalah bertindak dengan menggunakan motif yang dapat diterima secara logis atau sosial, sedemikian rupa sehingga tampaknya bertindak secara rasional. Rasionalisasi memiliki dua fungsi, yaitu menghilangkan kekecewaan pada saat kita gagal mencapai tujuan dan merasionalisasikan apa yang telah kita lakukan untuk menempatkan perilaku kita dalam pandangan yang lebih menguntungkan.
c.       Pembentukan Reaksi
Pembentukan reaksi terjadi ketika orang melakukan perbuatan yang sebaliknya dari motif yang sesungguhnya.
d.      Proyeksi
Proyeksi adalah perilaku seseorang yang menutupi perilakunya yang tidak layak atau kurang baik, kemudian memproyeksikan kualitas atau sifat yang tidak baik tersebut pada orang lain.
e.      Penyangkalan
Penyangkalan adalah upaya untuk menolak kenyataan negatif yang ada pada diri kita atau keluarga kita.
f.        Intelektualisasi
Intelektualisasi adalah upaya melepaskan diri dari situasi stres dan menghadapinya dengan menggunakan istilah-istilah yang abstrak dan intelektual.
g.      Pengalihan
Mekanisme pertahanan yang dianggap dapat memenuhi fungsinya adalah mekanisme yang dapat menurunkan kecemasan dan memuaskan motif yang tidak dapat dibenarkan dengan cara melakukan pengalihan ke aktivitas lain.
·      Strategi coping untuk mengatasi stres minor merupakan respon stres ringan yang sangat dipengaruhi oleh belajar individu. Berlaku otomatis, tetapi lebih disadari oleh individu. Dipengaruhi oleh situasi, kekuatan, dan pola kebiasaan individu dalam menghadapi stress. Jenisnya : kontak fisik, makan, minum, tertawa, menangis dan lain-lain. Akan tetapi sifatnya tidak menghilangkan sumber stresnya, hanya mengurangi ketagangan akibat stresnya. Coping memiliki dua bentuk utama, yaitu :
a.   Strategi Terfokus Bermasalah (Problem Coping Focus), merupakan usaha seseorang untuk memfokuskan perhatian pada masalah atau situasi spesifik yang telah terjadi, lalu mencoba menemukan cara untuk mengubah atau menghindarinya. Strategi yang dapat ditempuh untuk memecahkan masalah, yaitu : menentukan masalahnya, mencari pemecahan alternatif, menimbang-nimbang alternatif tersebut dan memilih salah satunya dan mengimplementasikannya. Strategi ini juga dapat diarahkan ke dalam diri sendiri, dengan cara individu dapat mengubah dirinya sendiri dan mengubah lingkungan. Mengubah tingkat aspirasi, menemukan sumber pemuas alternatif dan mempelajari kecakapan baru. Kecakapan untuk menerapkan strategi tersebut tergantung pada pengalamannya dan kapasitasnya untuk mengendalikan diri. Strategi ini dapat mempersingkat waktu berlangsungnya depresi.
b.    Strategi Terfokus Emosi (Emotional Focus Coping), merupakan upaya untuk mencegah emosi negative menguasai diri seseorang atau mencegah terjadinya masalah yang tidak dapat dikendalikan. Cara-cara untuk mengatasi emosi negatif adalah :
o       Strategi Perilaku, misalnya latihan fisik untuk mengalihkan diri dari masalah yang di alami.
o       Strategi Kognitif, dilakukan dengan menyingkirkan pikiran tentang masalah yang di alami untuk sementara waktu misalnya memutuskan untuk tidak menguatirkan masalah tersebut.
o  Strategi Perenungan, dilakukan dengan cara mengisolasi diri untuk merenungkan betapa buruknya perasaan kita, menguatirkan konsekuensi peristiwa stres atau keadaan emosional kita, membicarakan berulang kali betapa buruknya segala sesuatu tanpa mengambil tindakan untuk mengubahnya.
o      Strategi Pengalihan, dilakukan dengan cara melibatkan diri dalam aktivitas yang menyenangkan dan meningkatkan kendali perasaan kita. Tujuannya adalah untuk menjauhkan diri dari pikiran negative dan mendapatkan kembali rasa mampu untuk menguasai masalah.
o Strategi Penghindaran Negatif, merupakan aktivitas yang dapat mengalihkan kita dari mood tetapi berbeda dengan strategi pengalihan. Bedanya adalah strategi penghindaran negatif ini merupakan aktivitas beresiko yang mungkin akan memperberat mood.

D.     Pendekatan Problem Solving Terhadap Stres
Merupakan jenis penyesuaian terhadap stress yang disadari. Untuk menghilangkan stres, kita harus menyadari apa yang menjadi penyebab dari stres yang kita derita, kemudian menghilangkan penyebabnya.
·         Meningkatkan toleransi stres :
a.      Toleransi terhadap tekanan
b.      Toleransi terhadap frustasi
c.       Toleransi terhadap konflik
d.      Toleransi terhadap kecemasan
·         Pendekatan yang berorientasi pada tugas :
a.  Pendekatan Asertif, yaitu pendekatan yang menekankan pada usaha-usaha dari individu itu sendiri untuk mengekspresikanb hak dan keinginannya tanpa merebut hak orang lain.
b.     Berkompromi, yaitu dapat dilakukan apabila agen sumber stresnya memiliki otoritas lebih tinggi dari kita atau seimbang dengan kita. Tipe-tipe kompromi adalah Comformity, Negotiation, Substitution.
c.  Pendekatan Menarik Diri, yaitu pendekatan ini dapat dilakukan apabila sumber stresnya tidak dapat dihilangkan dengan pendekatan asertif dan kompromi. Yang merupakan strategi sementara untuk mengatasi stres yang berakibat memperburuk kesehatan individu.

II. Hubungan Interpersonal
A.     Model-Model Hubungan Interpersonal
·         Model Pertukaran Sosial
Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu transaksi dagang. Orang berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu agar dapat memenuhi kebutuhannya. Hubungan interpersonal yang berlangsung mengikuti kaidah transaksional yaitu dalam sebuah transaksi apakah memperoleh keuntungan atau memperoleh kerugian. Thibault dan Kelley menyimpulkan bahwa model pertukaran sosial adalah bahwa setiap individu secara sukarela memasuki dan tinggal dalam hubungan sosial hanya selama hubungan tersebut cukup memuaskan yang ditinjau dari segi ganjaran dan biaya. Pada model ini, terdapat empat konsep pokok, yaitu :
a.    Ganjaran, yaitu sebagai akibat yang diperoleh seseorang dari suatu hubungan yang dinilai positif, berupa uang, penerimaan sosial dan lain-lain.
b.    Biaya, yaitu akibat yang diperoleh dari suatu hubungan yang dinilai negatif, berupa waktu, usaha, konflik, kecemasan dan kondisi lain yang dapat menimbulkan efek tidak menyenangkan.
c.     Hasil/Laba, yaitu ganjaran dikurangi biaya. Saat seorang individu merasa dalam suatu hubungan interpersonal, jika ia merasa tidak memperoleh laba maka ia akan mencari hubungan lain yang dapat mendatangkan laba baginya.
d.    Tingkat perbandingan, yaitu menunjukkan dtandar yang dipakai sebagai kriteria dalam menilai hubungan individu pada waktu sekarang.
·         Analisis Transaksional
Berne (1961) mendefinisikan analisis transaksional sebagai sistematika analisis struktur transaksi yang mencakup aspek-aspek kepribadian dan dinamika sosial yang disusun berdasarkan pengalaman klinis serta merupakan bentuk terapi rasional yang mudah dipahami dan mampu menyesuaikan dengan latar budaya klien. Analisis transaksional merupakan metode yang menyelidiki peristiwa dalam interaksi orang per orang, cara mereka adalah dengan memberikan umpan balik serta pola permainan status ego masing-masing. Analisis transaksional berpijak pada asumsi-asumsi bahwa setiap orang sanggup memahami putusan-putusan masa lampaunya dan mampu memilih untuk memutuskan kembali setiap keputusan yang telah dibuat sebelumnya (Covey, 2005). Konsep utama merupakan unsur-unsur penting yang melengkapi model analisis transaksional secara keseluruhan. Konsep utama tersebut adalah : Status Ego, menurut Berne (1961) setiap gambaran tingkah laku yang diperlihatkan oleh individu merupakan manifestasi dari proses psikologis dalam dirinya yang terbentuk atas proses hasil timbal balik setelah individu menafsir dan mengolah setiap informasi yang diterima dari dunia luar dirinya. Terdapat tiga macam status ego, yaitu status ego orang tua (parent), status ego dewasa (adult), status ego anak (child).

B.      Pembentukan Kesan dan Ketertarikan Interpersonal
·         Pembentukan Kesan
Menurut Sears dkk (1992) individu cenderung membentuk kesan panjang lebar mengenai orang lain berdasarkan informasi yang terbatas. Hanya dengan melihat dari potret atau secara langsung selama beberapa saat saja, seseorang sudah cenderung menilai sebagian besar karakter orang yang diamatinya. Beberapa orang tidak percaya dengan pendapat ini, karena umumnya individu menilai orang lain bukan hanya mengamatinya tetapi dilihat juga dari segi intelegensi, usia, latar belakang, ras, agama, pendidikan, kejujuran dan sebagainya.
a.      Evaluasi : Kesan pertama, menurut Sears dkk (1992), aspek pertama yang paling penting dan kuat adalah evaluasi. Apakah kita akan menyukai atau tidak menyukai seseorang? Kesan awal ini dapat dilihat dari beberapa indikasi.
b.   Kesan menyeluruh, untuk menjelaskan bagaimana orang mengevaluasi terhadap orang lain dapat dilakukan dari kesan yang diterima secara keseluruhan. Sears dkk (1992) membagi kesan menyeluruh menjadi dua, yaitu model penyamarataan dan model menambahkan. Model penyamarataan, yaitu menyatakan bahwa individu dapat menyusun potongan-potongan informasi yang terpisah-pisah menjadi suatu kesan yang menyeluruh dan sederhana. Model menambahkan, yaitu menyatakan bahwa individu mempersatukan potongan-potongan informasi yang terpisah-pisah dengan jalan menambahkan nilai ukuran dan bukannya dengan membuat rata-rata.
c.   Konsistensi. Individu cenderung membentuk karakteristik yang konsisten secara evaluatif terhadap individu lainnya meski hanya memiliki sedikit informasi. Karena evaluasi merupakan dimensi paling penting di dalam persepsi manusia sehingga kita cenderung akan menilai baik atau buruk dan bukan keduanya (Sears dkk, 1992). Kecenderungan terhadap konsistensi disebut hallo effect. Didalam hallo effect orang yang telah dilabel baik selalu dikelilingi oleh suasana positif sedangkan pada orang yang telah dilabel buruk selalu dipandang memiliki kualitas yang buruk.
d.      Prasangka Positif, menurut Sears dkk (1992) adalah kecenderungan menilai orang lain secara positif sehingga mengalahkan evaluasi negatif.
·         Ketertarikan Interpersonal
Ketertarikan interpersonal adalah sikap seseorang mengenai orang lain dimana ketertarikan itu meliputi penilaian terhadap orang lain sepanjang suatu dimensi yang berkisar dari sangat suka hingga sangat tidak suka atau membencinya. Seseorang mulai tertarik terhadap orang lain karena beberapa faktor, yaitu :
a.      Karakter pribadi, berupa ketulusan, kehangatan personal, kompetensi, daya tarik fisik atau ketertarikan fisik
b.      Kesamaan diri
c.       Keakraban
d.      Kedekatan
e.      Saling menyukai dan kesukaan

C.      Intimasi dan Hubungan Pribadi
Sternberg (1993) berpendapat bahwa intimasi adalah sebuah ikatan emosional antara dua individu yang didasari oleh kesejahteraan satu sama lain, keinginan untuk memperlihatkan pribadi masing-masing yang terkadang lebih bersifat sensitif serta saling berbagi kegemaran dan aktivitas yang sama.
Levinger & Snoek (Brernstein dkk, 1998) berpendapat bahwa intimasi merupakan suatu bentuk hubungan yang berkembang dari suatu hubungan yang bersifat timbal balik antara dua individu. Keduanya saling berbagi pengalaman dan informasi bukan saja tentang hal-hal yang berkaitan dengan kejadian yang terjadi di sekitar mereka, tetapi lebih bersifat pribadi seperti pengalaman hidup, keyakinan-keyakinan, pilihan-pilihan, tujuan hidup dan filosofi hidup.
Jadi dapat dikatakan bahwa, intimasi adalah suatu kedekatan perasaan antara dua orang dan kekuatan yang mengikat mereka untuk bersama. Sebuah hubungan akan mencapai keintiman dan harmonis jika kedua pihak saling mengerti, percaya, terbuka, dan saling mendukung

Sumber :