Selasa, 08 April 2014

Kesehatan Mental : Tugas II

I. STRES
A.     Arti Penting Stres
·         Pengertian Stres :
Stres merupakan suatu kondisi yang dinamis saat seorang individu dihadapkan pada peluang, tuntutan atau sumber daya yang terkait dengan apa yang diinginkan individu tersebut dan yang hasilnya dipandang tidak pasti dan penting.
J.P. Chaplin dalam Kamus Lengkap Psikologi mendefinisikan stres sebagai suatu keadaan tertekan, baik secara fisik maupun psikologis. Menurut Atkinson (1983), stress terjadi ketika orang dihadapkan dengan peristiwa yang mereka rasakan sebagai ancaman bagi kesehatan fisik maupun psikologisnya. Keadaan sosial, lingkungan dan fisikal yang menyebabkan stres dinamakan stresor. Sementara reaksi orang terhadap peristiwa tersebut dinamakan respon stres atau stres.
Menurut Lazarus 1999, stres adalah rasa cemas atau terancam yang timbul ketika kita menginterpretasikan atau menilai suatu situasi sebagai melampaui kemampuan psikologis kita untuk bisa menanganinya secara memadai.
·         Efek-efek dari stres dapat berupa :
Kondisi fisik maupun mentalnya memburuk, mudah lelah, otot-otot tegang, pola tidur terganggu, sulit membuat keputusan, tidak tenang secara emosional, tidak memiliki tenaga untuk melakukan hal-hal bahkan hal yang ringan sekalipun, tidak bisa santai, tekanan darah tinggi,  dan lain-lain.
·         General Adaptation Syndrom menurut Hans Selye, terdiri dari tiga tahap:
Tahap pertama dinamakan alarm (tanda bahaya). Organisme berorientasi terhadap tuntutan yang diberikan oleh lingkungannya dan mulai menghayatinya sebagai sebuah ancaman. Tahap ini tidak dapat bertahan lama. Setelah itu organisme memasuki tahap kedua yaitu resistance (tahap perlawanan). Organisme memobilisasi sumber-sumbernya agar mampu menghadapi tuntutan. Jika tuntutan berlangsung terlalu lama maka sumber-sumber penyesuaian mulai habis dan organisme mencapai tahap yang terakhir yaitu exhaustion (tahap kehabisan tenaga).
·         Faktor-faktor yang menjadi penyebab stres :
-          Faktor Individual, berupa karakteristik kepribadian individu itu sendiri, aktifitas fisik dan intelektual individu yang berat yang melampaui kemampuan yang dimilikinya, masalah ekonomi pribadi dan lain-lain.
-          Faktor Sosial, berupa lingkungan fisik, situasi yang dihadapi, dan lain-lain.

B.      Tipe-Tipe Stres Psikologis
·         Tipe-tipe stres psikologis :
a.      Tekanan
Tekanan merupakan suatu beban yang dirasakan oleh seseorang. Tekanan yang timbul dari tuntutan kehidupan sehari-hari dapat berasal dari dalam diri individu itu sendiri, misalnya apa yang kita inginkan atau harapan ternyata tidak sesuai dengan hasilnya. Tekanan yang berasal dari luar diri individu, misalnya paksaan saat ingin menempuh jalur pendidikan.
b.      Frustasi
Frustasi dapat muncul akibat adanya suatu kegagalan ketika seseorang ingin mencapai suatu hal atau tujuan yang diinginkannya.
c.       Konflik
Konflik dapat terjadi apabila seorang individu harus memilih antara dua tujuan atau dua tindakan yang tidak sejalan.
d.      Kecemasan
Kecemasan adalah emosi tidak menyenangkan yang ditandai oleh perasaan seperti khawatir, prihatin, tegang, dan takut yang dialami oleh semua manusia tetapi dengan kadar dan tingkatan yang berbeda-beda.

·         Tipe-tipe stres menurut Schafer (2000) :
a.      Neustres (Stres yang Netral)
Stres akan menjadi netral apabila seseorang dapat merespon tuntutan atau stresor dari dalam maupun luar dirinya dengan netral. Apabila pikiran dan tubuh dipacu, tetapi dampak yang dirasakan pada pikiran dan tubuh hanya sedikit maka seseorang mampu untuk menjalani kehidupannya seperti biasa.
b.      Distres (Stres yang Bersifat Negatif)
Seseorang menganggap pengalaman atau peristiwa yang dialaminya membahayakan atau tidak, tergantung pada derajat apakah seseorang tersebut menerima stresor dari dalam maupun luar dirinya sebagai sesuatu yang melebihi kemampuan yang dimilikinya untuk ditangani dan apakah itu mengancam kesejahteraannya atau tidak (Lazarus & Folkman, 1984). Gejala-gejala distres berupa : konsentrasi yang rendah, mudah marah, tangan sering berkeringat, pundak terasa kaku, cemas, depresi, dan berbicara dengan cepat. Penyebab stress negatif dapat berupa rasa kehilangan, kelemahan dan ketidakmampuan menyelesaikan masalah. Stres negatif ini dapat mengganggu keadaan jasmani maupun rohani seseorang.
c.       Positive Stress
Stres yang dapat memberikan manfaat ketika stres itu muncul, antara lain : membantu merespon dengan cepat dan segenap tenaga dalam keadaan darurat, membantu menyadari potensi diri yang sesungguhnya, berguna untuk tampil dengan baik ketika berada dibawah tekanan dan membantu mendorong seseorang ke titik batas. Stres yang positif biasanya merupakan hasil dari pengalaman yang mengesankan, menggembirakan dan tak terlupakan.

C.      Symptom-Reducing Respons Terhadap Stres
·     Mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) merupakan stratregi yang tidak disadari yang digunakan untuk mengatasi emosi negatif. Strategi ini tidak mengubah situasi stress melainkan bertujuan untuk mengubah cara menghayati atau memikirkan situasi. Jenis-jenis defense mechanism :
a.      Represi
Dalam represi, impuls dan memori yang menimbulkan rasa malu, rasa bersalah atau sikap mencela diri sendiri ditekan atau direpres masuk ke bawah sadar.
b.      Rasionalisasi
Rasionalisasi dalam mekanisme pertahanan diri adalah bertindak dengan menggunakan motif yang dapat diterima secara logis atau sosial, sedemikian rupa sehingga tampaknya bertindak secara rasional. Rasionalisasi memiliki dua fungsi, yaitu menghilangkan kekecewaan pada saat kita gagal mencapai tujuan dan merasionalisasikan apa yang telah kita lakukan untuk menempatkan perilaku kita dalam pandangan yang lebih menguntungkan.
c.       Pembentukan Reaksi
Pembentukan reaksi terjadi ketika orang melakukan perbuatan yang sebaliknya dari motif yang sesungguhnya.
d.      Proyeksi
Proyeksi adalah perilaku seseorang yang menutupi perilakunya yang tidak layak atau kurang baik, kemudian memproyeksikan kualitas atau sifat yang tidak baik tersebut pada orang lain.
e.      Penyangkalan
Penyangkalan adalah upaya untuk menolak kenyataan negatif yang ada pada diri kita atau keluarga kita.
f.        Intelektualisasi
Intelektualisasi adalah upaya melepaskan diri dari situasi stres dan menghadapinya dengan menggunakan istilah-istilah yang abstrak dan intelektual.
g.      Pengalihan
Mekanisme pertahanan yang dianggap dapat memenuhi fungsinya adalah mekanisme yang dapat menurunkan kecemasan dan memuaskan motif yang tidak dapat dibenarkan dengan cara melakukan pengalihan ke aktivitas lain.
·      Strategi coping untuk mengatasi stres minor merupakan respon stres ringan yang sangat dipengaruhi oleh belajar individu. Berlaku otomatis, tetapi lebih disadari oleh individu. Dipengaruhi oleh situasi, kekuatan, dan pola kebiasaan individu dalam menghadapi stress. Jenisnya : kontak fisik, makan, minum, tertawa, menangis dan lain-lain. Akan tetapi sifatnya tidak menghilangkan sumber stresnya, hanya mengurangi ketagangan akibat stresnya. Coping memiliki dua bentuk utama, yaitu :
a.   Strategi Terfokus Bermasalah (Problem Coping Focus), merupakan usaha seseorang untuk memfokuskan perhatian pada masalah atau situasi spesifik yang telah terjadi, lalu mencoba menemukan cara untuk mengubah atau menghindarinya. Strategi yang dapat ditempuh untuk memecahkan masalah, yaitu : menentukan masalahnya, mencari pemecahan alternatif, menimbang-nimbang alternatif tersebut dan memilih salah satunya dan mengimplementasikannya. Strategi ini juga dapat diarahkan ke dalam diri sendiri, dengan cara individu dapat mengubah dirinya sendiri dan mengubah lingkungan. Mengubah tingkat aspirasi, menemukan sumber pemuas alternatif dan mempelajari kecakapan baru. Kecakapan untuk menerapkan strategi tersebut tergantung pada pengalamannya dan kapasitasnya untuk mengendalikan diri. Strategi ini dapat mempersingkat waktu berlangsungnya depresi.
b.    Strategi Terfokus Emosi (Emotional Focus Coping), merupakan upaya untuk mencegah emosi negative menguasai diri seseorang atau mencegah terjadinya masalah yang tidak dapat dikendalikan. Cara-cara untuk mengatasi emosi negatif adalah :
o       Strategi Perilaku, misalnya latihan fisik untuk mengalihkan diri dari masalah yang di alami.
o       Strategi Kognitif, dilakukan dengan menyingkirkan pikiran tentang masalah yang di alami untuk sementara waktu misalnya memutuskan untuk tidak menguatirkan masalah tersebut.
o  Strategi Perenungan, dilakukan dengan cara mengisolasi diri untuk merenungkan betapa buruknya perasaan kita, menguatirkan konsekuensi peristiwa stres atau keadaan emosional kita, membicarakan berulang kali betapa buruknya segala sesuatu tanpa mengambil tindakan untuk mengubahnya.
o      Strategi Pengalihan, dilakukan dengan cara melibatkan diri dalam aktivitas yang menyenangkan dan meningkatkan kendali perasaan kita. Tujuannya adalah untuk menjauhkan diri dari pikiran negative dan mendapatkan kembali rasa mampu untuk menguasai masalah.
o Strategi Penghindaran Negatif, merupakan aktivitas yang dapat mengalihkan kita dari mood tetapi berbeda dengan strategi pengalihan. Bedanya adalah strategi penghindaran negatif ini merupakan aktivitas beresiko yang mungkin akan memperberat mood.

D.     Pendekatan Problem Solving Terhadap Stres
Merupakan jenis penyesuaian terhadap stress yang disadari. Untuk menghilangkan stres, kita harus menyadari apa yang menjadi penyebab dari stres yang kita derita, kemudian menghilangkan penyebabnya.
·         Meningkatkan toleransi stres :
a.      Toleransi terhadap tekanan
b.      Toleransi terhadap frustasi
c.       Toleransi terhadap konflik
d.      Toleransi terhadap kecemasan
·         Pendekatan yang berorientasi pada tugas :
a.  Pendekatan Asertif, yaitu pendekatan yang menekankan pada usaha-usaha dari individu itu sendiri untuk mengekspresikanb hak dan keinginannya tanpa merebut hak orang lain.
b.     Berkompromi, yaitu dapat dilakukan apabila agen sumber stresnya memiliki otoritas lebih tinggi dari kita atau seimbang dengan kita. Tipe-tipe kompromi adalah Comformity, Negotiation, Substitution.
c.  Pendekatan Menarik Diri, yaitu pendekatan ini dapat dilakukan apabila sumber stresnya tidak dapat dihilangkan dengan pendekatan asertif dan kompromi. Yang merupakan strategi sementara untuk mengatasi stres yang berakibat memperburuk kesehatan individu.

II. Hubungan Interpersonal
A.     Model-Model Hubungan Interpersonal
·         Model Pertukaran Sosial
Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu transaksi dagang. Orang berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu agar dapat memenuhi kebutuhannya. Hubungan interpersonal yang berlangsung mengikuti kaidah transaksional yaitu dalam sebuah transaksi apakah memperoleh keuntungan atau memperoleh kerugian. Thibault dan Kelley menyimpulkan bahwa model pertukaran sosial adalah bahwa setiap individu secara sukarela memasuki dan tinggal dalam hubungan sosial hanya selama hubungan tersebut cukup memuaskan yang ditinjau dari segi ganjaran dan biaya. Pada model ini, terdapat empat konsep pokok, yaitu :
a.    Ganjaran, yaitu sebagai akibat yang diperoleh seseorang dari suatu hubungan yang dinilai positif, berupa uang, penerimaan sosial dan lain-lain.
b.    Biaya, yaitu akibat yang diperoleh dari suatu hubungan yang dinilai negatif, berupa waktu, usaha, konflik, kecemasan dan kondisi lain yang dapat menimbulkan efek tidak menyenangkan.
c.     Hasil/Laba, yaitu ganjaran dikurangi biaya. Saat seorang individu merasa dalam suatu hubungan interpersonal, jika ia merasa tidak memperoleh laba maka ia akan mencari hubungan lain yang dapat mendatangkan laba baginya.
d.    Tingkat perbandingan, yaitu menunjukkan dtandar yang dipakai sebagai kriteria dalam menilai hubungan individu pada waktu sekarang.
·         Analisis Transaksional
Berne (1961) mendefinisikan analisis transaksional sebagai sistematika analisis struktur transaksi yang mencakup aspek-aspek kepribadian dan dinamika sosial yang disusun berdasarkan pengalaman klinis serta merupakan bentuk terapi rasional yang mudah dipahami dan mampu menyesuaikan dengan latar budaya klien. Analisis transaksional merupakan metode yang menyelidiki peristiwa dalam interaksi orang per orang, cara mereka adalah dengan memberikan umpan balik serta pola permainan status ego masing-masing. Analisis transaksional berpijak pada asumsi-asumsi bahwa setiap orang sanggup memahami putusan-putusan masa lampaunya dan mampu memilih untuk memutuskan kembali setiap keputusan yang telah dibuat sebelumnya (Covey, 2005). Konsep utama merupakan unsur-unsur penting yang melengkapi model analisis transaksional secara keseluruhan. Konsep utama tersebut adalah : Status Ego, menurut Berne (1961) setiap gambaran tingkah laku yang diperlihatkan oleh individu merupakan manifestasi dari proses psikologis dalam dirinya yang terbentuk atas proses hasil timbal balik setelah individu menafsir dan mengolah setiap informasi yang diterima dari dunia luar dirinya. Terdapat tiga macam status ego, yaitu status ego orang tua (parent), status ego dewasa (adult), status ego anak (child).

B.      Pembentukan Kesan dan Ketertarikan Interpersonal
·         Pembentukan Kesan
Menurut Sears dkk (1992) individu cenderung membentuk kesan panjang lebar mengenai orang lain berdasarkan informasi yang terbatas. Hanya dengan melihat dari potret atau secara langsung selama beberapa saat saja, seseorang sudah cenderung menilai sebagian besar karakter orang yang diamatinya. Beberapa orang tidak percaya dengan pendapat ini, karena umumnya individu menilai orang lain bukan hanya mengamatinya tetapi dilihat juga dari segi intelegensi, usia, latar belakang, ras, agama, pendidikan, kejujuran dan sebagainya.
a.      Evaluasi : Kesan pertama, menurut Sears dkk (1992), aspek pertama yang paling penting dan kuat adalah evaluasi. Apakah kita akan menyukai atau tidak menyukai seseorang? Kesan awal ini dapat dilihat dari beberapa indikasi.
b.   Kesan menyeluruh, untuk menjelaskan bagaimana orang mengevaluasi terhadap orang lain dapat dilakukan dari kesan yang diterima secara keseluruhan. Sears dkk (1992) membagi kesan menyeluruh menjadi dua, yaitu model penyamarataan dan model menambahkan. Model penyamarataan, yaitu menyatakan bahwa individu dapat menyusun potongan-potongan informasi yang terpisah-pisah menjadi suatu kesan yang menyeluruh dan sederhana. Model menambahkan, yaitu menyatakan bahwa individu mempersatukan potongan-potongan informasi yang terpisah-pisah dengan jalan menambahkan nilai ukuran dan bukannya dengan membuat rata-rata.
c.   Konsistensi. Individu cenderung membentuk karakteristik yang konsisten secara evaluatif terhadap individu lainnya meski hanya memiliki sedikit informasi. Karena evaluasi merupakan dimensi paling penting di dalam persepsi manusia sehingga kita cenderung akan menilai baik atau buruk dan bukan keduanya (Sears dkk, 1992). Kecenderungan terhadap konsistensi disebut hallo effect. Didalam hallo effect orang yang telah dilabel baik selalu dikelilingi oleh suasana positif sedangkan pada orang yang telah dilabel buruk selalu dipandang memiliki kualitas yang buruk.
d.      Prasangka Positif, menurut Sears dkk (1992) adalah kecenderungan menilai orang lain secara positif sehingga mengalahkan evaluasi negatif.
·         Ketertarikan Interpersonal
Ketertarikan interpersonal adalah sikap seseorang mengenai orang lain dimana ketertarikan itu meliputi penilaian terhadap orang lain sepanjang suatu dimensi yang berkisar dari sangat suka hingga sangat tidak suka atau membencinya. Seseorang mulai tertarik terhadap orang lain karena beberapa faktor, yaitu :
a.      Karakter pribadi, berupa ketulusan, kehangatan personal, kompetensi, daya tarik fisik atau ketertarikan fisik
b.      Kesamaan diri
c.       Keakraban
d.      Kedekatan
e.      Saling menyukai dan kesukaan

C.      Intimasi dan Hubungan Pribadi
Sternberg (1993) berpendapat bahwa intimasi adalah sebuah ikatan emosional antara dua individu yang didasari oleh kesejahteraan satu sama lain, keinginan untuk memperlihatkan pribadi masing-masing yang terkadang lebih bersifat sensitif serta saling berbagi kegemaran dan aktivitas yang sama.
Levinger & Snoek (Brernstein dkk, 1998) berpendapat bahwa intimasi merupakan suatu bentuk hubungan yang berkembang dari suatu hubungan yang bersifat timbal balik antara dua individu. Keduanya saling berbagi pengalaman dan informasi bukan saja tentang hal-hal yang berkaitan dengan kejadian yang terjadi di sekitar mereka, tetapi lebih bersifat pribadi seperti pengalaman hidup, keyakinan-keyakinan, pilihan-pilihan, tujuan hidup dan filosofi hidup.
Jadi dapat dikatakan bahwa, intimasi adalah suatu kedekatan perasaan antara dua orang dan kekuatan yang mengikat mereka untuk bersama. Sebuah hubungan akan mencapai keintiman dan harmonis jika kedua pihak saling mengerti, percaya, terbuka, dan saling mendukung

Sumber :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar