Minggu, 06 Desember 2015

Sistem Informasi Psikologi Tugas III

Pekerjaan yang Ingin Dicapai Setelah Lulus Kuliah

Setelah lulus kuliah setiap orang pasti memiliki keinginan untuk bekerja. Baik bekerja yang sesuai dengan keinginan sewaktu kecil atau juga sesuai dengan keinginan yang sekarang. Awal mula memasuki dunia perkuliahan psikologi, saya berkeinginan untuk menjadi seorang Psikolog. Karena menurut saya psikolog adalah seseorang yang luar biasa. Mereka dapat memahami orang lain, dan mampu membantu memecahkan masalah yang terkadang kita sulit untuk memecahkannya sendiri. Selain itu, saat pengobatannya pun tidak menggunakan obat tetapi lebih ke arah konseling. Hanya dengan berbicara dengan klien, mereka dapat menggali informasi yang dibutuhkan dalam proses pengobatan walau terkadang tidak semua klien mudah untuk digali informasinya, tetapi psikolog selalu memiliki cara yang luar biasa untuk dapat menggali informasi yang dibutuhkan untuk pengobatan dari kliennya.
Saya juga sempat berkeinginan untuk menjadi penyiar radio, khususnya penyiar radio acara korea. Hal ini terinspirasi dari salah satu penyiar radio yang membawakan acara di radio mengenai hal-hal tentang korea, setelah mendengarkan acaranya dari 2013 sampai sekarang. Alasan saya berkeinginan menjadi penyiar radio adalah karena menurut saya saat bercuap-cuap di radio, kita dapat membuat orang lain bahagia dengan ucapan-ucapan yang dapat menghibur pendengarnya walaupun tanpa bertatap muka. Selain itu, alasan lainnya adalah ia selalu menjadi perwakilan dari media partner dalam event-event khususnya konser artis korea di Indonesia dan terlebih lagi saat ia menjadi perwakilan tersebut, ia mendapatkan free menonton konser dan bisa bertatap muka dengan artis-artis korea saat konferensi pers. Itulah alasan lainnya mengapa saya ingin menjadi penyiar radio acara korea sepertinya.
Tetapi seiring berjalannya waktu, saya memutuskan untuk menjadi PNS setelah lulus kuliah nanti. Keputusan saya untuk menjadi PNS didasarkan karena sebagian besar saudara-saudara saya adalah PNS dan saya tertarik untuk menjadi PNS. PNS yang saya inginkan adalah PNS yang bekerja di pemerintahan khususnya pemerintahan daerah Bekasi karena saya tidak ingin bekerja terlalu jauh dari daerah Bekasi, tetapi apabila dituntut untuk bekerja di luar daerah Bekasi, mungkin saja saya akan tetap menjalaninya. Selain itu, alasan saya ingin menjadi PNS adalah karena menurut saya walaupun pekerjaannya berat karena berhubungan dengan pemerintahan tetapi kalau melihat orang-orang yang bekerja disana kelihatannya santai tidak terlalu berat, dan juga saya tertarik dengan gajinya, serta dari yang saya tahu bahwa pensiunan PNS akan terjamin hidupnya karena tetap mendapatkan uang pensiun walaupun sudah tidak bekerja.
Sedangkan untuk pekerjaan lain yang saya inginkan adalah menjadi ibu rumah tangga seperti ibu saya. Menurut saya ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang mulia, hebat dan luar biasa. Seorang ibu bisa mengurus secara sekaligus semua keperluan rumah tangga dengan baik, mulai dari mengurus masalah dapur, mengurus rumah, mengurus keuangan, mengurus suami dan anak-anaknya ditambah sekarang ibu saya juga mengurus cucu. Walaupun terkadang ibu saya disibukkan karena mengurus cucunya, namun tugasnya beliau sebagai ibu rumah tangga tidak dilalaikan dan tetap dikerjakan dengan baik.

Rabu, 28 Oktober 2015

Sistem Informasi Psikologi Tugas II

PENERAPAN SISTEM INFORMASI DI BIDANG PSIKOLOGI

Sistem informasi merupakan suatu sistem dalam suatu organisasi yang merupakan kombinasi dari orang-orang, fasilitas, teknologi, media, prosedur-prosedur dan pengendalian yang ditujukan untuk mendapatkan jalur komunikasi penting, alat proses tipe transaksi rutin tertentu, pemberi sinyal kepada manajemen dan yang lainnya terhadap kejadian-kejadian internal dan eksternal yang penting serta penyedia suatu dasar informasi untuk pengambilan keputusan. Sedangkan Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku sebagai manifestasi dari kesadaran, proses mental, aktivitas motorik, kognitif dan juga emosional.
Jadi, Sistem Informasi Psikologi adalah suatu sistem atau tata cara yang berkaitan dengan ilmu psikologi yang merupakan kombinasi dari manusia, fasilitas atau alat teknologi, media, prosedur, dan pengendalian yang dimaksudkan untuk mengumpulkan, mengolah, dan menyimpan data mengenai perilaku yang terlihat maupun yang tidak terlihat secara langsung serta proses mental yang terjadi pada manusia sehingga data tersebut dapat diubah menjadi informasi yang dapat digunakan untuk tujuan tertentu. Penerapan sistem informasi dibidang psikologi sangat banyak, beberapa diantaranya adalah untuk:
1.  Tes kepribadian. Tes kepribadian merupakan jenis tes yang bertujuan untuk mengetahui kepribadian seseorang. Dalam tes kepribadian ini terdapat 12 kategori kepribadian yang dapat dipili oleh user untuk mengukur kepribadiannya masing-masing, dimana ke-12 kategori kepribadian tersebut terdiri dari: Kepribadian Hipokondriasis, Kepribadian Depresi, Kepribadian Psikopatis, Kepribadian Paranoia, Kepribadian Panik, Kepribadian Extrovert, Kepribadian Introvert, Kepribadian Romantis, Kepribadian Jujur, Kepribadian Bersahabat, Kepribadian Bertanggung Jawab, Kepribadian Pemimpin. Setelah user memilih salah satu dari kategori kepribadian tersebut, lalu akan dilakukan proses pengukuran. Pengukuran dilakukan melalui sejumlah pertanyaan yang harus dijawab oleh user. Disini user hanya perlu memilih pilihan Ya atau Tidak. Apabila pertanyaan yang ditampilkan sesuai dengan kepribadian user maka user harus memilih Ya, dan sebaliknya. Dalam setiap pertanyaan memiliki nilai tersendiri. DI akhir pertanyaan, nilai-nilai yang didapat akan diakumulasikan sehingga akan didapat suatu total nilai yang akan dilanjutkan pada sebuah kesimpulan.
2.      E-Counseling atau E-mail Counseling merupakan pelayanan intervensi psikologi yang dilakukan melalui internet. Dimana, proses terapi terlebih dahulu dilakukan melalui media ini lalu kemudian menyusun rencana dalam melakukan intervensi psikologi setelah itu proses dilanjutkan secara tatap muka. Fungsi dari e-counseling adalah untuk membantu terapis dalam mengumpulkan sejumlah data yang terkait dengan kliennya sebelum akhirnya terapis dan klien sepakat untuk bertemu secara langsung untuk melakukan proses terapis selanjutnya. Dalam aplikasinya, psikoterapi online menawarkan tantangan etika baru bagi mereka (para terapis) yang tertarik untuk menggunakan media ini dalam memberikan pelayanan psikologi.

Sumber:
Basuki, A.M. Heru. (2008). Psikologi umum. Depok: Universitas Gunadarma.
Hutahaean, J. (2014). Konsep sistem informasi. Yogyakarta: Deepublish.

Sabtu, 03 Oktober 2015

Sistem Informasi Psikologi Tugas I

SISTEM INFORMASI DAN PENERAPANNYA DALAM BIDANG MANUFAKTUR

Menurut Hutahaean (2014), sistem informasi adalah suatu sistem didalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengelolaan transaksi harian, mendukung operasi, bersifat manajerial, dan kegiatan strategi dari suatu organisasi dan menyediakan pihak luar tertentu dengan laporan-laporan yang dibutuhkan. Sistem informasi juga dapat didefinisikan sebagai suatu sistem dalam suatu organisasi yang merupakan kombinasi dari orang-orang, fasilitas, teknologi, media, prosedur-prosedur dan pengendalian yang ditujukan untuk mendapatkan jalur komunikasi penting, alat proses tipe transaksi rutin tertentu, pemberi sinyal kepada manajemen dan yang lainnya terhadap kejadian-kejadian internal dan eksternal yang penting serta penyedia suatu dasar informasi untuk pengambilan keputusan.
Saat ini sistem informasi memiliki perkembangan yang pesat sehingga membuat sistem informasi dapat dengan mudah diterapkan pada berbagai bidang salah satunya dalam bidang manufaktur. Sistem informasi dalam bidang manufaktur banyak dipakai di perusahaan manufaktur atau perusahaan yang menghasilkan produk berupa barang yang dapat digunakan sebagai penyelesaian masalah untuk bidang manufaktur sehingga proses dari produksi sampai barang jadi dapat lebih efektif dan efisien. Sistem informasi manufaktur terdiri atas subsistem input, database, dan subsistem output. Subsistem input digunakan untuk mengumpulkan data dan memasukannya ke dalam database yang meliputi pemrosesan data, teknik industri, dan inteligensi manufaktur. Subsistem pemrosesan data mengumpulkan data lingkungan sebagai hasil dari transaksi dengan pemasok, subsistem teknik industri mengumpulkan informasi internal yang menjelaskan sistem produksi fisik, sedangkan subsistem inteligensi manufaktur mengumpulkan data lingkungan yang menjelaskan serikat pekerja dan pemasok. Sedangkan untuk subsistem output digunakan untuk menelusuri arus bahan sepanjang bidang produksi yang meliputi produksi, inventarisasi, kualitas, dan biaya. Subsistem produksi menjelaskan setiap langkah proses transformasi yaitu dari pemesanan bahan mentah sampai peluncuran barang jadi ke pasar, subsistem inventarisasi memelihara record konseptual yaitu dari bahan mentah ke pemrosesan dan akhirnya sampai barang jadi, subsistem kualitas digunakan untuk memastikan bahwa tingkat kualitas bahan mentah yang diterima dari pemasok memenuhi standart yang dikehendaki, subsistem biaya memberikan informasi kepada eksekutif perusahaan dan manajemen manufaktur mengenai biaya proses transformasi.

Sumber:
Hutahaean, J. (2014). Konsep sistem informasi. Yogyakarta: Deepublish.
Tangkilisan, H. N. S. (2007). Manajemen publik. Jakarta: Grasindo.

Minggu, 05 Juli 2015

Psikoterapi Tugas III

PROSES THERAPEUTIC
 
Nama anggota kelompok:
  • Aini Putri H.              (10512501)
  • Diella Putri P.            (12512085)
  • Dinar Ajeng P.          (12512172)
  • Nunik Rahmatika S. (15512435)
  • Prestila Juli A.           (15512705)
  • Rheza Putri P.           (16512234)
  
Carilah 1 contoh kasus nyata, yang dikutip dari sumber ilmiah (jurnal, artikel penelitian), yang menggambarkan bahwa proses therapeutik dapat bekerja secara tepat dalam membantu proses pemulihan psikologis  klien.

  1. Gangguan apa yang terjadi pada klien ?
Kecemasan pada ibu saat menghadapi proses persalinan yang ditandai dengan tegang, bingung, sering bertanya kepada petugas tentang perkembangan kemajuan persalinan, perasaan tidak menentu, gelisah, gampang menangis, dan lain sebagainya.

  1. Metode Therapeutik apa yang digunakan ?
Metode komunikasi Therapeutik (meningkatkan hubungan interpersonal). Dimana cara untuk mengurangi kecemasan antara lain: memberikan informasi untuk mengetahui ketakutan yang jelas, membuat hubungan kerja sama dengan pendamping, menjadi pendengar yang baik, menunjukkan sikap simpatik, membantu dan komunikatif terhadap ibu yang akan bersalin.
                                                                                                  
  1. Apa saja peran dari orang-orang rela merawat, dalam melakukan therapeutik ?
Peran dukungan dari keluarga dapat membantu mengurangi kecemasan saat proses persalinan dan bidan juga memiliki peranan yang penting dalam memberikan informasi dan penjelasan terhadap pertanyaan dan keluhan ibu, bidan juga memberikan bimbingan maupun arahan pada ibu sebelum menghadapi proses persalinan.
  
  1. Hambatan apa yang terjadi dalam melakukannya ?
Hambatan yang terjadi yaitu tingkat kecemasan ibu yang berbeda-beda, sehingga dalam melakukan proses therapeutik juga berbeda.

  1. Dampak apa saja yang menandakan bahwa klien mengalami pemulihan?
Setelah pelaksanaan komunikasi therapeutik 84,5% ibu nifas tingkat kecemasannya menjadi menjadi ringan dan hanya 5,4% tingkat kecemasannya menjadi sedang. Penelitian ini menunjukkan bahwa komunikasi therapeutik mempunyai pengaruh yang signifikan dalam menurunkan kecemasan klien.


Daftar Pustaka :
Yusnita, R. (2012). Hubungan komunikasi therapeutik bidan dengan kecemasan ibu bersalin di ruang kebidanan dan bersalin rumah sakit umum daerah kabupaten pidie. Jurnal Kesehatan Masyarakat. Banda Aceh. http://ejournal.uui.ac.id/jurnal/RITA_YUSNITA-54k-jurnal_rita_yusnita_2.pdf

Rabu, 06 Mei 2015

Psikoterapi Tugas II

TERAPI KELOMPOK

  1. Pengertian Terapi Kelompok
Terapi Kelompok adalah terapi yang mengobati pasien psikoneurotik dalam kelompok kecil (biasanya 6 sampai 8 orang). Terapi kelompok dilakukan untuk membentuk perubahan terhadap klien, khususnya perubahan perilaku di dalam kelompok. Perubahan diarahkan kepada segala bentuk perilaku atau kebiasaan dari klien yang dianggap tidak bisa diterima atau tidak diharapkan oleh kelompoknya. Orang-orang yang terlibat di dalamnya adalah orang-orang yang memiliki kemampuan untuk memberikan pengaruh terhadap klien. Mereka adalah orang yang terlatih dan terbiasa dengan kebiasaan-kebiasaan yang diharapkan oleh kelompoknya. Proses yang dilakukan dalam memberikan pengaruh adalah melalui interaksi yang dibangun di dalam kelompok. Partisipan (anggota yang sudah dilatih) mampu memberikan pengaruh yang kuat mengenai perilaku-perilaku yang diharapkan, sehingga klien mendapatkan pemahaman mengapa perilaku yang sudah menjadi kebiasaannya dianggap tidak diharapkan kelompok. Terapi ini lebih ekonomis dibandingkan dengan psikoterapi individual dan mempunyai keuntungan bagi pasien dengan kesulitan interpersonal dan sosial yang jelas.

  1. Cara Melakukan Terapi Kelompok
Tahap-tahap dalam melakukan terapi kelompok adalah:
a.       Tahap Intake
Tahap ini ditandai oleh adanya pengakuan mengenai masalah spesifik yang mungkin tepat dipecahkan melalui terapi kelompok. Kesadaran ini mungkin dihasilkan dari pengungkapan masalah oleh klien sendiri atau berdasarkan hasil dari menelaah situasi yang dialami klien oleh terapis. Tahap intake disebut juga sebagai tahap kontrak antara terapis dengan klien, karena pada tahap ini terdapat persetujuan dan komitmen antara terapis dan klien untuk melakukan kegiatan-kegiatan perubahan tingkah laku melalui terapi kelompok.
b.      Tahap Assesmen dan Perencanaan Intervensi
Pemimpin kelompok bersama dengan anggota kelompok mengidentifikasi permasalahan, tujuan-tujuan kelompok serta merancang rencana tindakan pemecahan masalah. Tahap ini tidaklah definitif, karena hakekat kelompok senantiasa berjalan secara dinamis sehingga memerlukan penyesuaian tujuan-tujuan dan rencana intervensi.
c.       Tahap Penyeleksian Anggota
Penyeleksian anggota harus dilakukan terhadap orang-orang yang paling mungkin mendapatkan manfaat dari keterlibatannya dalam kelompok. Faktor-faktor seperti usia, jenis kelamin, dan stasus sosial perlu dipertimbangkan dalam tahap ini. Minat dan ketertarikan individu terhadap kelompok juga penting diperhatikan, karena anggota yang memiliki perasaan positif terhadap kelompok akan terlibat dalam berbagai kegiatan kelompok secara teratur.
d.      Tahap Pengembangan Kelompok
Norma-norma, harapan-harapan, nilai-nilai dan tujuan-tujuan kelompok akan muncul dalam tahap ini sehingga dapat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh aktivitas serta relasi yang berkembang dalam kelompok. Oleh karena itu, pada tahap ini terapis memegang peranan penting untuk dapat membantu kelompok mencapai tujuan.
e.       Tahap Evaluasi dan Terminasi
Evaluasi merupakan proses yang dinamis dan berkelanjutan, karenanya evaluasi tidak selalu dilakukan pada tahap akhir suatu kegiatan. Evaluasi merupakan pengidentifikasian atau pengukuran terhadap proses dan hasil kegiatan kelompok secara menyeluruh bukan hanya keberhasilan kelompok yang dilakukan pada setiap phase. Berdasarkan hasil evaluasi, maka dilakukanlah terminasi atau pengakhiran kelompok. Terminasi dilakukan berdasakan pertimbangan dan alasan mengenai tujuan individu maupun kelompok tercapai, waktu yang ditetapkan telah berakhir, kelompok gagal mencapai tujuan-tujuannya, serta keberlanjutan kelompok dapat membahayakan satu atau lebih anggota kelompok.
                                                       
  1. Manfaat Terapi Kelompok
a.       Dapat meningkatkan identitas diri, kemampuan ekspresi diri, kepercayaan diri, kemampuan empati, dan keterampilan hubungan sosial yang dapat diterapkan untuk kehidupan sehari-hari.
b.      Dapat meningkatkan kesadaran tentang hubungan antara reaksi emosional diri sendiri dengan perilaku defensive dan adaptasi serta mampu membentuk sosialisasi.

Selain itu, terdapat faktor atau aspek yang berperan terhadap perubahan yang dialami individu dalam terapi kelompok (keuntungan terapi kelompok):
a.       Instilling hope (membangkitkan harapan) sebagian diperantarai dengan menemui yang lain yang dapat maju dengan masalahnya, dan dengan dukungan emosional yang dapat diberikan oleh kelompok.
b.      Universalitas merujuk pada pasien yang mulai menyadari bahwa bukan ia sendiri yang mempunyai masalah, dan bahwa perjuangannya adalah dengan membagi atau sedikitnya dapat dimengerti oleh orang lain.
c.       Imparting information (memberi informasi) dapat berkisar dari memberikan informasi tentang gangguan seseorang terhadap umpan balik langsung tentang perilaku orang dan pengaruhnya terhadap anggota kelompok lainnya.
d.      Altruisme dapat dialami karena anggota memberikan dukungan satu sama lain dan menyumbangkan ide mereka, bukan hanya menerima ide dari yang lainnya.
e.       Terdapat Corrective recapitulation of the primary family (rekapitulasi korektif dari keluarga primer) yang untuk kebanyakan pasien merupakan problematik. Baik terapis maupun anggota lainnya dapat menjadi resipien reaksi transferensi yang kemudian dapat dilakukan.
f.       Pengembangan keterampilan sosial lebih jauh dan kemampuan untuk menghubungkan dengan yang lainnya merupakan kemungkinan. Pasien dapat memperoleh umpan balik dan mempunyai kesempatan untuk belajar dan melatih cara baru berinteraksi.
g.      Identifikasi, Imitative Behavior (perilaku imitatif), dan modeling dapat dihasilkan dari terapis atau anggota lainnya memberikan model peran yang baik.

  1. Kasus-kasus yang Diselesaikan dalam Terapi Kelompok
-          Siswa yang mengalami kesulitan belajar.
-          Pecandu alkohol, obat-obatan terlarang dan rokok.
-          Kecemasan.
-          Frustasi, depresi dan halusinasi.
-          Untuk permasalahan emosional dan phobia.
-          Permasalahan isolasi sosial atau menarik diri.

  1. Cari dan Rangkum Satu Contoh yang Menggambarkan Terapi Kelompok
Dalam penelitian yang telah dilakukan oleh Hasriana, Nur, dan Angraini (2013) pada pasien di rumah sakit khusus daerah provinsi Sulawesi Selatan yang mengalami isolasi sosial atau menarik diri, dimana isolasi sosial adalah gangguan hubungan interpersonal yang terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel, sehingga menimbulkan perilaku maladaptif dan mengganggu fungsi seseorang dalam berhubungan yang bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh terapi aktivitas kelompok sosialisasi terhadap kemampuan pasien berinteraksi sosial.
Sebelum dilakukan terapi kelompok, semua responden kurang mampu berinteraksi sosial hal ini disebabkan karena tidak adanya tindakan atau stimulus yang dilakukan yang dapat mengubah pola perilaku yang maladaptive serta lingkungan yang kurang terapeutik seperti pasien yang terlalu banyak berada didalam ruang perawatan dan terkadang mendapatkan tekanan-tekanan dari sesama pasien.
Dari hasil penelitian yang ada, terdapat pengaruh terapi kelompok sosialisasi terhadap kemampuan pasien dalam berinteraksi sosial dan pasien yang sudah dilakukan terapi kelompok sebagian besar telah mampu bersosialisasi. Hal ini dikarenakan dalam proses terapi kelompok, pasien mendapatkan kesempatan untuk belajar cara berinteraksi sosial, yaitu memperkenalkan diri pada anggota kelompok, cara berkenalan dengan orang lain, bercakap-cakap dengan orang lain, dan melakukan kegiatan sehari-hari. Dengan melakukan kegiatan tersebut, pasien dilatih untuk tidak menarik diri dan pasien akan mampu melakukan interaksi dengan orang lain. Selain itu, dengan  bercakap-cakap maka akan terjadi distraksi yaitu fokus perhatian pasien akan beralih untuk dapat beraktivitas karena dengan beraktivitas klien tidak akan mengalami banyak waktu luang yang biasanya digunakan untuk menyendiri yang berakibat pasien menarik diri.



Daftar Pustaka:
Guze, B., Richeimer, S., & Siegel, D. J. (1997). Buku saku psikiatri. Jakarta: EGC.
Handout Psikoterapi oleh Erik S. Hutahaean.
Handout Psikoterapi oleh Rini Indryawati.
Hasriana., Nur M., & Angraini, S. (2013). Pengaruh terapi aktivitas kelompok sosialisasi terhadap kemampuan bersosialisasi pada klien isolasi sosial menarik diri di rumah sakit khusus daerah provinsi Sulawesi Selatan. Jurnal. 2, (6), 74-79.
Ingram, I. M., Timbury, G. C., & Mowbray, R. M. (1993). Catatan kuliah psikiatri. Jakarta: EGC.
Sarlito, S. W. (2009). Pengantar psikologi umum. Jakarta: Rajagrafindo Persada.

Suharto, E. (2007). Pekerjaan sosial di dunia industry: Memperkuat CSR (corporate social responsibility. Bandung: ALFABETA. 

Minggu, 29 Maret 2015

Psikoterapi Tugas I

Psikoterapi merupakan cabang dari ilmu psikologi yang mempelajari tentang cara-cara penanganan yang tepat berdasarkan pendekatan-pendekatan psikologis, dimana penanganan yang dilakukan adalah penanganan terhadap keadaan-keadaan psikologis yang dianggap dalam keadaan tidak baik yang dilakukan oleh tenaga-tenaga psikologi yang sudah terlatih dengan baik, yaitu tenaga yang mempunyai keahlian profesi psikologi, memiliki pemahaman terapi psikologis, dan mempunyai kewenangan bertanggung jawab terhadap proses psikoterapi. Psikoterapi diberikan kepada klien untuk tujuan memulihkan keadaan klien, meningkatkan kemauan klien untuk mengembangkan diri menjadi lebih positif. Pendekatan-pendekatan yang digunakan didalam psikoterapi adalah pendekatan yang sangat terkait dengan sudut pandang kajian psikologi, yaitu pendekatan dari psikoanalisa, pendekatan psikologi belajar atau behavioristik, pendekatan psikologi humanistik, dan pendekatan kognitif.

1.      Buatkan ulasan Anda mengenai:
A.    Pendekatan Psikoanalisa didalam Psikoterapi
Psikoanalisa merupakan metode terapi berdasarkan konsep Freud. Tujuan psikoanalisa adalah menyadarkan individu akan konflik yang tidak disadarinya dan mekanisme pertahanan yang digunakannya untuk mengendalikan kecemasan.
Teknik-teknik psikoterapi yang terdapat didalam psikoanalisa adalah:
a.       Asosiasi Bebas
Didalam asosiasi bebas, klien didorong untuk membebaskan pikiran dan perasaan serta mengucapkan apa saja yang ada didalam pikirannya tanpa penyuntingan atau penyensoran. Freud yakin bahwa ganjalan atau pengekangan diakibatkan oleh kendali tak sadar individu tersebut pada kawasan yang peka dan ini merupakan kawasan yang harus benar-benar dijajaki analisis.
b.      Penafsiran
Pakar psikoanalisa berupaya untuk mengatasi pengekangan atau ganjalan klien dan mendorong pemahaman diri yang lebih lengkap melalui penafsiran (interpretasi). Penafsiran biasanya mengambil satu dari dua bentuk. Pertama, terapis memperhatikan ganjalan yang terdapat didalam diri individu. Kedua, terapis dapat menyimpulkan sendiri apa hakikat dibalik pernyataan klien dan berupaya memberikan asosiasi selanjutnya. Jika penafsiran tepat pada waktunya, maka hal tersebut dapat mengisyaratkan asosiasi baru.
c.       Analisis Mimpi
Merupakan suatu prosedur yang penting yang menyingkap bahan-bahan yang tidak disadari dan memberikan kepada klien atas beberapa area masalah yang tidak terselesaikan.
d.      Transferensi
Merupakan teknik utama dalam psikoanalisa karena teknik ini mendorong klien untuk menghidupkan kembali masa lalunya dalam terapi.

B.     Pendekatan Psikologi Belajar didalam Psikoterapi
Psikologi belajar merupakan metode terapi berdasarkan konsep Ivan Pavlov dan Skinner yang beranggapan bahwa perilaku manusia merupakan hasil dari belajar. Tujuan dari pendekatan ini adalah mengubah perilaku maladaptif (tingkah laku yang tidak sesuai) dan menggantikannya dengan perilaku yang lebih adaptif (tingkah laku yang lebih sesuai).
Teknik-teknik psikoterapi yang terdapat didalam psikologi belajar adalah:
a.       Desentisisasi Sistematik
Merupakan suatu cara yang digunakan untuk menghapus tingkah laku yang diperbuat secara negatif dengan menyertakan pemunculan tingkah laku yang berlawanan dengan tingkah laku yang hendak dihapuskan.
b.      Latihan Asertif
Merupakan suatu cara yang digunakan untuk latihan mempertahankan diri akibat perlakuan orang lain yang menimbulkan kecemasan dengan cara mempertahankan hak dan harga dirinya.
c.       Terapi Aversi
Teknik ini digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk atau menghukum perilaku yang negatif dan memperkuat perilaku positif.
d.      Penghentian Pikiran
Teknik ini efektif digunakan untuk klien yang sangat cemas. Teknik ini terdiri atas pemunculan stimulus berkondisi secara berulang-ulang tanpa penguatan.

C.    Pendekatan Psikologi Humanistik didalam Psikoterapi
Psikologi humanistik berorientasi pada keunikan manusia dan pemahaman yang positif dan optimistis tentang kepribadian manusia serta memusatkan perhatian pada kecenderungan alami seseorang akan pertumbuhan dan perwujudan diri. Tujuan dari pendekatan ini adalah mengembalikan klien kepada kehidupan perasaan dan mendorongnya untuk menemukan feeling-self nya yang asli, serta memperlancar pengkajian pikiran dan perasaan seseorang dan membantunya untuk memecahkan masalahnya sendiri.
Teknik-teknik psikoterapi yang terdapat didalam psikologi humanistik adalah:
a.       Terapis haruslah seorang yang kongruen dan terintegrasi dalam relasinya. Artinya, terapis harus mampu memiliki kepribadian untuk menampilkan diri yang asli, sehingga klien benar-benar merasa diterima sebagai pribadi apa adanya.
b.      Adanya pemberian penghargaan positif tanpa syarat kepada klien oleh terapis. Penghargaan ini merupakan perwujudan dari kepercayaan dasar sehingga dapat menciptakan rasa aman, iklim yang hangat, penuh kasih sayang dan kondusif bagi perubahan kepribadian klien.
c.       Kemampuan terapis untuk memahami secara empatik pengalaman klien. Memahami secara empatik hakikatnya adalah berada pada kondisi yang sama dengan pribadi klien dalam rangka penyadaran dan perubahan pribadi klien.

D.    Pendekatan Psikologi Kognitif didalam Psikoterapi
Psikologi kognitif merupakan metode terapi yang berdasarkan dari pemikiran “apa yang mengganggu jiwa manusia bukanlah peristiwa-peristiwa, tetapi bagaimana cara manusia itu bereaksi atau berprasangka terhadap peristiwa-peristiwa tersebut.” Tujuan dari pendekatan ini adalah membantu klien untuk merubah atau melepaskan kepercayaan yang salah dan menyimpang sehingga klien dapat berfikir lebih rasional dan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.

2.      Uraikanlah kasus apa saja yang bisa ditangani dengan pendekatan:
A.    Psikodinamik
Hye adalah seorang wanita berumur 30-an. Sampai usia yang sekarang, ia sama sekali tidak pernah menjalin hubungan dengan lawan jenisnya. Setiap kali ada lelaki yang mendekatinya, ia tidak segan-segan untuk menolak keberadaan lelaki tersebut. Setelah ditelusuri apa penyebabnya, ternyata saat ia berumur belasan ia pernah melihat dan memergoki ayahnya sedang berselingkuh dari ibunya. Karena hal tersebut, ia menganggap bahwa semua lelaki sama saja pasti akan berkhianat dan melakukan perselingkuhan.

B.     Behavioristik
Park adalah seorang mahasiswi yang sangat takut pada kecoak. Semua yang berhubungan dengan kecoak dia sangat membencinya. Park akan menjerit, panik dan sesegera mungkin lari apabila ia melihat kecoak walaupun kecoak tersebut berada sangat jauh dari dirinya. Tak hanya itu, apabila Park melihat gambar maupun mainan yang berbentuk kecoak ia seketika akan merinding dan refleks menjerit.

C.     Humanistik
Jae adalah seorang pelajar yang sangat aktif disekolahnya dan prestasinya pun sangat baik. Semua temannya selalu meminta tolong kepadanya jika ada tugas sekolah. Namun Jae tidak bisa mengatakan “tidak” pada setiap temannya yang meminta pertolongan kepadanya. Sampa suatu hari Jae mendengar teman-temannya mengatakan bahwa mereka memiliki waktu yang banyak untuk bermain, mereka juga mengatakan bahwa Jae bodoh karena mau saja mereka suruh untuk mengerjakan tugas-tugas mereka. Mendengar hal itu Jae sebenarnya marah dan sangat membenci teman-temannya namun Jae tetap saja menolong teman-temannya karena Jae berkata pada dirinya sendiri bahwa wajar saja ia melakukan hal tersebut karena mereka adalah temannya dan sangat wajar jika Jae menolong mereka. Namun seiring berjalannya waktu, Jae sering ditegur oleh gurunya karena prestasinya sangat menurun karena Jae terlalu sibuk mengerjakan tugas-tugas temannya.

D.    Kognitif
Yuna sedang tidak senang hatinya, karena dalam perjalanan pulang dari kantornya dia harus berganti kendaraan dua kali. Pada bus pertama, keadaan bus sedang penuh dan tidak ada lagi kursi kosong. Namun ada seorang pemuda yang bersimpatik kepadanya dan memberikan tempat duduknya kepada Yuna. Pada bus kedua, keadaan bus tersebut penuh juga dan tidak ada lagi kursi kosong, namun bedanya di bus yang kedua tidak ada pemuda yang bersedia memberikan tempat duduk untuknya, sehingga Yuna harus berdiri berdesakkan didalam bus sehingga ia tidak berhenti-hentinya mengeluh. Dia berpikir bahwa semua orang di kotanya tidak ada yang sopan dan bersikap ramah terhadap seorang wanita. Semua penumpang hanya mementingkan dirinya sendiri tidak mementingkan orang lain.

3.      Berikan pandangan Anda mengapa kasus-kasus tersebut Anda anggap bisa ditangani oleh pendekatan:
A.    Psikodinamik
Berdasarkan contoh kasus diatas, maka kasus tersebut dapat ditangani dengan menggunakan pendekatan psikoanalisa karena perilaku klien yang sekarang muncul dikarenakan dari pengalaman masa lalu yang ia alami. Proses terapi yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan teknik asosiasi bebas dimana terapis mendorong klien untuk membebaskan pikiran dan perasaannya serta mengucapkan sebebas-bebasnya apapun yang berada dipikiran klien tanpa perlu menyuntingnya.

B.     Behavioristik
Berdasarkan contoh kasus diatas, maka kasus tersebut dapat ditangani dengan menggunakan pendekatan behavioristik tepatnya menggunakan teknik desensitisasi sistematik. Mula-mulanya terapis dapat memberikan gambar kecoak terlebih dahulu kepadanya, setelah itu melakukan relaksasi dan begitu seterusnya sampai klien tidak merasa takut pada gambar kecoak. Lalu terapis memberi mainan yang berbentuk seperti kecoak dan setelahnya kembali diberikan relaksasi sampai klien berani dengan untuk memegang mainan tersebut. Tahap selanjutnya, klien diberikan kecoak asli, setelah itu klien kembali diberikan relaksasi dan begitu seterusnya sampai akhirnya klien tidak takut lagi dengan kecoak.

C.     Humanistik
Berdasarkan contoh kasus diatas, maka kasus tersebut dapat ditangani dengan menggunakan pendekatan humanistik karena terapis mendorong klien untuk menjadi dirinya sendiri. Dimana pada kasus tersebut klien tidak berani untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya ia rasakan sampai akhirnya justru malah merugikan dirinya sendiri. Terapis harus dapat memberi dorongan kepada klien agar klien dapat mengungkapkan dan menemukan perasaan dan dirinya yang sebenarnya.

D.    Kognitif
Berdasarkan contoh kasus diatas, maka kasus tersebut dapat ditangani dengan menggunakan pendekatan kognitif karena pendekatan kognitif bertujuan untuk membantu klien merubah atau melepaskan kepercayaan yang salah dan menyimpang sehingga klien dapat berfikir lebih rasional dan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Proses terapi yang dapat dilakukan adalah dengan cara memberitahukan kepada klien untuk melihat sisi positif dari setiap keadaan, pada contoh kasus diatas klien akan senang hatinya apabila ia lebih mengingat dan memperhatikan pemuda yang bersimpatik yang menyerahkan kursi duduk di bus kepadanya dibandingkan dengan keadaan dia saat berada di bus kedua.



Sumber:
-          Atkinson, Rita L, Richard C.A, & Ernest R.H. (1853). Pengantar psikologi: edisi kedelapan. Jakarta: Erlangga.
-          Gunarsa, S. D. (2012). Konseling dan psikoterapi. Jakarta: Libri.
-          Kahija, YF La. (2007). Hipnoterapi: Prinsip-prinsip dasar praktik psikoterapi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
-          Indryawati, R. (2005). Terapi kognitif. Tersedia: http://indryawati.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/21334/Terapi+Kognit%09if.doc
-          Selvera, N.R. (2013). Teknik asosiasi bebas dan psikoedukasi untuk mengenali gejala penderita skizofrenia paranoid. Procedia Studi Kasus dan Intervensi Psikologi, 1, 1-6.
-          Sanyata, S. (2012). Teori dan aplikasi pendekatan behavioristik dalam konseling. Jurnal Paradigma, 14, 1-11.
-          Tirtojiwo. (2012). Terapi kognitif dan perilaku untuk penderita depresi
-          Handout Psikologi Konseling oleh Nurul Qomariyah.
-          Handout Psikoterapi oleh Erik Saut H.