Selasa, 27 Januari 2015

Tugas 3 Psikologi Manajemen

1.      Analisa Peranan Konflik Dalam Mengembangkan Manajemen di Perusahaan
Konflik adalah ekspresi pertikaian individu satu dengan individu lainnya karena berbagai macam alasan. Menurut Taquiri (dalam Newstrom dan Davis, 1977) konflik merupakan warisan kehidupan sosial yang bileh berlaku dalam berbagai keadaan akibat dari adanya keadaan ketidaksetujuan, kontroversi dan pertentangan diantara dua pihak atau lebih secara terus-menerus. Konflik dapat diekspresikan secara verbal maupun non verbal melalui raut muka serta gerakan badan yang mengekspresikan pertentangan. Salah satu faktor penyebab timbulnya konflik adalah buruknya komunikasi. Buruknya hubungan antar pribadi dan ketidakjelasan struktur organisasi misalnya ketika seseorang tidak mendapatkan imbalan yang sesuai dengan pengorbanan yang sudah dikeluarkannya atau ketika sebuah departemen tidak dapat dihargai hasil kerjanya oleh departemen lain. Konflik dapat memiliki peranan dalam mengembangkan manajemen di perusahaan tetapi itu tergantung dari bagaimana cara mengelola konflik yang ada oleh manajemen di perusahaan tersebut. Namun apabila konflik yang ada tidak diselesaikan dengan baik maka cepat atau lambat akan membuat menurunnya manajemen di perusahaan dan akan berdampak pada menurunnya kinerja di perusahaan. Tidak semua konflik dapat berakibat buruk. Ada beberapa konflik yang justru membuat perusahaan berkembang karena para karyawan yang sudah merasakan konflik dapat belajar untuk menjadi lebih baik berdasarkan pengalaman dari adanya konflik yang sudah terjadi. Akibat positif yang dapat ditimbulkan dari konflik, yaitu organisasi menjadi lebih dinamis, sebagai pengalaman berharga, pimpinan dapat lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan, melahirkan pribadi yang kreatif, kritis dan inovatif, serta menumbuhkan sikap toleransi.
Contoh Kasus :
Sebuah perusahaan pertambangan memiliki banyak masalah yang terjadi terkait dengan hubungan dengan kepegawaian diantaranya banyak karyawan yang pindah kerja. Terkadang mempekerjakan karyawan baru juga dapat menjadi masalah, karena karyawan baru tersebut harus mulai mempelajari segala sesuatu dari awal dan hal tersebut dapat menjadi masalah besar ketika perusahaan sedang mendapatkan permintaan pengiriman tenaga kerja. Selain itu, permasalahan yang terjadi adalah upah atau gaji yang seringkali dinilai terlalu rendah atau tidak sesuai dengan kinerja yang diberikan oleh atasannya. Terakhir, yang menjadi konflik selanjutnya adalah terjadinya konflik antara expatriate atau staff asing yang di tempatkan oleh perusahaan yang menjalin kerja sama dengan perusahaan tersebut dengan karyawan setempat. Beberapa karyawan mengaku bahwa terkadang perbedaan budaya yang ada yang seringkali menjadi alasan munculnya kesalahpahaman.
Penyelesaian Kasus :
Permasalahan yang ada semua bersumber dari rendahnya gaji karyawan sehingga membuat karyawan menjadi tidak memiliki rasa tanggung jawab dan mudah untuk tergoda dengan penawaran kerja di tempat lain yang menawarkan gaji dan tunjangan yang lebih tinggi daripada perusahaan yang sedang mereka tempati. Namun perusahaan tidak harus selalu menaikkan gaji para karyawan tetapi dapat digantikan dengan memberikan kebebasan kepada karyawan untuk dilibatkan dalam pengambilan keputusan pekerjaan sehingga ia merasa memiliki wewenang dan tanggung jawab atas pekerjaannya sendiri. Selain itu perusahaan juga dapat memberikan fasilitas kepada karyawan yaitu jaminan kesehatan maupun pendidikan untuk karyawan yang sudah memiliki anak. Untuk menyelesaikan konflik antara expatriate atau staff asing dengan karyawan setempat dapat dilakukan dengan cara mempersiapkan penataran atau pelatihan untuk para staff asing maupun karyawan setempat dengan menjelaskan mengenai perbedaan budaya, karakteristik, etika dari masing-masing budaya agar dapat meminimalisirkan konflik yang mungkin akan terjadi.

2.      Peranan Kepemimpinan Untuk Mengatasi Konflik Struktural dan Konflik Fungsi Kerja yang Terjadi Didalam Sebuah Sistem Manajemen di Perkantoran
Konflik struktural adalah konflik yang terjadi yang erat kaitannya dengan hierarki jabatan pekerjaan. Sedangkan konflik fungsi kerja adalah konflik yang muncul karena suatu departemen kerja berinteraksi dengan departemen kerja lainnya, dimana antar departemen memiliki pemahaman yang berbeda untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Peranan kepemimpinan adalah seperangkat perilaku yang diharapkan dilakukan oleh seorang sesuai dengan kedudukannya sebagai seorang pemimpin.  Pemimpin memiliki peranan yang sangat penting dan kuat dalam mengatasi konflik struktural dan konflik fungsi kerja yang terjadi didalam sebuah sistem manajemen di perkantoran. Oleh karena itu peranan kepemimimpinan untuk mengatasi konflik sangatlah dibutuhkan untuk dapat memberikan kemajuan bagi perusahaannya. Dalam mengatasi konflik yang terjadi, pemimpin harus terlebih dahulu memahami sebab-sebab yang membuat konflik itu terjadi baik sebab dari luar maupun dari dalam. Masing-masing pemimpin memiliki cara yang berbeda dalam menangani konflik yang terjadi. Pola kepemimpinan otokratik merupakan pola kepemimpinan dimana seorang pemimpin bertindak sebagai penguasa dan semua kendali berada ditangannya. Pola kepemimpinan demokratik merupakan pola kepemimpinan yang memberikan wewenang secara luas pada bawahan. Sedangkan pola kepemimpinan permisif (laissez-faire) merupakan pola kepemimpinan dimana pemimpin berusaha membiarkan bawahannya melakukan tugas pekerjaannya tanpa ada pengawasan dari dirinya. Pola kepemimpinan yang dimiliki oleh para pemimpin akan berpengaruh dengan cara mereka dalam mengatasi konflik. Menurut Wahjosumidjo (1994), peranan kepemimpinan ditekankan kepada sederetan tugas-tugas apa yang perlu dilakukan oleh setiap pemimpin dalam hubungannya dengan bawahan. Peranan kepemimpinan menurut H.G Hicks dan C.R Gullet, yaitu bersikap adil (arbitrating), memberikan sugesti (suggesting), mendukung tercapainya tujuan (suplaying objectives), katalisator (catalysing), menciptakan rasa aman (providing security), sebagai wakil organisasi (representing), sumber inspirasi (inspiring), bersikap menghargai (praising).
Contoh Kasus :
Pada tahun 1998, tanda-tanda jatuhnya sebuah perusahaan manufaktur yang bergerak dibidang otomotif raksasa di Jepang semakin nampak jelas. Para petinggi perusahaan tersebut sudah tidak berdaya menghadapi persaingan bisnis saat itu, ditambah lagi adanya timbunan hutang yang menggunung sekitar puluhan miliar US Dollar. Namun perusahaan Perancis membeli 37% saham dengan syarat menempatkan salah satu utusan dari perusahaan Perancis tersebut untuk dijadikan CEO. CEO baru tersebut segera menentukan langkah kunci yang terdiri dari tiga langkah. Langkah awal ialah membangun kepercayaan bangkit untuk berubah pada setiap pekerja di saat darurat itu. Perubahan yang dilakukan harus berdasarkan visi ke depan untuk menembus pasar global masa depan, serta penerapan yang tegas atas strategi-strategi perusahaan yang telah disusun. Langkah kedua, CEO menyusun dua strategi dalam suatu rencana, yaitu segera melakukan revitalisasi produk-produk baru dengan merekrut desainer mobil ternama di Jepang dan melakukan efisiensi biaya sebesar-besarnya dengan menutup pabrik-pabrik operasional yang dianggap kurang begitu mendesak, dan pengalihan operasional untuk lebih terfokus pada operasional sentral. Langkah ketiga untuk menyempurnakan tahapan strateginya ialah membentuk tim inti yang langsung dipimpin olehnya. Tugas tim inti sangan jelas dan tegas, yaitu memastikan bahwa Recovery Plan dapat diimplementasikan secara optimal. Bagaimana pun sempurnanya rencana yang disusun harus disertai implementasi yang tegas. Di sini letak vital peran CEO tersebut untuk kembali mengangkat kebesaran perusahaan manufaktur tersebut di pasar otomotif global. Kerja keras dalam misi yang hampir mustahil itu berbuah manis pada tahun 2001 dan tahun-tahun berikutnya. Sang raksasa telah bangkit dengan menunjukkan prestasi demi prestasi. Tahun 2005 dan 2007 produk andalannya menjadi primadona di pasar global. Kini perusahaan tersebut dapat mengibarkan kejayaannya di pentas global.
Penyelesaian Kasus :
Penempatan pimpinan baru diperusahaan tersebut merupakan solusi yang benar saat perusahaan tersebut sedang dalam kondisi keterpurukan karena pemimpin perusahaan yang baru tersebut berhasil menemukan solusi untuk keluar dari masa-masa keterpurukan. dengan cara membangun kepercayaan bahwa mereka dapat bangkit kepada setiap pekerja, menyusun strategi untuk melakukan revitalisasi produk-produk baru agar publik dapat tertarik dengan produk perusahaan tersebut, menutup pabrik-pabrik yang dianggap kurang berpengaruh terhadap pemasukan perusahaan. Bentuk solusi yang digunakan oleh CEO perusahaan tersebut sesuai dengan beberapa peranan kepemimpinan yang dikemukakan oleh H.G Hicks dan C.R Gullet, yaitu memberikan sugesti (suggesting), mendukung tercapainya tujuan (suplaying objectives), sumber inspirasi (inspiring), bersikap menghargai (praising). Jadi peran kepemimpinan sangat vital dalam strategi perusahaan menghadapi masa krisis dengan visi ke depan sebagai arah perusahaan disertai dengan penerapan yang tegas untuk kembali meraih keunggulan bisnis. Selain itu, pola kepemimpinan yang dimiliki pemimpin tersebut adalah pola kepemimpinan otokratik dimana ia bertindak sebagai penguasa dan semua kendali berada ditangannya.

3.      Praktek Dehumanisasi yang Muncul Dalam Praktek-Praktek Manajemen
Dehumanisasi merupakan suatu tindakan yang kurang manusiawi dalam memberikan suatu perlakuan tertentu kepada orang lain. Bentuk yang paling mudah dikenali adalah tindakan kasar dan keras kepada pekerja. Tindakan ini mencederai rasa seseorang untuk menjalankan pekerjaannya dengan penuh rasa nyaman, sehingga menjadi sulit untuk berkonsentrasi dalam bekerja. Selain masalah tindakan keras dan kasar, masih banyak tindakan lainnya yang terjadi di dalam lingkungan sosisal-psikologis di dalam lingkungan kerja, yaitu prejudis (suatu respon emosi yang negatif terhadap beberapa orang tertentu berdasarkan penilaian yang negatif berdasarkan jenis kelamin, latar belakang budaya, dan lain-lain), diskriminasi (penerapan tindakan kepada seseorang yang sifatnya tidak adil, sehingga memumculkan adanya perlakuan yang berbeda pada diri pekerja meskipun dalam suatu lingkup variabel kerja yang sama) dan agresi (tindakan yang muncul secara sengaja dan tidak disengaja untuk menyerang orang lain sebagai reaksi balasan atas tindakan yang orang lain tampilkan dalam bentuk agresi kata-kata dan agresi tindakan fisik).
Contoh Kasus:
1.      Seorang pekerja wanita dipecat perusahaan tempatnya bekerja (perusahaan jasa) lantaran menolak menanggalkan jilbab yang dikenakannya saat bekerja. Padahal dirinya telah bekerja di tempat tersebut selama 8 tahun. Menurut laporan BBC News, tindakan ini dipicu oleh tragedi 11 September 2001 adanya pesawat yang menabrak WTC di Amerika Serikat.
2.      Terjadinya kasus perbudakan terhadap buruh diperusahaan manufaktur, dimana para buruh dilakukan seperti binatang pada saat bekerja. Ketika baru saja datang, para buruh sudah digeledah, telepon seluler dan pakaian mereka pun segera diambil dan disuruh langsung bekerja. Keadaan diperusahaan tersebut sangat tidak wajar dan tidak manusiawi serta memprihatinkan. Selain itu buruh tidur ditempat yang kondisinya pengap dan bau.
Pelanggaran:
1.      Pelanggaran dehumanisasi yang terjadi di perusahaan jasa tersebut adalah tindakan prejudis. Karena menganggap wanita yang berjilbab merupakan anggota dari kelompok teroris yang terlibat dalam tragedi 11 September 2001 di Amerika Serikat.
2.      Pelanggaran dehumanisasi yang terjadi di perusahaan produk tersebut adalah tindakan kasar dan keras kepada pekerja. Karena atasan memperlakukan para buruh dengan sewenang-wenang secara sengaja dan agresi. Tindakan ini dapat mencederai rasa seseorang untuk menjalankan pekerjaannya dengan penuh rasa nyaman, sehingga menjadi sulit untuk berkonsentrasi dalam bekerja. Hal ini bertolak belakang dengan hak yang harusnya didapatkan oleh para pekerja yang sesuai dengan Undang-Undang Dasar 45 Pasal 28H yang berbunyi ”Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan”.

 Referensi:
Sunarta. (2010). Konflik Dalam Organisasi (Merugikan Sekaligus Menguntungkan). Yogyakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar